BUKAN HANYA TUGAS IBU

====

Suatu hari si Fulan kecil tiba-tiba menjadi anak yang begitu sulit diatur. Segala keinginan yang tidak dikabulkan, akan menjadi pemicu berbagai tindakan negatif pada dirinya. Menendang segala hal yang ada di depannya, memukul dan menyakiti adik dan teman mainnya, egois, dan maunya menang sendiri.

Ibunya yang lemah lembut dan penyabar, selalu mencoba untuk menasehati dan membimbing anaknya ke arah yang lebih baik, namun hasilnya tak seperti yang diharapkan. Anak tetap berperilaku seperti semula, bahkan kadang meningkat kepada hal-hal yang membahayakan.

Ayah yang sibuk bekerja, pergi pagi pulang malam merasa kesal dan kecewa melihat perilaku anak, menganggap istri tidak becus dalam mendidik, menyalahkan, dan memarahi istri. Lalu mengambil sikap untuk mengurangi interaksi dengan anaknya, agar tidak menyaksikan perilaku buruknya.

Si ibu menangis merasa sakit hati. Usaha sekuat tenaga mendidik anak dengan baik, mencoba untuk selalu bersabar melihat perilaku negatif anak yang tidak diharapkan, sambil mengesampingkan keinginan untuk mengembangkan diri dan mengusir jauh-jauh rasa jenuh dan sepi yang setiap hari hinggap di benaknya, masih pula mendapat marah dan disalahkan. Seolah kesalahan sepenuhnya ada padanya. Bebanpun semakin terasa berat.

Sementara, di hari libur suami lebih memilih untuk istirahat di rumah, menghapus lelah selama sepekan. Padahal, istri ingin jalan-jalan ke luar bersama suami dan anak-anak untuk sekedar melepaskan kejenuhan, melihat suasana baru, menjernihkan fikiran dan pandangan mata.

***

Masih banyak orang yang menganggap, pendidikan anak adalah tugas ibu semata. Segala hal yang menyangkut anak diserahkan sepenuhnya ke pundak ibu. Urusan makan dengan ibu, urusan belajar dengan ibu, urusan sekolah pun dengan ibu. Sementara ayah hanya berkonsentrasi kepada pekerjaan mencari nafkah, dan tak mau ambil pusing terhadap pendidikan anak, namun ingin melihat hasil yang selalu baik. Sehingga, ketika melihat anak berkembang tidak seperti yang diharapkan, hanya ibu yang disalahkan.

***

Anak adalah amanah Allah bagi setiap orang tua, ibu dan ayahnya. Ia dititipkan kepada kita untuk diasuh, dididik, dan dibimbing menjadi anak yang sholeh dan shalihah. Dijadikan sebagai bagian dari komunitas muslim, penerus risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW, yang akan sangat bangga dengan umatnya yang kuat, dan banyak.

Pendidikan anak menjadi tanggung jawab bersama, antara seorang ibu, seorang ayah, dan masyarakat. Mendidik anak bukanlah hanya tugas seorang ibu semata, walau pada kenyataannya ibu lah yang lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak. Namun pendidikan anak adalah merupakan tugas pertama dari seorang ayah, karena ayah yang menjadi pemimpin keluarga. Ibu hanyalah pemimpin di bawah kepemimpinan seorang ayah.

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (Shahih Muslim).

Seorang suami bertanggung jawab dan akan ditanya tentang istri dan anak-anaknya, sementara istri akan ditanya tentang rumah tangga dan anak-anaknya.

Karenanya, tidak adil bila seorang ayah menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada ibu, dan tak adil pula ketika dalam perkembangannya anak berubah menjadi anak yang kurang sholeh, kemudian menyandarkan kesalahan kepada ibu.

Proses mendidik dan memantau perkembangan anak hendaknya dilakukan bersama, tidak diserahkan kepada salah satu pihak saja. Sehingga ketika terjadi ketidak berhasilanpun, ditanggung dan dicari solusi bersama-sama.

Ketika Rasululloh SAW ditanya tentang peranan kedua orang tua, maka beliau menjawab : "Mereka adalah yang menyebabkan syurgamu atau nerakamu" ( HR. Ath Thabrani ).

Anak membutuhkan dua figur sekaligus dalam kehidupannya. Yaitu figur ayah dan figur ibu.

Dari seorang ayah dia akan belajar bagaimana memimpin, bertanggung jawab dan bekerja mencari nafkah. Dari seorang ibu dia akan belajar berkasih sayang, kelemahlembutan, dan melayani.

Sebuah kombinasi yang sangat serasi, bila semua figur ini dapat bekerja bersama-sama, dan menjadi contoh langsung. Sehingga anak mendapat gambaran yang jelas, bagaimana dia dapat membina dan mengembangkan dirinya menuju kehidupan masa depan yang lebih baik. Jadi, mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu saja, tapi tugas ibu dan ayah bersama-sama.

Walloohu a’lam bishshowwab.


Cermin kita hari ini

====

Disebuah sekolah…setiap akhir ajaran selalu diadakan pementasan drama kolosal. Banyak murid yang terlibat disana. Memainkan bermacam-macam tokoh. Pementasan ini selalu ditunggu-tunggu oleh semua murid dan juga orang tua murid. Karena di akhir pementasan…akan diberikan piala bergilir dari kepala Sekolah bagi murid yang paling bagus beraktingnya. Tentu saja menjadi kebanggaan bagi murid maupun orang tuanya.
          Tibalah saatnya. Pementasan berjalan sempurna. Semua berhasil memerankan perannya dengan baik. Gemuruh tepuk tangan mengakhiri pertunjukan. Semua puas melihat hasil latihan siswa selama beberapa bulan terakhir menjelang pementasan.
          Kini tibalah saat pengumuman pemenang. Siapa yang berhak mendapatkan giliran memegang piala kepala sekolah selama setahun yang akan datang. Dan tentu saja mendapatkan hadiah.Setiap anak berdebar-debar menunggu hasilnya. Begitu juga dengan orang tua mereka. Akan sangat membanggakan tampil di atas panggung dengan disaksikan ribuan pasang mata.Semua berdo’a supaya nama merekalah yang disebut Pak Guru.
          Pak Guru naik ke atas panggung. Ia menyebutkan sebuah nama. Subhannallah…ternyata Beliau menyebut sebuah nama…dan ternyata seorang anak yang berperan menjadi seorang bapak yang pemarah. Bahkan sangat pemarah. Ia memang sangat berhasil memerankannya. Ditambah gaya menggebrak meja dan membanting piring serta gelas. Sungguh akting yang menakjubkan.
          Pak Guru menyuruh si anak naik ke atas panggung beserta kedua orang tuanya. Tepuk tangan bergemuruh lagi menyambut mereka ke atas panggung. Terlihat sekali baik si anak ataupun si ayah anak bangga sekali. Ia menetap sekeliling sambil menegakkan dada. Mereka Bangga.
          Sebelum menyerahkan hadiah, Pak Guru menanyakan kepada si anak. Apa rahasia ia mampu tampil di atas panggung begitu bagus. Begitu menghayati perannya. Dan si Anak dipersilahkan menceritakan kepada hadirin tentang lika-likunya ia berlatih.
          Sang Anak maju dan meraih pengeras suara dan mulai bercerita “ Terima kasih atas hadiahnya Pak ! Sebenarnya yang paling membantu peran saya adalah ayah saya. Karena beliaulah saya mampu memerankan orang tua pemarah tanpa kesulitan sama sekali. Bahkan saya tidak harus berlatih giat seperti halnya teman-teman yang lain. Dari beliaulah saya belajar berteriak, membentak dan menjadi pemarah. Belajar membanting pintu, menggebrak meja dan membanting gelas serta piring. Ayah saya membesarkan saya seperti itu. Dari Ayahlah saya belajar menjadi pemarah.”
          Sang ayah tercenung. Ia yang tadi menatap dengan dada tegak sekarang menunduk.Keadaan senyap. Jika sebelumnya mereka bangga, sekarang mereka merasa malu sekali. Mereka bagai terdakwa di muka pengadilan. Mereka belajar banyak hari ini. Dihari anaknya memperoleh Piala Bergilir dari Kepala Sekolah atas prestasi anaknya menjadi pemarah. Ada yang perlu diluruskan atas prilakunya selama ini.
          Kawan…begitulah ! Anak adalah duplikat orang-orang di sekitarnya. Setiap anak adalah peniru ulung. Mereka belajar sesuatu dengan kita sebagai contohnya. Mereka lah cermin bagi kita. Tempat kita seharusnya berkaca.
          Cermin itu meniru semua hal. Baik yang terpuji ataupun yang tercela. Tak tersisa. Semuanya. Orang-orang di sekitarnya. Disinilah keharusan kita untuk menjadikan diri kita model ..contoh prilaku seperti yang di teladankan oleh Rosullullah SAW. Juga adalah kewajiban kita untuk mencarikan teman dan bi’ah yang sholihah untuk anak kita. Karena ia peniru ulung. Itu saja !
          Disinilah jawabannya…kenapa kita tidak boleh egois untuk hanya memikirkan diri kita semata. Keluarga kita semata. Asal keluarga kita baik…sesuai sunah Rosullullah..kita sudah merasa aman tanpa harus memikirkan masyarakat kita. Padahal bi’ah sangat menentukan kepribadian anak kita. Disinilah mengapa dai dan da’iyah harus memulai perannya di masyarakat. Demi anak kita. Demi generasi yang akan datang.
          Semoga kita bisa menjadi orang yang sabar saat melihat anak kita mulai bertingkah. Saat mereka memecahkan piring misalnya. Sebab mereka baru belajar memegang piring selama lima tahun..sementara kita telah belajar memegang piring selama lebih dari dua puluh tahun. Tentu mereka membutuhkan waktu juga untuk belajar.
          Mari kita tarbiyah diri kita dengan kesungguhan hati…agar kepribadian kita seperti apa yang di contohkan oleh Rosulullah SAW. Dan pantulannya pun akan seperti yang kita harapkan. Wallahu alam bishowab !

Ombak Besar dan Ombak Kecil

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan

====

Assalammu’alaikum Wr. Wb.                         
                                                                             
                            Mari kita senantiasa                             
                                                                             
                                                                             
                                                                             
                                Setting NIAT,                               
                                                                             
                                                                             
                                                                             
                                Upgrade IMAN,                               
                                                                             
                                                                             
                                                                             
                               Download SABAR,                               
                                                                             
                                                                             
                                                                             
                                Delete DOSA,                                 
                                                                             
                                                                             
                                                                             
                       Approve MAAF & Hunting PAHALA,                       
                                                                             
                Agar kita Getting GUEST LIST masuk SURGA-NYA.               
                                                                             
                                                                             
                                                                             
                     Pulang ke kampung SURGA yuuuk !!!!                     
                                                                             
              Pakai mobil JIHAD yang berbahan bakar ISTIQOMAH,               
                                                                             
                                                                             
                                                                             
                          Dengan supir KEIKHLASAN,                           
                                                                             
                                                                             
                                                                             
                              Lewat jalan IMAN,                             
                                                                             
                                                                             
                                                                             
           Eeeiiittt, jangan lupa bawa peta AL QUR’AN & AS SUNNAH,           
                                                                             
                                                                             
                                                                             
                              Juga bekal TAQWA,                             
                                                                             
                                                                             
                                                                             
                        Semoga kita bertemu di sana.                         
                                                                             
                                                                             
                                                                             
  Kini Ramadhan akan tiba sebentar lagi, dengan kerendahan hati, maafkanlah 
                              segala kesalahan.                             
                                                                             
                                                                             
                                                                             
                            MARHABAN YA RAMADHAN.                           
                                                                             
                                                                             
                                                                             
    Allahumma Baariklana Fie Rajaba Wa Sya’ban Wa Balighna Fie Ramadhan.     
                                                                             
  Ya Alloh, berkatilah kami di bulan Rajab & Sya’ban dan sampaikanlah kami   
               pada bulan Ramadhan, Amien Ya Rabbal’alamien...               
                                                                             
       Selamat mempersiapkan diri untuk menyambut ibadah puasa 1430 H.       
                                                                             
  Mari kita kuatkan Iman, bersama menyongsong Bulan Penuh Rahmah, Maghfirah 
                   dan Berkah, Amien Ya Rabbal’alamien....                   
                                                                             
             Niatkan Hati, Sucikan Diri, Gapai Ridha Illahi ! :)             
 

Jangan Marah, ya!

Jilbab. Kerudung dan Kecantikan Hati

Bila Al Qur’an Bisa Bicara

====

Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu’ aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca
 dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

Sekarang engkau telah dewasa...
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku...
Apakah aku bacaan

 usang yang tinggal sejarah...
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu

Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

 

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana
menyimpannya

Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa

Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan

Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian

Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.


Dulu....pagi- pagi...surah- surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai
 bersama temanmu di surau.....


Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...engkau baca Koran pagi atau nonton
berita TV
Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia

 

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan...


Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku


Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau
 terlalu sibuk dengan urusan duniamu


Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton

 pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah


Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.


Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ? Bila
engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba Engkau akan
diperiksa oleh para malaikat suruhanNya

Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau
 dapat selamat melaluinya.


Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...
Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu

 kedatanganmu. .
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.


Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati...
Di kuburmu nanti....
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam
akhirat
Tapi Akulah "Qur’an" kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu


Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui

Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.


Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...
Jangan lupa
 bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu


Sentuhilah aku

 kembali...
Baca dan pelajari lagi aku....
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu....dulu sekali...
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos....
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku engkau biarkan sendiri....
Dalam bisu dan sepi....
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

 

Antara Harapan Dan Kenyataan

Jangan Putus Asa Dalam Berdoa

BOSAN HIDUP

Marhaban Ya Ramadhan

Sudah siapkah kita?

-----

Message yang saya terima dari teman, mudah2an bisa dijadikan acuan

 

> Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu

> sibuk bekerja...

> Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan

> pesan ini...

>

> Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk

> mendapatkan

> kesempatan membaca email ini.

>

> Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita.

> kita seolah

> lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan

> kedatangannya.

> Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan.Tahukah

> kita kapan

> kematian akan menjemput kita???

>

> berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga

> dapat menjadikan

> hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan

> tinggal

> menunggu waktunya,

>

> semoga kita termasuk dalam orang-orang yang khusnul

> khotimah.... amien.... .

>

>

> Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua

> orangtuaku

> dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku

> saat pulang

> dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia

> selalu dalam

> shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat

> begitu lama,

> apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

>

> Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri

> sendiri :

>

> "Alangkah sabarnya mereka....setiap hari

> begitu...benar- benar

> mengherankan!

>

> "Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang

> mukmin dan itulah

> shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat

> tidurnya untuk

> munajat kepada Allah.

>

> Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai

> pemuda yang

> matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal

> berbagai nasehat

> selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah

> tamat dari

> pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku.

>

> Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak

> ringan menanggung

> beban sebagai orang terasing.

>

> Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur?an.

> Tak ada lagi

> suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku

> benar-benar hidup

> sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami

> nikmati. Aku

> ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol.. Di

> samping menjaga

> keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang

> membutuhkan bantuan.

>

> Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan

> tugas-tugasku dengan

> semangat dan dedikasi tinggi.

>

> Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku

> bingung dan

> sering melamun sendirian .... banyak waktu luang ...

> pengetahuanku

> terbatas.

>

> Aku mulai jenuh ... tak ada yang menuntunku di bidang

> agama. Aku

> sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya

> kecelakaan dan

> orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk

> penganiayaan lain.

>

> Aku bosan dengan rutinitas.. Sampai suatu hari terjadilah

> sebuah

> peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.

>

> Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas

> disebuah pos

> jalan..

>

> Kami asyik ngobrol ... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara

> benturan

> yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata,

> sebuah mobil

> bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang

> berlawanan.

> Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong

> korban.

> Kejadian yang sungguh tragis.

>

> Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis.

> Keduanya

> segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di

> tanah. Kami

> cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya

> telah tewas

> dengan amat mengerikan.

>

> Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam

> kondisi koma.

> Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.

> Ucapkanlah

> "Laailaaha Illallaah .... Laailaaha Illallaah .."

> perintah temanku.

> Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur

> lagu-lagu.

> Keadaan itu membuatku merinding.

>

> Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang

> sekarat ...

>

> Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam

> membisu. Aku

> tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku

> belum pernah

> menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan

> kondisi seperti

> ini.

>

> Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan

> syahadat.

>

> Tetapi .... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

>

> Tak ada gunanya ... Suara lagunya terdengar semakin melemah

> .... lemah

> dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi,

> disusul orang

> kedua.

>

> Tak ada gerak .... keduanya telah meninggal dunia. Kami

> segera membawa

> mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara

> sepatahpun.

>

> Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening...

>

> Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara..Ia berbicara

> tentang hakikat

> kematian dan su?ul khatimah (kesudahan yang buruk).

>

> Ia berkata "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan

> baik atau buruk..

>

> Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang

> dilakukan olehnya

> selama di dunia.

>

> "Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai

> kisah yang

> diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara

> bagaimana

> seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa

> lalunya secara

> lahir batin.

>

> Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan

> kami tentang

> kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya

> tatkala ingat bahwa

> kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut

> mati. Peristiwa

> ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari

> itu, aku shalat

> khusyu? sekali.

>

> Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu..

> Aku kembali

> pada kebiasaanku semula ... Aku seperti tak pernah

> menyaksikan apa yang

> menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang

> lalu. Tetapi

> sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada

> yang namanya

> lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia

> kala.

>

> Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar

> dari dua

> orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan

> !.

>

> Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu .... sebuah

> kejadian

> menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang

> mengendarai

> mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di

> sebuah

> terowongan menuju kota .. Ia turun dari mobilnya untuk

> mengganti ban yang

> kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan

> ban serep,

> tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya

> dari arah

> belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.

>

> Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada

> peristiwa pertama

> cepat-cepat menuju tempat kejadian.

>

> Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi

> rumah sakit

> agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda,

> wajahnya

> begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua

> cukup panik,

> sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan

> sesuatu. Ketika

> kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa

> membedakan suara yang

> keluar dari mulutnya.

>

> Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur?an ... dengan

> suara amat lemah.

>

> "Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia

> masih sempat

> melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur?an ? Darah mengguyur

> seluruh

> pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.

> Dalam kondisi

> seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur?an

> dengan suaranya

> yang merdu.

>

> Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur?an

> se indah itu.

> Dalam batin aku bergumam sendirian "Aku akan

> menuntunnya membaca

> syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu

> ... apalagi

> aku sudah punya pengalaman." aku meyakinkan diriku

> sendiri. Aku dan

> kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan

> Al-Qur?an yang

> merdu itu.

>

> Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan

> menyelusup ke

> setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh

> kebelakang.

>

> Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu

> bersyahadat. Kepalanya

> terkulai, aku melompat ke belakang.

>

> Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada

> yang terasa..

> Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat,

> air mataku

> menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku.

>

> Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal.

> Kawanku tak

> kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan

> diriku. Aku terus

> menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil

> betul-betul

> sangat mengharukan. ...Sampai di rumah sakit .....Kepada

> orang-orang di

> sana , kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan

> peristiwa

> menjelang kematiannya yang menakjubkan.

>

> Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga

> tak sedikit

> yang meneteskan air mata.

>

> Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera

> menghampiri

> jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir

> memutuskan untuk

> tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan

> jenazah akan

> dishalatkan. . . Mereka ingin memberi penghormatan terakhir

> kepada

> jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya.

>

> Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah

> almarhum. Kami ikut

> mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. .

>

> Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan,

> sebetulnya

> almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu

> rutin ia

> lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni

> para janda,

> anak yatim dan orang-orang miski