AIRMATA RASULULLAH SAW...
31 Desember 2009
Hati-hati berbicara dan menulis kata-kata….ALLAH kuasa membalasnya seketika itu juga
Kisah 1 : Lelaki Keledai
Kisah ini terjadi di Universitas ?Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan diekspos oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana.
Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas Mesir, berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!.".
Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Menit demi menit pun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit keenampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, sang mahasiswa ini berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan sembari berkata kepada rekan-rekannya, "Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?."
Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan syaithan sehingga beranggapan, "Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu." Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.
Sementara si mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil ?aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab.
Dia masuk rumah, dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. Karenanya, sang anak ini bergegas sebentar ke ?Wastapel? di dapur. Dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue. Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba dia terjatuh dan tersungkur di situ, lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.
Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya!!.
Mengenai hal ini, Dr.?Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah- berkata, "Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!.".
Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati ?!!!.
(Sumber: Majalah "al-Majallah", volume bulan Shafar 1423 H sebagai yang dinukil oleh Ibrahim bin ?Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya "Nihâyah azh-Zhâlimîn", Seri ke-9, h.73-74)
Kisah 2 : Wanita celaka….Ketika Allah mengabulkan permintaan ?vila?nya di neraka….
Kisah ini ditulis oleh redaksi majalah Al-Manar, Mesir. Ia mengisahkan, "Musim panas merupakan ujian yang cukup berat bagi seorang muslimah. Ia dituntut untuk tetap mempertahankan pakaian kesopannanya. Gerah dan panas tak lantas menjadikan mereka menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan jilbab, kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki manfaat multi fungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari kairo ke Alexandria, di sebuah mikrobus, ada seorang gadis muda yang berpakaian kurang layak untuk di deskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan.
Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja, cara berpakaiannya mengundang "perhatian" orang didalam mikrobus tersebut.
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa cara berpakaiannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tidak baik bagi dirinya sendiri. Di samping mengingatkan bahwa cara berpakaian seperti itu melanggar aturan syar?i. Orang tua tersebut berbicara agak hati-hati dan pelan-pelan, sebagaimana layaknya seorang bapak berbicara kepada anaknya.
Tapi apa respon perempuan muda tersebut ? rupanya dia tersinggung lalu ia mengekspresikan kemarahannya dengan berkata, "Jika memang bapak mau, ini ponsel saya, tolong pesankan saya tempat di neraka tuhan anda !" Orang tua tersebut hanya bisa beristighfar sembari mengelus dadanya; kasihan nian gadis itu, semoga Allah memberinya hidayah.
Detik-detik berikutnya suasana begitu senyap, penumpang mikrobus mulai terlelap dalam kantuk.
Hingga sampailah perjalanan di ujung tujuan. Kini para penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi terhalangi oleh perempuan muda itu yang masih terlihat tidur.
"Bangunkan saja !" teriak seorang penumpang.
"Iya bangunkan saja" teriak penumpang lainnya.
Tapi perempuan muda tersebut tetap bungkam. Salah seorang penumpang lain mencoba mendekati si perempuan muda tersebut dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah.
Namun Astaghfirullahal ?Azhim ! Apakah yang terjadi ? ternyata perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi, ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan NERAKA.
Kontan seisi Mikrobus berucap Istghifar sembari menggeleng-gelengkan kepala. Sebuah akhir kehidupan yang menakutkan; mati dalam keadaan menantang ALLAH. Apakah Allah langsung memenuhi permintaan ?vila?nya untuk tinggal di neraka sana ????
====
Keremajaanmu menyegarkan pandangan,
dan melimpahkan nyaman pada malam.
Dengan keremajaanmu,
kau bisa saja menaklukan dunia
dalam lupa dan luka tanpa kesadaran.
Ingatlah, kau bukan dilahirkan
sebagai penggoda yang menaklukan dunia.
Kesegaran dan kejelitaanmu adalah fana belaka.
Kelembutan yang menghiasi
gerak langkah dan bentuk tubuhmu
bakal menyaksikan kau cepat terjerumus
kepada bahaya dan kemaksiatan.
Peliharalah keindahan yang kau miliki
karena Allah mengujimu dengan
menerbitkan kau pada bentuk
yang teramat indah, halus dan sempurna.
Berhati-hatilah karena sesungguhnya
kaum Adam akan menilaimu dengan
pandangan yang luar biasa.
Cahaya keriangan di wajahmu
adalah kilauan senjatayang menawan.
Madu yang menitiskan sarinya
meresapkan manisnya
dari bibir langsung ke hati
adalah suaralembut sang gadis.
Elokkanlah nada suaramu
dan perlahankan gema bahasamu.
Berhati-hatilah menggunakan lidahmu,
jangan sampai bibirmu menutur
bait-bait tajam yang akan menyakiti hati orang lain.
Fikirlah dengan akalmu sebelum bersuara
dan pandanglah teman bicara.
Tertib dan sopanmu bagai
hembusan angin yang menyamankan,
yang bakal ditanggapi menyamai
keindahan yang kau miliki sebanding dengan
ketulusan peribadimu.
By:Insan Kamil
--------------------
====
Lelaki itu merangkul Nabi. Membekap badan dan membenamkan wajahnya ke wajah Nabi yang ditembus anak panah. Tak ada rasa pedulinya terhadap keselamatan diri, walau berpuluh anak panah menghujam dan kelebat pedang kaum kafir Quraisy terus menyapih batang tubuhnya. Di tengah perang Uhud yang berkecamuk itu, ia tersenyum. Menyunggingkan senyum keikhlasan seorang syuhada, untuk pelan-pelan kemudian roboh. Roboh menemui Robb-nya, sebagai tentara di samping Rosululloh yang mulia.
Untuk lelaki itu Rosululloh bersabda : "Siapa yang ingin melihat darahku bercampur dengan darahnya, lihatlah Malik bin Sinan, ia telah menebus dirinya dengan badan dan jwanya."
Lelaki itu memang Malik bin Sinan r.a. Seorang sahabat yang paling miskin di antara sekian banyak sahabat. Pernah dilukiskan pada suatu hari beliau pulang ke rumah dengan tangan kosong, tanpa dirham dan segenggam makanan. Segala sesuatu dicukupinya hanya dengan sisa-sisa makanan yang ada. Tanpa harus merepotkan sahabat yang lain. Konon kejadian itu berlangsung beberapa hari, sampai Rosululloh SAW mendengar dan memberikan bantuan.
Adalah Bilal bin Rabbah, seorang budak dari negeri hitam Habsyi, kurus, berambut tebal, dan berjambang tipis. Tetapi Umar bin Khattab memberikan gelar "Pemimpin Kita" kepadanya. Bahkan Rosululloh SAW sendiri pernah menyataksn ia sebagai "seorang laki-laki penduduk sorga".
Adalah Abdullah bin Mas’ud, sahabat nabi yang berperawakan kecil, kurus, miskin, dan bukan keturunan bangsawan. Tapi memiliki kedudukan yang istimewa dan dipercaya Rosululloh. Sampai-sampai ketika sahabat menertawakan betisnya yang kecil dan ’ramping’ saat ia memanjat pohon, Rosululloh berkata: "Tuan-tuan menertawakan betis Ibnu Mas’ud... (tapi ketahuilah) keduanya di sisi Alloh lebih berat timbangannya dari bukit Uhud."
Mengapa, mengapa para sahabat yang miskin dan bukan public figure tersebut demikian istimewa kedudukannya dalam sejarah Islam? Mengapa Malik bin Sinan yang sering kelaparan itu kokoh memeluk semangat jihadnya? Meski ia bisa saja mohon ’balik jasa’ dengan Rosul. Mengapa Bilal, seorang budak begitu tinggi tempatnya dalam sejarah pertumbuhan Islam? Mengapa Abdulllah bin Mas’ud begitu disayang oleh Rasulullah?
Hal ini tidak lain karena ’izzah (harga diri) mereka yang tinggi sebagai seorang muslim. Bukankah Malik bin Sinan yang memagari diri Rosululloh dari incaran anak panah dan dencing pedang kaum Quraisy, sementara di punggungnya telah bersijajar puluhan anak panah, tapi ia tetap melindungi Rasulullah?
Bilal bin Rabbah yang dipanggang di tengah panas gurun pasir, ditindih batu besar dan didera oleh Umayyah bin Khalaf, tetapi dari bibirnya tidak lekang ucapan kalimat syahadat.
Bukankah juga Abdullah bin Mas’ud yang dipukuli orang-orang Mekkah karena dari mulutnya berkumandang ayat-ayat Al Qur’an. la pingsan dan begitu siuman ia langsung membaca Al Qur’an kembali. Dihajar lagi, pingsan lagi, bangkit dan membaca Al Qur’an lagi.
Lantas, mengapa orang-orang itu sanggup berbuat sedemikian rupa? Mengorbankan segala sesuatu yang dimilikinya demi keyakinan yang telah menghujam ke dalam dada dan perilakunya sehari-hari. Tak hanya harta dan tenaga, namun raganya sekalipun sanggup mereka korbankan. Ya, mereka inilah para kader-kader tangguh hasil gemblengan Rosululloh pada jamannya. Hati mereka menjadi bersinar dengan cahaya Islam. Cahaya itu tidak semata-mata diturunkan Alloh ke dalam hati mereka. Tapi butuh proses. Mereka belajar dan menerima pelajaran dari Rosululloh. Pelajaran tentang betapa agungnya dan terhormatnya Islam.
Sementara pesona ’izzah akan hadir di tengah umat manakala ia menyadari bahwa sumber segala sesuatu adalah Alloh SWT. Ikatan gantungan hidupnya hanya satu yaitu Alloh SWT. Dari sinilah berhembus segala kemuliaan dan keberkahan.
"... padahal kekuatan itu hanyalah bagi Alloh, bagi Rosul-Nya dan bagi orang-orang mu’min ..."
(QS. 063 : 008)
Dengan sikap ini seorang muslim mampu mematut dirinya di hadapan manusia sesuai kehendak Kholiqnya. Standar menilai dan menimbang segala kebaikan dan keburukan datangnya dari Alloh. Inilah sikap yang dicontohkan oleh Bilal, Malik bin Sinan, dan oleh generasi "Khoiru Ummah" yang lain. Hanya ada satu neraca, yaitu neraca Alloh SWT.
Wallohu’alam bish showab
====
MEMPRIORITASKAN PERSOALAN YANG RINGAN DAN MUDAH
ATAS PERSOALAN YANG BERAT DAN SULIT
DI ANTARA prioritas yang sangat dianjurkan di sini, khususnya
dalam bidang pemberian fatwa dan da’wah ialah prioritas
terhadap persoalan yang ringan dan mudah atas persoalan yang
berat dan sulit.
Berbagai nash yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw
menunjukkan bahwa yang mudah dan ringan itu lebih dicintai
oleh Allah dan rasul-Nya.
Allah SWT berfirman:
“… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu…” (al-Baqarah: 185)
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan
manusia dijadikan bersifat lemah.” (an-Nisa’: 28)
“… Allah tidak hendak menyulitkan kamu…”
(al-Maidah: 6)
Rasulullah saw yang mulia bersabda,
“Sebaik-baik agamamu ialah yang paling mudah
darinya.”1
“Agama yang paling dicintai oleh Allah ialah yang
benar dan toleran.”2
‘Aisyah berkata,
“Rasulullah saw tidak diberi pilihan terkadap dua
perkara kecuali dia mengambil yang paling mudah di
antara keduanya selama hal itu tidak berdosa. Jika hal
itu termasuk dosa maka ia adalah orang yang paling
awal menjauhinya.”3
Nabi saw bersabda,
“Sesungguhnya Allah menyukai bila keringanan yang
diberikan oleh-Nya dilaksanakan, sebagaimana Dia
membenci kemaksiatan kepada-Nya.”4
Keringanan (rukhshah) itu mesti dilakukan, dan kemudahan yang
diberikan oleh Allah SWT harus dipilih, apabila ada kondisi
yang memungkinkannya untuk melakukan itu; misalnya karena
tubuh yang sangat lemah, sakit, tua, atau ketika menghadapi
kesulitan, dan lain-lain alasan yang dapat diterima.
Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa dia melihat Rasulullah
saw sedang dalam suatu perjalanan, kemudian beliau menyaksikan
orang ramai mengerumuni seorang lelaki yang dipayungi,
kemudian beliau bersabda, “Apa ini?” Mereka menjawab: “Dia
berpuasa.” Beliau kemudian bersabda,
“Tidak baik berpuasa dalam perjalanan.”5
Yakni di dalam perjalanan yang amat menyulitkan ini.
Dan jika perjalanan itu tidak menyulitkan, maka dia boleh
melakukan puasa; berdasarkan dalil yang diriwayatkan oleh
‘Aisyah bahwa Hamzah bin Amr al-Aslami pernah berkata kepada
Nabi saw: “Apakah aku boleh puasa dalam perjalanan?” Hamzah
adalah orang yang sering melaksanakan puasa. Karenanya Nabi
saw bersabda, “Jika kamu mau, maka berpuasalah, dan jika kamu
mau berbukalah.”6
Khalifah Umar bin Abd al-Aziz pernah berkata mengenai puasa
dan berbuka di dalam perjalanan, juga tentang perbedaan
pendapat yang terjadi di kalangan fuqaha, manakah di antara
kedua hal itu yang paling baik. Dia berkata, “Yang paling baik
ialah yang paling mudah di antara keduanya.” Hal ini merupakan
pendapat yang boleh diterima. Di antara manusia ada yang
melaksanakan puasa itu lebih mudah daripada dia harus membayar
hutang puasa itu ketika orang-orang sedang tidak berpuasa
semua. Tetapi ada orang yang berlawanan dengan itu. Oleh
karena itu, yang paling mudah adalah menjadi sesuatu yang
paling baik.
Nabi saw menganjurkan umatnya untuk bersegera melakukan buka
puasa dan mengakhirkan sahur, dengan tujuan untuk memberi
kemudahan kepada orang yang melaksanakan puasa.
Kita juga banyak menemukan fuqaha yang memutuskan hukum yang
paling mudah untuk dilakukan oleh manusia terhadap sebagian
hukum yang memiliki berbagai pandangan; khususnya yang
berkaitan dengan masalah muamalah. Ada ungkapan yang sangat
terkenal dari mereka: “Keputusan hukum ini lebih mengasihi
manusia.”
Saya bersyukur kepada Allah karena saya dapat menerapkan jalan
kemudahan dalam memberikan fatwa, dan menyampaikan sesuatu
yang menggembirakan dalam melakukan da’wah, sebagai upaya
meniti jalan yang pernah dilakukan oleh Nabi saw. Beliau
pernah mengutus Abu Musa dan Mu’adz ke Yaman sambil memberikan
wasiat kepada mereka,
“Permudahlah dan jangan mempersulit; berilah sesuatu
yang menggembirakan dan jangan membuat mereka lari;
berbuatlah sesuatu yang baik.”7
Diriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah saw bersabda,
“Permudahlah dan jangan mempersulit; berilah sesuatu
yang menggembirakan dan jangan membuat mereka lari.”8
Pada suatu kesempatan saya pernah menjawab berbagai pertanyaan
setelah saya menyampaikan satu kuliah: “Apabila saya mendapati
dua pendapat yang sama-sama baik atau hampir sama dalam satu
masalah agama; yang pertama lebih mengarah kepada
kehati-hatian dan yang kedua lebih mudah, maka saya akan
memberikan fatwa kepada orang awam dengan pendapat yang lebih
mudah, yang lebih saya utamakan daripada pendapat yang
pertama.”
Sebagian kawan yang hadir dalam kuliah itu berkata, “Apa dalil
anda untuk lebih mengemukakan pendapat yang paling mudah atas
pendapat yang lebih hati-hati?”
Saya jawab, “Dalil saya ialah petunjuk Nabi saw, yaitu
manakala beliau dihadapkan kepada dua pilihan, maka beliau
tidak akan memilih kecuali pendapat yang paling mudah; dan
perintahnya kepada para imam shalat jamaah untuk meringankan
ma’mumnya, karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang
tua, dan orang yang hendak melaksanakan kepentingan mereka
setelah itu.”
Kadangkala seorang ulama memberikan fatwa dengan sesuatu yang
lebih hati-hati kepada sebagian orang yang mempunyai kemauan
keras, dan orang-orang wara’ yang dapat menjauhkan diri mereka
dari kemaksiatan. Adapun untuk orang-orang awam, maka yang
lebih utama adalah pendapat yang paling mudah.
Zaman kita sekarang ini lebih banyak memerlukan kepada
penyebaran hal yang lebih mudah daripada hal yang sukar, lebih
senang menerima berita gembira daripada ditakut-takuti hingga
lari. Apalagi bagi orang yang baru masuk Islam, atau untuk
orang yang baru bertobat.
Persoalan ini sangat jelas dalam petunjuk yang diberikan oleh
Nabi saw ketika mengajarkan Islam kepada orang-orang yang baru
memasukinya. Beliau tidak memperbanyak kewajiban atas dirinya,
dan tidak memberikan beban perintah dan larangan. Jika ada
orang yang bertanya kepadanya mengenai Islam, maka dia merasa
cukup untuk memberikan definisi yang berkaitan dengan
fardhu-fardhu yang utama, dan tidak mengemukakan yang
sunat-sunat. Dan apabila ada orang yang berkata kepadanya:
“Aku tidak menambah dan mengurangi kewajiban itu.” Maka Nabi
saw bersabda, “Dia akan mendapatkan keberuntungan kalau apa
yang dia katakan itu benar.” Atau, “Dia akan masuk surga bila
apa yang dia katakan benar.”
Bahkan kita melihat Rasulullah saw sangat mengecam orang yang
memberatkan kepada manusia, tidak memperhatikan kondisi mereka
yang berbeda-beda; sebagaimana dilakukan oleh sebagian sahabat
yang menjadi imam shalat jamaah orang ramai. Mereka
memanjangkan bacaan di dalam shalat, sehingga sebagian ma’mum
mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw.
Nabi saw berpesan kepada Mu’adz bahwa beliau sangat tidak suka
bila Mu’adz memanjangkan bacaan itu sambil berkata kepadanya:
“Apakah engkau ingin menjadi tumpuan fitnah hai Mu’adz? Apakah
engkau ingin menjadi tumpuan fitnah hai Mu’adz? Apakah engkau
ingin menjadi tumpuan fitnah hai Mu’adz?” 9
Diriwayatkan dari Abu Mas’ud al-Anshari, ia berkata, “Ada
seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: ‘Demi Allah
wahai Rasulullah, sesungguhnya aku selalu memperlambat untuk
melakukan shalat Subuh dengan berjamaah karena Fulan, yang
selalu memanjangkan bacaannya untuk kami.’ Aku tidak pernah
melihat Rasulullah saw memberikan nasihat dengan sangat marah
kecuali pada hari itu. Kemudian Rasulullah saw bersabda,
‘Sesungguhnya ada di antara kamu yang membuat orang-orang
lain. Siapapun di antara kamu yang menjadi imam orang ramai,
maka hendaklah dia meringankan bacaannya, karena di antara
mereka ada orang yang lemah, tua, dan mempunyai kepentingan
yang hendak dikerjakan.” 10
Saya juga pernah menyebutkan bahwa orang yang memanjangkan
bacaan shalat jamaah dengan orang banyak ini adalah Ubai bin
Ka’ab, yang memiliki ilmu dan keutamaan, serta menjadi salah
seorang yang mengumpulkan al-Qur’an . Akan tetapi,
bagaimanapun kedudukannya tidak berarti bahwa Rasulullah saw
tidak memungkirinya, sebagaimana dia memberikan wasiat
mengenai hal inl kepada Mu’adz, walaupun dia merupakan orang
yang sangat dicintai dan dipuji oleh Nabi saw.
Sahabat sekaligus pembantu beliau, Anas r.a., berkata, “Aku
tidak pernah shalat di belakang imam satu kalipun yang lebih
ringan, dan lebih sempurna shalatnya dibandingkan dengan Nabi
saw. Jika beliau mendengarkan suara tangisan anak kecil,
beliau meringankan shalat itu, karena khawatir ibu anak itu
akan terkena fitnah.” 11
Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya ketika aku sudah memulai shalat, aku
ingin memanjangkan bacannnya, kemudian aku
mendengarkan suara tangisan anak kecil, maka aku
percepat shalatku, karena aku mengetahui susahnya sang
ibu bila anaknya menangis.” 12
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw bersabda,
“Apabila salah seorang di antara kamu menjadi imam
shalat maka hendaklah ia memperingan bacaan shalatnya,
karena di antara mereka ada orang yang sakit, lemah,
dan tua. Namun bila dia shalat sendirian, maka
hendaklah dia memperpanjang shalatnya sesuai dengan
kemauannya.” 13
Nabi saw sangat mengecam terhadap hal-hal yang memberatkan
apabila hal itu dianggap mengganggu kepentingan orang banyak,
dan bukan sekadar untuk kepentingan pribadi satu orang saja.
Begitulah yang kita perhatikan dalam tindakan beliau ketika ia
mengetahui tiga orang sahabatnya yang mengambil langkah
beribadah yang tidak selayaknya dilakukan, walaupun sebenarnya
mereka tidak menginginkan kecuali kebaikan dan pendekatan diri
kepada Allah SWT.
Diriwayatkan dari Anas r.a. berkata, “Ada tiga orang yang
mendatangi rumah tiga orang istri Nabi saw menanyakan ibadah
yang dilakukan oleh Nabi saw. Ketika mereka diberitahukan
mengenai hal itu, seakan-akan mereka menganggap sedikit apa
yang telah mereka lakukan, sambil berkata, ‘Di mana posisi
kita dari Nabi saw, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya
yang terdahulu dan yang akan datang?’ Salah seorang di antara
mereka juga berkata, ‘Oleh karena itu saya akan melakukan
shalat malam selamanya.’ Orang yang kedua pun berkata, ‘Aku
akan berpuasa selamanya dan tidak akan meninggalkannya.’ Orang
yang ketiga berkata, ‘Sedanglan aku akan mengucilkan diri dari
wanita dan tidak akan kawin selama-lamanya.’ Kemudian
Rasulullah saw datang kepada mereka sambil berkata, ‘Kamu
semua telah mengatakan begini dan begitu. Demi Allah, aku
adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling
bertakwa kepada-Nya, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku
shalat dan aku juga tidur, aku mengawini perempuan. Maka
barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahhu, maka dia tidak
termasuk golonganku.” 14
Diriwayatkan dari Ibn Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi saw
bersabda, “Celakalah orang-orang yang berlebih-lebihan itu
(al-mutanaththi’un).” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga
kali.
Yang dimaksudkan dengan orang-orang yang berlebih-lebihan
(al-mutanaththi’un) ialah “orang-orang yang mengambil tindakan
keras dan berat, tetapi tidak pada tempatnya.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw bersabda,
“Sesungguhnya agama ini mudah, dan orang yang
mengambil yang berat- berat dari agama ini pasti akan
dikalahkan olehnya. Ambillah tindakan yang benar,
dekatkan diri kepada Allah, berilah kabar gembira, dan
mohonlah pertolongan kepada-Nya pada pagi dan petang
hari, dan juga pada akhir malam.” 15
Maksud perkataan Rasulullah saw “kecuali dia akan dikalahkan
olehnya” ialah bahwa orang itu akan dikalahkan oleh agama dan
orang yang mengambil hal-hal yang berat itu tidak akan mampu
melaksanakan semua yang ada pada agama ini karena terlalu
banyak jalan yang harus dilaluinya.
Apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw ini sebenarnya
merupakan kiasan yang artinya: “Mohonlah pertolongan kepada
Allah untuk taat kepada-Nya, melakukan amal kebaikan di
tengah-tengah kegiatanmu dan ketika hatimu lapang, sehingga
kamu merasa senang melakukan ibadah dan tidak bosan
melakukannya; dan dengan demikian kamu dapat mencapai maksud
dan tujuan kamu.” Sebagaimana yang dilakukan oleh musafir yang
pintar, dia berjalan pada waktu-waktu tertentu, kemudian dia
dan kendaraannya beristirahat pada saat yang lain, sehingga
dia sampai kepada tujuannya dan tidak mengalami kepenatan dan
kejenuhan. Wallah a’lam.
Saya sangat terkejut kala saya membaca berita dalam surat
kabar:
“Sesungguhnya pihak berwenang yang mengurus jamaah
haji di kerajaan Arab Saudi mengumumkan kematian dua
ratus tujuh puluh orang jamaah haji ketika melempar
jumrah. Mereka meninggal karena terinjak kaki orang
ramai yang berdesak-desakan untuk melakukan lemparan
selepas tergelincirnya matahari.”
Walaupun telah ada korban yang begitu banyak, tetapi para
ulama masih saja memberikan fatwa ketidakbolehan melempar
jumrah sebelum tergelincirnya matahari, padahal Nabi saw
memudahkan urusan dalam melaksanakan ibadah haji; dan ketika
beliau ditanya tentang amalan yang boleh dimajukan dan
diakhirkan, beliau menjawabnya, “Lakukan saja, dan tidak
mengapa.” Para fuqaha sendiri mempermudah cara pelaksanaan
pelemparan jumrah sehingga mereka memperbolehkan kepada jamaah
haji untuk melakukan lemparan pada hari terakhir, dan juga
boleh mewakilkan kepada orang lain ketika seseorang mempunyai
uzur; yang boleh dilakukan setelah melakukan tahallul terakhir
dari ihram.
Pelemparan jumrah itu, menurut tiga orang imam besar, boleh
dilakukan sebelum tergelincirnya matahari; yaitu oleh seorang
ahli fiqh manasik (‘Atha,), ahli fiqh Yaman (Thawus)
–keduanya merupakan sahabat Ibn Abbas– dan Abu Ja’far
al-Baqir, Muhammad bin Ali bin al-Husain, salah seorang ahli
fiqh Ahl al-Bait.
Jika para ahli fiqh tidak membenarkan lemparan seperti itu,
maka kita dapat memberlakukan fiqh darurat yang mewajibkan
kepada kita untuk mempermudah ibadah kepada Allah, yang
membolehkan kepada kita untuk melakukan lemparan selama dua
puluh empat jam, sehingga kita tidak menjerumuskan kaum
Muslimin kepada kehancuran.
Semoga Allah memberikan pahala kepada Syaikh Abdullah bin Zaid
al-Mahmud, yang telah memberikan fatwa lebih dari tiga abad
yang lalu, yang membolehkan lemparan sebelum tergelincirnya
matahari, yang termuat di dalam bukunya, Yusr al-Islam (Islam
yang Mudah).
Catatan Kaki:
1 Diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad; dan Thabrani dari Mahjan bin al-Adra’; dan juga
diriwayatkan oleh Thabrani dari Imran bin Hushain dalam
al-Awsath; dan Ibn Adiy dan al-Dhiya’ dari Anash (Lihat
al-Jami’ as-Shaghir, 3309)
2 Diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad; dan Thabrani dari Ibn Abbas. (Ibid., h. 160)
3 Muttafaq ‘Alaih, sebagaimana yang dimuat dalam al-Lu’lu’ wa
al-Marjan (1502).
4 Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Hibban, dan Baihaqi di dalam
as-Syu’ab dari Ibn Umar (Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 1886)
5 Muttafaq ‘Alaih, al-Lu’lu’ wa al-Marjan (681).
6 Muttafaq Alaih, ibid . 684
7 Muttafaq Alaih dari Abu Burdah, ibid 1130
8 Muttafaq Alaih ibid., 1131
9 Diriwayatkan oleh Bukhari.
10 Muttafaq ‘Alaih lihat al-Lu’lu’ wal-Marjan, 267.
11 Muttafaq ‘Alaih, lihat al-Lu’lu’ wal-Marjan, 270.
12 Muttafaq ‘Alaih, lihat al-Lu’lu’ wal-Marjan, 168.
15 Diriwayatkan oleh Bukhari dan Nashai (Shahih al-Jami’
as-Shaghir, 1611)
——————————————————
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M
===
Dalam daftar penyumbang, misalnya untuk membantu korban gempa atau pun lainnya, tak jarang kita jumpai bahwa penyumbangnya ialah Hamba Allah. Semoga mereka itu benar-benar hamba Allah. Semoga pula kita terdorong untuk juga menjadi Allah.
Aku sendiri takut menjuluki diriku Hamba Allah. Aku malu kepada-Nya. Di benakku seolah-olah terdengar suara-Nya, “Hai, Shodiq! Benarkah kamu hamba-Ku? Tidakkah kamu adalah hamba internet? Bukankah kamu keasyikan ngakses internet berjam-jam setiap hari? Bukankah untuk menyembah Diriku melalui shalat, kamu melakukannya hanya beberapa menit setiap harinya?”
Note: copas dri web taaruf
===
Surat Cinta dari hamba-hamba
yang malamnya penuh cinta,..Subhanallah
ditujukan kepada :
Ikhwah fillah yang tersia-sia waktu malamnya Gubraks! Gubraks!
Assalamu’alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh
Wahai orang-orang yang terpejam matanya,
Perkenankanlah kami, manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat
cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam
yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada
keagungan dan rahasianya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu
bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia.
Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam kami
berhiaskan intan dan mutiara dari surga.
Wahai orang-orang yang terlelap,
Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya yang pekat membuat matamu tak
mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi
senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta.
Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena,menikmati
tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan
gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian
hangatnya. Aduhai kau sangat menikmatinya.
Wahai orang-orang yang terlena,
Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu !! Yang setiap malam terpejam
matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau yang terlena oleh
suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti dirimu !! Kami
adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau dengar Sang
Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya di surga itu
ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya
terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-
orang yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan sholat
pada saat manusia terlelap dalam tidur malam." Sudahkah kau dengar
tadi ? Ya, sebuah kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang
yang mendirikan sholat pada saat manusia-manusia yang lain tertutup
mata dan hatinya.
Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta,
Kau pasti pernah mendengar namaku disebut. Aku Abu Hurairah,
Periwayat Hadist. Kerinduanku akan sepertiga malam adalah hal yang
tak terperi. Penghujung malam adalah kenikmatanku terbesar. Tapi
tahukah kau ? Kenikmatan itu tidak serta merta kukecap sendiri.
Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga. Satu
untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan
yang aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan
sholat, maka kami bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati
bagiannya. Subhanallah, tak tergerakkah dirimu ? Pedulikah kau pada
keluargamu ? Adakah kebaikan yang kau inginkan dari mereka ? Sekedar
untuk membangunkan orang-orang yang paling dekat denganmu,
keluargamu ?
Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku
sebagai Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang
ulama tersohor Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, " Nuruddin
itu kecanduan sholat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan
akidah yang benar." Kemenangan demi kemenangan aku raih bersama
pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu terlibat dalam sebuah
perbincangan seru. Kata mereka, " Nuruddin Mahmud Zanki menang bukan
karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia mempunyai
rahasia bersama Tuhan". Aku tersenyum, mereka memang benar.
Kemenangan yang kuraih adalah karena do’a dan sholat-sholat malamku
yang penuh kekhusyu’an.
Tahukah kau dengan orang yang selalu setia mendampingiku ? Dialah
Istriku tercinta, Khotun binti Atabik. Dia adalah istri shalehah di
mataku, terlebih di mata Alloh. Malam-malam kami adalah malam penuh
kemesraan dalam bingkai Tuhan. Gemerisik dedaunan dan desahan angin
seakan menjadi pernak-pernik kami saat mendung di mata kami jatuh
berderai dalam sujud kami yang panjang.
Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan
jiwaku itu tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang
membuatnya resah. Ya Alloh, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada
malam itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk beribadah.
Astaghfirulloh, aku menyesal telah membuat dia kecewa. Segera
setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku dengan mengangkat
seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu kuperintahkan untuk
menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga malamnya.
Wahai orang-orang yang terbuai,
Kau pasti mengenalku dalam kisah pembebasan Al Aqso, rumah Allah
yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang Panglima
Perang, Sholahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang hidup di zamanku
mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu menjaga
sholat berjama’ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Alqur’an
yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling
kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku.
Sedangkan siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata,
pengejawantahan cintaku pada-Nya.
Wahai orang-orang yang masih saja terlena,
Pernahkah kau mendengar kisah penaklukan Konstantinopel ? Akulah
orang dibalik penaklukan itu, Sultan Muhammad Al Fatih. Aku sangat
lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun tahukah kau bahwa sehari
sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan kepada pasukanku
untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba, kami
laksanakan sholat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan-
Nya. Jika Alloh memberikan kematian kepada kami pada siang hari
disaat kami berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar.
Biarlah siang hari kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu,
di ujung malamnya Alloh temukan kami berada dalam kehidupan.
Kehidupan dengan menghidupi malam kami.
Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya,
Pernahkah kau dengar kisah Penduduk Basrah yang kekeringan ? Mereka
sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik
matahari terasa sangat menyengat, padang pasir pun semakin kering
dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Sholat
Istisqo yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada
wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atho’
As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Sholat dimulai, dua rakaat pun usai.
Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah.
Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada
tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu,
tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-
dosa yang kami lakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit ?
Padahal kami semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini ?
Sholat demi sholat Istisqo didirikan, namun hujan tak kunjung
datang. Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani
terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang
pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang
ke masjid itu. Langkahku menuju mihrab, kuniatkan untuk sholat
Istisqo sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak gerikku.
Setelah sholat, dengan penuh kekhusyu’an kutengadahkan tanganku ke
langit, seraya berdo’a :
"Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang
kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi
sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu
sudah habis ? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang ?
Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku
agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya."
Lalu apa gerangan yang terjadi ? Angin langsung datang bergemuruh
dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh
mendengar do’a seorang pelayan ini. Do’aku dikabulkan oleh Tuhan,
hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah
lama merindukannya.
Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau
pasti juga heran bukan ? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam
pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya
manusia biasa, tapi aku menjadi sangat luar biasa karena doaku yang
makbul dan malam-malam yang kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub
pada-Nya.
Wahai orang-orang yang masih saja terpejam,
Penghujung malam adalah detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi.
Suatu hari muridku menanyakan kepadaku, bagaimana aku bisa
menciptakan berbagai karya yang banyak ? Kapan aku beristirahat,
bagaimana aku mengatur tidurku ? Lalu kujelaskan padanya, "Jika aku
mengantuk, maka aku hentikan sholatku dan aku bersandar pada buku-
bukuku sejenak. Selang beberapa waktu jika telah segar kembali, aku
lanjutkan ibadahku."
Aku tahu kau pasti berpikir bahwa hal ini sangat sulit dijangkau
oleh akal sehatmu. Tapi lihatlah, aku telah melakukannya, dan
sekarang kau bisa menikmati karya-karyaku.
Wahai orang-orang yang tergoda,
Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk lehermu saat kau tertidur
pulas ? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk lehermu !! Dia lalu
menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, "Hai manusia, Engkau masih
punya malam panjang, karena itu tidurlah !!".
Hei, Sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu
muslihatnya ! Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah,
bangkitlah, kerahkan kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah
nama Alloh, maka akan lepas ikatan yang pertama. Kemudian,
berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang kedua. Dan yang terakhir,
sholatlah, sholat seperti kami, maka akan lepaslah semua ikatan-
ikatan itu.
Wahai orang-orang yang masih terlelap,
Masihkah kau menikmati malam-malammu dengan kepulasan ? Masihkah ?
Adakah tergerak hatimu untuk bangkit, bersegera, mendekat kepada-
Nya, bercengkerama dengan-Nya, memohon keampunan-Nya, meski hanya 2
rakaat ? Tidakkah kau tahu, bahwa Alloh turun ke langit bumi pada
1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau tahu, bahwa Dia
berkata, "Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon kepada-Ku
akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan siapa
yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata
demikian, hingga fajar merekah.
Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia,
Bagi kami, manusia-manusia malam, dunia ini sungguh tak ada artinya.
Malamlah yang memberi kami kehidupan sesungguhnya. Sebab malam bagi
kami adalah malam-malam yang penuh cinta, sarat makna. Masihkah kau
terlelap ? Apakah kau menginginkan kehidupan sesungguhnya ? Maka
ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam. Kelak kau akan temukan
cahaya di sana, di waktu sepertiga malam. Namun jika kau masih ingin
terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk,
bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik
selimutmu yang demikian hangatnya, maka surat cinta kami ini sungguh
tak berarti apa-apa bagimu.
Semoga Alloh mempertemukan kita di sana, di surga-Nya, mendapati
dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi luarnya terlihat
dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. wallahu’alam...
Wassalamu’alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh,
Dari kami:
Hamba2 Allah penghidup Malam
Ikhlas memang sangat mudah untuk diucapkan tapi sangat sulit untuk dijalanin. Karena itu membutuhkan proses yang panjang sehingga bisa membimbing kita pada sebuah keikhlasan.
Ketika cintaku terbentur dengan restu orang tua dan ketika aku harus menerima kenyataan orang yang aku sayangi menikah dengan orang lain. Ketika rencana hanyalah tinggal sebuah rencana yang tidak terwujud. Tidak mudah untuk menerima kenyataan itu bahkan mungkin sangat sulit untuk aku terima. Hari demi hari aku lewati dengan air mata dan kesedihan. Di kesunyian dan keheningan malam aku menangis di hadapanNYA bukan untuk menyesali apa yang terjadi padaku tapi menyesal kenapa aku belum bisa menjadi hambaNYA yang ikhlas menerima kenyataan ini.
Tapi itulah hidup. Adakalanya kita harus mengalami sesuatu yang pahit. Apapun yang terjadi itulah yang terbaik buat aku meski aku harus sedih, kecewa dan merasa diperlakukan tidak adil.
Aku hanya berusaha untuk ridha dengan semua ketentuan yang telah digariskan oleh ALLAH. Menerima apapun yang terjadi bukan berarti tidak berusaha untuk meraih sesuatu yang lebih baik. Tapi berusaha untuk ikhlas dan menyerahkan semua ini kepadaNYA akan menenangkan hati yang gelisah. Karena dibalik kejadian ini pasti ada hikmahnya dan Insya ALLAH bisa membimbing aku untuk menjadi seseorang yang kuat, sabar dan ikhlas dalam menjalani hidup.
Ketika kita ikhlas dan bersyukur dengan semua yang diberikan ALLAH akan memberikan ketenangan yang luar biasa di hati kita. Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan dan DIA akan memberikan jalan yang terbaik. Yakin bahwa rencana ALLAH itu lebih indah.
Buat sahabat2ku yang lagi sedih, harus tetap semangat karena ALLAH sayang kepada hambaNYA yang kuat dalam menjalani ujian dariNYA. Karena sebenarnya begitu banyak anugerah dan nikmat yang diberikan olehNYA yang harus kita syukuri. Selalu berprasangka baik kepadaNYA dan bersyukur ALLAH masih memberikan ujian kepada kita, itu berarti kita termasuk orang2 yang masih diperhatikan olehNYA ALLAH selalu memberikan sesuatu yang kita butuhkan bukan sesuatu yang kita inginkan. Karena DIA lebih tahu mana yang terbaik buat hambaNYA.
Ikhlas, sabar dan bersyukur adalah 3 kunci orang hidup. Tidak mudah bahkan mungkin sangat sulit. Tapi tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan mencoba untuk menjalaninya dalam kehidupan kita.
Terima Kasih Yaa ALLAH untuk kasih sayang, kekuatan dan semua yang sudah Engkau berikan kepadaku. Berikan petunjuk dan bimbinganMu kepadaku seperti yang telah Engkau berikan kepada hamba2Mu yang Engkau sayangi. Ijinkanlah aku untuk menghabiskan sisa umurku untuk lebih dekat dan mencintaiMu.
-