KISAH PENCURI KAIN KAFAN
16 Maret 2010
Hati-hati berbicara dan menulis kata-kata….ALLAH kuasa membalasnya seketika itu juga
Kisah 1 : Lelaki Keledai
Kisah ini terjadi di Universitas ?Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan diekspos oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana.
Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas Mesir, berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!.".
Ini merupakan kejadian yang langka dan disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Menit demi menit pun berjalan dengan cepat hingga tibalah menit keenampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, sang mahasiswa ini berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan sembari berkata kepada rekan-rekannya, "Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?."
Para mahasiswapun pulang ke rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang tergoda bisikan syaithan sehingga beranggapan, "Sesunguhnya Allah hanya menundanya karena hikmah-Nya di balik itu." Akan tetapi ada pula diantara mereka yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengejeknya.
Sementara si mahasiswa yang lancang tadi, pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan dia telah membuktikan dengan dalil ?aqly yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya bahwa Allah benar tidak ada dan bahwa manusia diciptakan secara serampangan; tidak mengenal Rabb, tidak ada hari kebangkitan dan hari Hisab.
Dia masuk rumah, dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. Karenanya, sang anak ini bergegas sebentar ke ?Wastapel? di dapur. Dia berdiri di situ sembari mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue. Tatkala sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba dia terjatuh dan tersungkur di situ, lalu tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.
Yah…dia benar-benar sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya!!.
Mengenai hal ini, Dr.?Abdur Razzaq Nawfal -rahimahullah- berkata, "Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!.".
Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati ?!!!.
(Sumber: Majalah "al-Majallah", volume bulan Shafar 1423 H sebagai yang dinukil oleh Ibrahim bin ?Abdullah al-Hâzimiy dalam bukunya "Nihâyah azh-Zhâlimîn", Seri ke-9, h.73-74)
Kisah 2 : Wanita celaka….Ketika Allah mengabulkan permintaan ?vila?nya di neraka….
Kisah ini ditulis oleh redaksi majalah Al-Manar, Mesir. Ia mengisahkan, "Musim panas merupakan ujian yang cukup berat bagi seorang muslimah. Ia dituntut untuk tetap mempertahankan pakaian kesopannanya. Gerah dan panas tak lantas menjadikan mereka menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan jilbab, kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki manfaat multi fungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari kairo ke Alexandria, di sebuah mikrobus, ada seorang gadis muda yang berpakaian kurang layak untuk di deskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan.
Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja, cara berpakaiannya mengundang "perhatian" orang didalam mikrobus tersebut.
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa cara berpakaiannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tidak baik bagi dirinya sendiri. Di samping mengingatkan bahwa cara berpakaian seperti itu melanggar aturan syar?i. Orang tua tersebut berbicara agak hati-hati dan pelan-pelan, sebagaimana layaknya seorang bapak berbicara kepada anaknya.
Tapi apa respon perempuan muda tersebut ? rupanya dia tersinggung lalu ia mengekspresikan kemarahannya dengan berkata, "Jika memang bapak mau, ini ponsel saya, tolong pesankan saya tempat di neraka tuhan anda !" Orang tua tersebut hanya bisa beristighfar sembari mengelus dadanya; kasihan nian gadis itu, semoga Allah memberinya hidayah.
Detik-detik berikutnya suasana begitu senyap, penumpang mikrobus mulai terlelap dalam kantuk.
Hingga sampailah perjalanan di ujung tujuan. Kini para penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi terhalangi oleh perempuan muda itu yang masih terlihat tidur.
"Bangunkan saja !" teriak seorang penumpang.
"Iya bangunkan saja" teriak penumpang lainnya.
Tapi perempuan muda tersebut tetap bungkam. Salah seorang penumpang lain mencoba mendekati si perempuan muda tersebut dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah.
Namun Astaghfirullahal ?Azhim ! Apakah yang terjadi ? ternyata perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi, ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan NERAKA.
Kontan seisi Mikrobus berucap Istghifar sembari menggeleng-gelengkan kepala. Sebuah akhir kehidupan yang menakutkan; mati dalam keadaan menantang ALLAH. Apakah Allah langsung memenuhi permintaan ?vila?nya untuk tinggal di neraka sana ????
====
Keremajaanmu menyegarkan pandangan,
dan melimpahkan nyaman pada malam.
Dengan keremajaanmu,
kau bisa saja menaklukan dunia
dalam lupa dan luka tanpa kesadaran.
Ingatlah, kau bukan dilahirkan
sebagai penggoda yang menaklukan dunia.
Kesegaran dan kejelitaanmu adalah fana belaka.
Kelembutan yang menghiasi
gerak langkah dan bentuk tubuhmu
bakal menyaksikan kau cepat terjerumus
kepada bahaya dan kemaksiatan.
Peliharalah keindahan yang kau miliki
karena Allah mengujimu dengan
menerbitkan kau pada bentuk
yang teramat indah, halus dan sempurna.
Berhati-hatilah karena sesungguhnya
kaum Adam akan menilaimu dengan
pandangan yang luar biasa.
Cahaya keriangan di wajahmu
adalah kilauan senjatayang menawan.
Madu yang menitiskan sarinya
meresapkan manisnya
dari bibir langsung ke hati
adalah suaralembut sang gadis.
Elokkanlah nada suaramu
dan perlahankan gema bahasamu.
Berhati-hatilah menggunakan lidahmu,
jangan sampai bibirmu menutur
bait-bait tajam yang akan menyakiti hati orang lain.
Fikirlah dengan akalmu sebelum bersuara
dan pandanglah teman bicara.
Tertib dan sopanmu bagai
hembusan angin yang menyamankan,
yang bakal ditanggapi menyamai
keindahan yang kau miliki sebanding dengan
ketulusan peribadimu.
By:Insan Kamil
--------------------
====
Lelaki itu merangkul Nabi. Membekap badan dan membenamkan wajahnya ke wajah Nabi yang ditembus anak panah. Tak ada rasa pedulinya terhadap keselamatan diri, walau berpuluh anak panah menghujam dan kelebat pedang kaum kafir Quraisy terus menyapih batang tubuhnya. Di tengah perang Uhud yang berkecamuk itu, ia tersenyum. Menyunggingkan senyum keikhlasan seorang syuhada, untuk pelan-pelan kemudian roboh. Roboh menemui Robb-nya, sebagai tentara di samping Rosululloh yang mulia.
Untuk lelaki itu Rosululloh bersabda : "Siapa yang ingin melihat darahku bercampur dengan darahnya, lihatlah Malik bin Sinan, ia telah menebus dirinya dengan badan dan jwanya."
Lelaki itu memang Malik bin Sinan r.a. Seorang sahabat yang paling miskin di antara sekian banyak sahabat. Pernah dilukiskan pada suatu hari beliau pulang ke rumah dengan tangan kosong, tanpa dirham dan segenggam makanan. Segala sesuatu dicukupinya hanya dengan sisa-sisa makanan yang ada. Tanpa harus merepotkan sahabat yang lain. Konon kejadian itu berlangsung beberapa hari, sampai Rosululloh SAW mendengar dan memberikan bantuan.
Adalah Bilal bin Rabbah, seorang budak dari negeri hitam Habsyi, kurus, berambut tebal, dan berjambang tipis. Tetapi Umar bin Khattab memberikan gelar "Pemimpin Kita" kepadanya. Bahkan Rosululloh SAW sendiri pernah menyataksn ia sebagai "seorang laki-laki penduduk sorga".
Adalah Abdullah bin Masud, sahabat nabi yang berperawakan kecil, kurus, miskin, dan bukan keturunan bangsawan. Tapi memiliki kedudukan yang istimewa dan dipercaya Rosululloh. Sampai-sampai ketika sahabat menertawakan betisnya yang kecil dan ramping saat ia memanjat pohon, Rosululloh berkata: "Tuan-tuan menertawakan betis Ibnu Masud... (tapi ketahuilah) keduanya di sisi Alloh lebih berat timbangannya dari bukit Uhud."
Mengapa, mengapa para sahabat yang miskin dan bukan public figure tersebut demikian istimewa kedudukannya dalam sejarah Islam? Mengapa Malik bin Sinan yang sering kelaparan itu kokoh memeluk semangat jihadnya? Meski ia bisa saja mohon balik jasa dengan Rosul. Mengapa Bilal, seorang budak begitu tinggi tempatnya dalam sejarah pertumbuhan Islam? Mengapa Abdulllah bin Masud begitu disayang oleh Rasulullah?
Hal ini tidak lain karena izzah (harga diri) mereka yang tinggi sebagai seorang muslim. Bukankah Malik bin Sinan yang memagari diri Rosululloh dari incaran anak panah dan dencing pedang kaum Quraisy, sementara di punggungnya telah bersijajar puluhan anak panah, tapi ia tetap melindungi Rasulullah?
Bilal bin Rabbah yang dipanggang di tengah panas gurun pasir, ditindih batu besar dan didera oleh Umayyah bin Khalaf, tetapi dari bibirnya tidak lekang ucapan kalimat syahadat.
Bukankah juga Abdullah bin Masud yang dipukuli orang-orang Mekkah karena dari mulutnya berkumandang ayat-ayat Al Quran. la pingsan dan begitu siuman ia langsung membaca Al Quran kembali. Dihajar lagi, pingsan lagi, bangkit dan membaca Al Quran lagi.
Lantas, mengapa orang-orang itu sanggup berbuat sedemikian rupa? Mengorbankan segala sesuatu yang dimilikinya demi keyakinan yang telah menghujam ke dalam dada dan perilakunya sehari-hari. Tak hanya harta dan tenaga, namun raganya sekalipun sanggup mereka korbankan. Ya, mereka inilah para kader-kader tangguh hasil gemblengan Rosululloh pada jamannya. Hati mereka menjadi bersinar dengan cahaya Islam. Cahaya itu tidak semata-mata diturunkan Alloh ke dalam hati mereka. Tapi butuh proses. Mereka belajar dan menerima pelajaran dari Rosululloh. Pelajaran tentang betapa agungnya dan terhormatnya Islam.
Sementara pesona izzah akan hadir di tengah umat manakala ia menyadari bahwa sumber segala sesuatu adalah Alloh SWT. Ikatan gantungan hidupnya hanya satu yaitu Alloh SWT. Dari sinilah berhembus segala kemuliaan dan keberkahan.
"... padahal kekuatan itu hanyalah bagi Alloh, bagi Rosul-Nya dan bagi orang-orang mumin ..."
(QS. 063 : 008)
Dengan sikap ini seorang muslim mampu mematut dirinya di hadapan manusia sesuai kehendak Kholiqnya. Standar menilai dan menimbang segala kebaikan dan keburukan datangnya dari Alloh. Inilah sikap yang dicontohkan oleh Bilal, Malik bin Sinan, dan oleh generasi "Khoiru Ummah" yang lain. Hanya ada satu neraca, yaitu neraca Alloh SWT.
Wallohualam bish showab
====
MEMPRIORITASKAN PERSOALAN YANG RINGAN DAN MUDAH
ATAS PERSOALAN YANG BERAT DAN SULIT
DI ANTARA prioritas yang sangat dianjurkan di sini, khususnya
dalam bidang pemberian fatwa dan da’wah ialah prioritas
terhadap persoalan yang ringan dan mudah atas persoalan yang
berat dan sulit.
Berbagai nash yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw
menunjukkan bahwa yang mudah dan ringan itu lebih dicintai
oleh Allah dan rasul-Nya.
Allah SWT berfirman:
“… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu…” (al-Baqarah: 185)
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan
manusia dijadikan bersifat lemah.” (an-Nisa’: 28)
“… Allah tidak hendak menyulitkan kamu…”
(al-Maidah: 6)
Rasulullah saw yang mulia bersabda,
“Sebaik-baik agamamu ialah yang paling mudah
darinya.”1
“Agama yang paling dicintai oleh Allah ialah yang
benar dan toleran.”2
‘Aisyah berkata,
“Rasulullah saw tidak diberi pilihan terkadap dua
perkara kecuali dia mengambil yang paling mudah di
antara keduanya selama hal itu tidak berdosa. Jika hal
itu termasuk dosa maka ia adalah orang yang paling
awal menjauhinya.”3
Nabi saw bersabda,
“Sesungguhnya Allah menyukai bila keringanan yang
diberikan oleh-Nya dilaksanakan, sebagaimana Dia
membenci kemaksiatan kepada-Nya.”4
Keringanan (rukhshah) itu mesti dilakukan, dan kemudahan yang
diberikan oleh Allah SWT harus dipilih, apabila ada kondisi
yang memungkinkannya untuk melakukan itu; misalnya karena
tubuh yang sangat lemah, sakit, tua, atau ketika menghadapi
kesulitan, dan lain-lain alasan yang dapat diterima.
Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa dia melihat Rasulullah
saw sedang dalam suatu perjalanan, kemudian beliau menyaksikan
orang ramai mengerumuni seorang lelaki yang dipayungi,
kemudian beliau bersabda, “Apa ini?” Mereka menjawab: “Dia
berpuasa.” Beliau kemudian bersabda,
“Tidak baik berpuasa dalam perjalanan.”5
Yakni di dalam perjalanan yang amat menyulitkan ini.
Dan jika perjalanan itu tidak menyulitkan, maka dia boleh
melakukan puasa; berdasarkan dalil yang diriwayatkan oleh
‘Aisyah bahwa Hamzah bin Amr al-Aslami pernah berkata kepada
Nabi saw: “Apakah aku boleh puasa dalam perjalanan?” Hamzah
adalah orang yang sering melaksanakan puasa. Karenanya Nabi
saw bersabda, “Jika kamu mau, maka berpuasalah, dan jika kamu
mau berbukalah.”6
Khalifah Umar bin Abd al-Aziz pernah berkata mengenai puasa
dan berbuka di dalam perjalanan, juga tentang perbedaan
pendapat yang terjadi di kalangan fuqaha, manakah di antara
kedua hal itu yang paling baik. Dia berkata, “Yang paling baik
ialah yang paling mudah di antara keduanya.” Hal ini merupakan
pendapat yang boleh diterima. Di antara manusia ada yang
melaksanakan puasa itu lebih mudah daripada dia harus membayar
hutang puasa itu ketika orang-orang sedang tidak berpuasa
semua. Tetapi ada orang yang berlawanan dengan itu. Oleh
karena itu, yang paling mudah adalah menjadi sesuatu yang
paling baik.
Nabi saw menganjurkan umatnya untuk bersegera melakukan buka
puasa dan mengakhirkan sahur, dengan tujuan untuk memberi
kemudahan kepada orang yang melaksanakan puasa.
Kita juga banyak menemukan fuqaha yang memutuskan hukum yang
paling mudah untuk dilakukan oleh manusia terhadap sebagian
hukum yang memiliki berbagai pandangan; khususnya yang
berkaitan dengan masalah muamalah. Ada ungkapan yang sangat
terkenal dari mereka: “Keputusan hukum ini lebih mengasihi
manusia.”
Saya bersyukur kepada Allah karena saya dapat menerapkan jalan
kemudahan dalam memberikan fatwa, dan menyampaikan sesuatu
yang menggembirakan dalam melakukan da’wah, sebagai upaya
meniti jalan yang pernah dilakukan oleh Nabi saw. Beliau
pernah mengutus Abu Musa dan Mu’adz ke Yaman sambil memberikan
wasiat kepada mereka,
“Permudahlah dan jangan mempersulit; berilah sesuatu
yang menggembirakan dan jangan membuat mereka lari;
berbuatlah sesuatu yang baik.”7
Diriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah saw bersabda,
“Permudahlah dan jangan mempersulit; berilah sesuatu
yang menggembirakan dan jangan membuat mereka lari.”8
Pada suatu kesempatan saya pernah menjawab berbagai pertanyaan
setelah saya menyampaikan satu kuliah: “Apabila saya mendapati
dua pendapat yang sama-sama baik atau hampir sama dalam satu
masalah agama; yang pertama lebih mengarah kepada
kehati-hatian dan yang kedua lebih mudah, maka saya akan
memberikan fatwa kepada orang awam dengan pendapat yang lebih
mudah, yang lebih saya utamakan daripada pendapat yang
pertama.”
Sebagian kawan yang hadir dalam kuliah itu berkata, “Apa dalil
anda untuk lebih mengemukakan pendapat yang paling mudah atas
pendapat yang lebih hati-hati?”
Saya jawab, “Dalil saya ialah petunjuk Nabi saw, yaitu
manakala beliau dihadapkan kepada dua pilihan, maka beliau
tidak akan memilih kecuali pendapat yang paling mudah; dan
perintahnya kepada para imam shalat jamaah untuk meringankan
ma’mumnya, karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang
tua, dan orang yang hendak melaksanakan kepentingan mereka
setelah itu.”
Kadangkala seorang ulama memberikan fatwa dengan sesuatu yang
lebih hati-hati kepada sebagian orang yang mempunyai kemauan
keras, dan orang-orang wara’ yang dapat menjauhkan diri mereka
dari kemaksiatan. Adapun untuk orang-orang awam, maka yang
lebih utama adalah pendapat yang paling mudah.
Zaman kita sekarang ini lebih banyak memerlukan kepada
penyebaran hal yang lebih mudah daripada hal yang sukar, lebih
senang menerima berita gembira daripada ditakut-takuti hingga
lari. Apalagi bagi orang yang baru masuk Islam, atau untuk
orang yang baru bertobat.
Persoalan ini sangat jelas dalam petunjuk yang diberikan oleh
Nabi saw ketika mengajarkan Islam kepada orang-orang yang baru
memasukinya. Beliau tidak memperbanyak kewajiban atas dirinya,
dan tidak memberikan beban perintah dan larangan. Jika ada
orang yang bertanya kepadanya mengenai Islam, maka dia merasa
cukup untuk memberikan definisi yang berkaitan dengan
fardhu-fardhu yang utama, dan tidak mengemukakan yang
sunat-sunat. Dan apabila ada orang yang berkata kepadanya:
“Aku tidak menambah dan mengurangi kewajiban itu.” Maka Nabi
saw bersabda, “Dia akan mendapatkan keberuntungan kalau apa
yang dia katakan itu benar.” Atau, “Dia akan masuk surga bila
apa yang dia katakan benar.”
Bahkan kita melihat Rasulullah saw sangat mengecam orang yang
memberatkan kepada manusia, tidak memperhatikan kondisi mereka
yang berbeda-beda; sebagaimana dilakukan oleh sebagian sahabat
yang menjadi imam shalat jamaah orang ramai. Mereka
memanjangkan bacaan di dalam shalat, sehingga sebagian ma’mum
mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw.
Nabi saw berpesan kepada Mu’adz bahwa beliau sangat tidak suka
bila Mu’adz memanjangkan bacaan itu sambil berkata kepadanya:
“Apakah engkau ingin menjadi tumpuan fitnah hai Mu’adz? Apakah
engkau ingin menjadi tumpuan fitnah hai Mu’adz? Apakah engkau
ingin menjadi tumpuan fitnah hai Mu’adz?” 9
Diriwayatkan dari Abu Mas’ud al-Anshari, ia berkata, “Ada
seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: ‘Demi Allah
wahai Rasulullah, sesungguhnya aku selalu memperlambat untuk
melakukan shalat Subuh dengan berjamaah karena Fulan, yang
selalu memanjangkan bacaannya untuk kami.’ Aku tidak pernah
melihat Rasulullah saw memberikan nasihat dengan sangat marah
kecuali pada hari itu. Kemudian Rasulullah saw bersabda,
‘Sesungguhnya ada di antara kamu yang membuat orang-orang
lain. Siapapun di antara kamu yang menjadi imam orang ramai,
maka hendaklah dia meringankan bacaannya, karena di antara
mereka ada orang yang lemah, tua, dan mempunyai kepentingan
yang hendak dikerjakan.” 10
Saya juga pernah menyebutkan bahwa orang yang memanjangkan
bacaan shalat jamaah dengan orang banyak ini adalah Ubai bin
Ka’ab, yang memiliki ilmu dan keutamaan, serta menjadi salah
seorang yang mengumpulkan al-Qur’an . Akan tetapi,
bagaimanapun kedudukannya tidak berarti bahwa Rasulullah saw
tidak memungkirinya, sebagaimana dia memberikan wasiat
mengenai hal inl kepada Mu’adz, walaupun dia merupakan orang
yang sangat dicintai dan dipuji oleh Nabi saw.
Sahabat sekaligus pembantu beliau, Anas r.a., berkata, “Aku
tidak pernah shalat di belakang imam satu kalipun yang lebih
ringan, dan lebih sempurna shalatnya dibandingkan dengan Nabi
saw. Jika beliau mendengarkan suara tangisan anak kecil,
beliau meringankan shalat itu, karena khawatir ibu anak itu
akan terkena fitnah.” 11
Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya ketika aku sudah memulai shalat, aku
ingin memanjangkan bacannnya, kemudian aku
mendengarkan suara tangisan anak kecil, maka aku
percepat shalatku, karena aku mengetahui susahnya sang
ibu bila anaknya menangis.” 12
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw bersabda,
“Apabila salah seorang di antara kamu menjadi imam
shalat maka hendaklah ia memperingan bacaan shalatnya,
karena di antara mereka ada orang yang sakit, lemah,
dan tua. Namun bila dia shalat sendirian, maka
hendaklah dia memperpanjang shalatnya sesuai dengan
kemauannya.” 13
Nabi saw sangat mengecam terhadap hal-hal yang memberatkan
apabila hal itu dianggap mengganggu kepentingan orang banyak,
dan bukan sekadar untuk kepentingan pribadi satu orang saja.
Begitulah yang kita perhatikan dalam tindakan beliau ketika ia
mengetahui tiga orang sahabatnya yang mengambil langkah
beribadah yang tidak selayaknya dilakukan, walaupun sebenarnya
mereka tidak menginginkan kecuali kebaikan dan pendekatan diri
kepada Allah SWT.
Diriwayatkan dari Anas r.a. berkata, “Ada tiga orang yang
mendatangi rumah tiga orang istri Nabi saw menanyakan ibadah
yang dilakukan oleh Nabi saw. Ketika mereka diberitahukan
mengenai hal itu, seakan-akan mereka menganggap sedikit apa
yang telah mereka lakukan, sambil berkata, ‘Di mana posisi
kita dari Nabi saw, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya
yang terdahulu dan yang akan datang?’ Salah seorang di antara
mereka juga berkata, ‘Oleh karena itu saya akan melakukan
shalat malam selamanya.’ Orang yang kedua pun berkata, ‘Aku
akan berpuasa selamanya dan tidak akan meninggalkannya.’ Orang
yang ketiga berkata, ‘Sedanglan aku akan mengucilkan diri dari
wanita dan tidak akan kawin selama-lamanya.’ Kemudian
Rasulullah saw datang kepada mereka sambil berkata, ‘Kamu
semua telah mengatakan begini dan begitu. Demi Allah, aku
adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling
bertakwa kepada-Nya, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku
shalat dan aku juga tidur, aku mengawini perempuan. Maka
barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahhu, maka dia tidak
termasuk golonganku.” 14
Diriwayatkan dari Ibn Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi saw
bersabda, “Celakalah orang-orang yang berlebih-lebihan itu
(al-mutanaththi’un).” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga
kali.
Yang dimaksudkan dengan orang-orang yang berlebih-lebihan
(al-mutanaththi’un) ialah “orang-orang yang mengambil tindakan
keras dan berat, tetapi tidak pada tempatnya.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw bersabda,
“Sesungguhnya agama ini mudah, dan orang yang
mengambil yang berat- berat dari agama ini pasti akan
dikalahkan olehnya. Ambillah tindakan yang benar,
dekatkan diri kepada Allah, berilah kabar gembira, dan
mohonlah pertolongan kepada-Nya pada pagi dan petang
hari, dan juga pada akhir malam.” 15
Maksud perkataan Rasulullah saw “kecuali dia akan dikalahkan
olehnya” ialah bahwa orang itu akan dikalahkan oleh agama dan
orang yang mengambil hal-hal yang berat itu tidak akan mampu
melaksanakan semua yang ada pada agama ini karena terlalu
banyak jalan yang harus dilaluinya.
Apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw ini sebenarnya
merupakan kiasan yang artinya: “Mohonlah pertolongan kepada
Allah untuk taat kepada-Nya, melakukan amal kebaikan di
tengah-tengah kegiatanmu dan ketika hatimu lapang, sehingga
kamu merasa senang melakukan ibadah dan tidak bosan
melakukannya; dan dengan demikian kamu dapat mencapai maksud
dan tujuan kamu.” Sebagaimana yang dilakukan oleh musafir yang
pintar, dia berjalan pada waktu-waktu tertentu, kemudian dia
dan kendaraannya beristirahat pada saat yang lain, sehingga
dia sampai kepada tujuannya dan tidak mengalami kepenatan dan
kejenuhan. Wallah a’lam.
Saya sangat terkejut kala saya membaca berita dalam surat
kabar:
“Sesungguhnya pihak berwenang yang mengurus jamaah
haji di kerajaan Arab Saudi mengumumkan kematian dua
ratus tujuh puluh orang jamaah haji ketika melempar
jumrah. Mereka meninggal karena terinjak kaki orang
ramai yang berdesak-desakan untuk melakukan lemparan
selepas tergelincirnya matahari.”
Walaupun telah ada korban yang begitu banyak, tetapi para
ulama masih saja memberikan fatwa ketidakbolehan melempar
jumrah sebelum tergelincirnya matahari, padahal Nabi saw
memudahkan urusan dalam melaksanakan ibadah haji; dan ketika
beliau ditanya tentang amalan yang boleh dimajukan dan
diakhirkan, beliau menjawabnya, “Lakukan saja, dan tidak
mengapa.” Para fuqaha sendiri mempermudah cara pelaksanaan
pelemparan jumrah sehingga mereka memperbolehkan kepada jamaah
haji untuk melakukan lemparan pada hari terakhir, dan juga
boleh mewakilkan kepada orang lain ketika seseorang mempunyai
uzur; yang boleh dilakukan setelah melakukan tahallul terakhir
dari ihram.
Pelemparan jumrah itu, menurut tiga orang imam besar, boleh
dilakukan sebelum tergelincirnya matahari; yaitu oleh seorang
ahli fiqh manasik (‘Atha,), ahli fiqh Yaman (Thawus)
–keduanya merupakan sahabat Ibn Abbas– dan Abu Ja’far
al-Baqir, Muhammad bin Ali bin al-Husain, salah seorang ahli
fiqh Ahl al-Bait.
Jika para ahli fiqh tidak membenarkan lemparan seperti itu,
maka kita dapat memberlakukan fiqh darurat yang mewajibkan
kepada kita untuk mempermudah ibadah kepada Allah, yang
membolehkan kepada kita untuk melakukan lemparan selama dua
puluh empat jam, sehingga kita tidak menjerumuskan kaum
Muslimin kepada kehancuran.
Semoga Allah memberikan pahala kepada Syaikh Abdullah bin Zaid
al-Mahmud, yang telah memberikan fatwa lebih dari tiga abad
yang lalu, yang membolehkan lemparan sebelum tergelincirnya
matahari, yang termuat di dalam bukunya, Yusr al-Islam (Islam
yang Mudah).
Catatan Kaki:
1 Diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad; dan Thabrani dari Mahjan bin al-Adra’; dan juga
diriwayatkan oleh Thabrani dari Imran bin Hushain dalam
al-Awsath; dan Ibn Adiy dan al-Dhiya’ dari Anash (Lihat
al-Jami’ as-Shaghir, 3309)
2 Diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad; dan Thabrani dari Ibn Abbas. (Ibid., h. 160)
3 Muttafaq ‘Alaih, sebagaimana yang dimuat dalam al-Lu’lu’ wa
al-Marjan (1502).
4 Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Hibban, dan Baihaqi di dalam
as-Syu’ab dari Ibn Umar (Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 1886)
5 Muttafaq ‘Alaih, al-Lu’lu’ wa al-Marjan (681).
6 Muttafaq Alaih, ibid . 684
7 Muttafaq Alaih dari Abu Burdah, ibid 1130
8 Muttafaq Alaih ibid., 1131
9 Diriwayatkan oleh Bukhari.
10 Muttafaq ‘Alaih lihat al-Lu’lu’ wal-Marjan, 267.
11 Muttafaq ‘Alaih, lihat al-Lu’lu’ wal-Marjan, 270.
12 Muttafaq ‘Alaih, lihat al-Lu’lu’ wal-Marjan, 168.
15 Diriwayatkan oleh Bukhari dan Nashai (Shahih al-Jami’
as-Shaghir, 1611)
——————————————————
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M
===
Dalam daftar penyumbang, misalnya untuk membantu korban gempa atau pun lainnya, tak jarang kita jumpai bahwa penyumbangnya ialah Hamba Allah. Semoga mereka itu benar-benar hamba Allah. Semoga pula kita terdorong untuk juga menjadi Allah.
Aku sendiri takut menjuluki diriku Hamba Allah. Aku malu kepada-Nya. Di benakku seolah-olah terdengar suara-Nya, “Hai, Shodiq! Benarkah kamu hamba-Ku? Tidakkah kamu adalah hamba internet? Bukankah kamu keasyikan ngakses internet berjam-jam setiap hari? Bukankah untuk menyembah Diriku melalui shalat, kamu melakukannya hanya beberapa menit setiap harinya?”
Note: copas dri web taaruf
===
Surat Cinta dari hamba-hamba
yang malamnya penuh cinta,..Subhanallah
ditujukan kepada :
Ikhwah fillah yang tersia-sia waktu malamnya Gubraks! Gubraks!
Assalamualaykum warohmatulloohi wabarokaatuh
Wahai orang-orang yang terpejam matanya,
Perkenankanlah kami, manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat
cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam
yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada
keagungan dan rahasianya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu
bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia.
Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam kami
berhiaskan intan dan mutiara dari surga.
Wahai orang-orang yang terlelap,
Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya yang pekat membuat matamu tak
mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi
senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta.
Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena,menikmati
tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan
gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian
hangatnya. Aduhai kau sangat menikmatinya.
Wahai orang-orang yang terlena,
Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu !! Yang setiap malam terpejam
matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau yang terlena oleh
suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti dirimu !! Kami
adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau dengar Sang
Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya di surga itu
ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya
terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-
orang yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan sholat
pada saat manusia terlelap dalam tidur malam." Sudahkah kau dengar
tadi ? Ya, sebuah kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang
yang mendirikan sholat pada saat manusia-manusia yang lain tertutup
mata dan hatinya.
Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta,
Kau pasti pernah mendengar namaku disebut. Aku Abu Hurairah,
Periwayat Hadist. Kerinduanku akan sepertiga malam adalah hal yang
tak terperi. Penghujung malam adalah kenikmatanku terbesar. Tapi
tahukah kau ? Kenikmatan itu tidak serta merta kukecap sendiri.
Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga. Satu
untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan
yang aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan
sholat, maka kami bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati
bagiannya. Subhanallah, tak tergerakkah dirimu ? Pedulikah kau pada
keluargamu ? Adakah kebaikan yang kau inginkan dari mereka ? Sekedar
untuk membangunkan orang-orang yang paling dekat denganmu,
keluargamu ?
Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku
sebagai Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang
ulama tersohor Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, " Nuruddin
itu kecanduan sholat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan
akidah yang benar." Kemenangan demi kemenangan aku raih bersama
pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu terlibat dalam sebuah
perbincangan seru. Kata mereka, " Nuruddin Mahmud Zanki menang bukan
karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia mempunyai
rahasia bersama Tuhan". Aku tersenyum, mereka memang benar.
Kemenangan yang kuraih adalah karena doa dan sholat-sholat malamku
yang penuh kekhusyuan.
Tahukah kau dengan orang yang selalu setia mendampingiku ? Dialah
Istriku tercinta, Khotun binti Atabik. Dia adalah istri shalehah di
mataku, terlebih di mata Alloh. Malam-malam kami adalah malam penuh
kemesraan dalam bingkai Tuhan. Gemerisik dedaunan dan desahan angin
seakan menjadi pernak-pernik kami saat mendung di mata kami jatuh
berderai dalam sujud kami yang panjang.
Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan
jiwaku itu tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang
membuatnya resah. Ya Alloh, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada
malam itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk beribadah.
Astaghfirulloh, aku menyesal telah membuat dia kecewa. Segera
setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku dengan mengangkat
seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu kuperintahkan untuk
menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga malamnya.
Wahai orang-orang yang terbuai,
Kau pasti mengenalku dalam kisah pembebasan Al Aqso, rumah Allah
yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang Panglima
Perang, Sholahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang hidup di zamanku
mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu menjaga
sholat berjamaah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Alquran
yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling
kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku.
Sedangkan siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata,
pengejawantahan cintaku pada-Nya.
Wahai orang-orang yang masih saja terlena,
Pernahkah kau mendengar kisah penaklukan Konstantinopel ? Akulah
orang dibalik penaklukan itu, Sultan Muhammad Al Fatih. Aku sangat
lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun tahukah kau bahwa sehari
sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan kepada pasukanku
untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba, kami
laksanakan sholat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan-
Nya. Jika Alloh memberikan kematian kepada kami pada siang hari
disaat kami berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar.
Biarlah siang hari kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu,
di ujung malamnya Alloh temukan kami berada dalam kehidupan.
Kehidupan dengan menghidupi malam kami.
Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya,
Pernahkah kau dengar kisah Penduduk Basrah yang kekeringan ? Mereka
sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik
matahari terasa sangat menyengat, padang pasir pun semakin kering
dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Sholat
Istisqo yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada
wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atho
As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Sholat dimulai, dua rakaat pun usai.
Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah.
Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada
tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu,
tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-
dosa yang kami lakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit ?
Padahal kami semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini ?
Sholat demi sholat Istisqo didirikan, namun hujan tak kunjung
datang. Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani
terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang
pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang
ke masjid itu. Langkahku menuju mihrab, kuniatkan untuk sholat
Istisqo sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak gerikku.
Setelah sholat, dengan penuh kekhusyuan kutengadahkan tanganku ke
langit, seraya berdoa :
"Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang
kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi
sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu
sudah habis ? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang ?
Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku
agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya."
Lalu apa gerangan yang terjadi ? Angin langsung datang bergemuruh
dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh
mendengar doa seorang pelayan ini. Doaku dikabulkan oleh Tuhan,
hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah
lama merindukannya.
Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau
pasti juga heran bukan ? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam
pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya
manusia biasa, tapi aku menjadi sangat luar biasa karena doaku yang
makbul dan malam-malam yang kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub
pada-Nya.
Wahai orang-orang yang masih saja terpejam,
Penghujung malam adalah detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi.
Suatu hari muridku menanyakan kepadaku, bagaimana aku bisa
menciptakan berbagai karya yang banyak ? Kapan aku beristirahat,
bagaimana aku mengatur tidurku ? Lalu kujelaskan padanya, "Jika aku
mengantuk, maka aku hentikan sholatku dan aku bersandar pada buku-
bukuku sejenak. Selang beberapa waktu jika telah segar kembali, aku
lanjutkan ibadahku."
Aku tahu kau pasti berpikir bahwa hal ini sangat sulit dijangkau
oleh akal sehatmu. Tapi lihatlah, aku telah melakukannya, dan
sekarang kau bisa menikmati karya-karyaku.
Wahai orang-orang yang tergoda,
Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk lehermu saat kau tertidur
pulas ? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk lehermu !! Dia lalu
menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, "Hai manusia, Engkau masih
punya malam panjang, karena itu tidurlah !!".
Hei, Sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu
muslihatnya ! Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah,
bangkitlah, kerahkan kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah
nama Alloh, maka akan lepas ikatan yang pertama. Kemudian,
berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang kedua. Dan yang terakhir,
sholatlah, sholat seperti kami, maka akan lepaslah semua ikatan-
ikatan itu.
Wahai orang-orang yang masih terlelap,
Masihkah kau menikmati malam-malammu dengan kepulasan ? Masihkah ?
Adakah tergerak hatimu untuk bangkit, bersegera, mendekat kepada-
Nya, bercengkerama dengan-Nya, memohon keampunan-Nya, meski hanya 2
rakaat ? Tidakkah kau tahu, bahwa Alloh turun ke langit bumi pada
1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau tahu, bahwa Dia
berkata, "Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon kepada-Ku
akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan siapa
yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata
demikian, hingga fajar merekah.
Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia,
Bagi kami, manusia-manusia malam, dunia ini sungguh tak ada artinya.
Malamlah yang memberi kami kehidupan sesungguhnya. Sebab malam bagi
kami adalah malam-malam yang penuh cinta, sarat makna. Masihkah kau
terlelap ? Apakah kau menginginkan kehidupan sesungguhnya ? Maka
ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam. Kelak kau akan temukan
cahaya di sana, di waktu sepertiga malam. Namun jika kau masih ingin
terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk,
bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik
selimutmu yang demikian hangatnya, maka surat cinta kami ini sungguh
tak berarti apa-apa bagimu.
Semoga Alloh mempertemukan kita di sana, di surga-Nya, mendapati
dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi luarnya terlihat
dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. wallahualam...
Wassalamualaykum warohmatulloohi wabarokaatuh,
Dari kami:
Hamba2 Allah penghidup Malam
Ikhlas memang sangat mudah untuk diucapkan tapi sangat sulit untuk dijalanin. Karena itu membutuhkan proses yang panjang sehingga bisa membimbing kita pada sebuah keikhlasan.
Ketika cintaku terbentur dengan restu orang tua dan ketika aku harus menerima kenyataan orang yang aku sayangi menikah dengan orang lain. Ketika rencana hanyalah tinggal sebuah rencana yang tidak terwujud. Tidak mudah untuk menerima kenyataan itu bahkan mungkin sangat sulit untuk aku terima. Hari demi hari aku lewati dengan air mata dan kesedihan. Di kesunyian dan keheningan malam aku menangis di hadapanNYA bukan untuk menyesali apa yang terjadi padaku tapi menyesal kenapa aku belum bisa menjadi hambaNYA yang ikhlas menerima kenyataan ini.
Tapi itulah hidup. Adakalanya kita harus mengalami sesuatu yang pahit. Apapun yang terjadi itulah yang terbaik buat aku meski aku harus sedih, kecewa dan merasa diperlakukan tidak adil.
Aku hanya berusaha untuk ridha dengan semua ketentuan yang telah digariskan oleh ALLAH. Menerima apapun yang terjadi bukan berarti tidak berusaha untuk meraih sesuatu yang lebih baik. Tapi berusaha untuk ikhlas dan menyerahkan semua ini kepadaNYA akan menenangkan hati yang gelisah. Karena dibalik kejadian ini pasti ada hikmahnya dan Insya ALLAH bisa membimbing aku untuk menjadi seseorang yang kuat, sabar dan ikhlas dalam menjalani hidup.
Ketika kita ikhlas dan bersyukur dengan semua yang diberikan ALLAH akan memberikan ketenangan yang luar biasa di hati kita. Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan dan DIA akan memberikan jalan yang terbaik. Yakin bahwa rencana ALLAH itu lebih indah.
Buat sahabat2ku yang lagi sedih, harus tetap semangat karena ALLAH sayang kepada hambaNYA yang kuat dalam menjalani ujian dariNYA. Karena sebenarnya begitu banyak anugerah dan nikmat yang diberikan olehNYA yang harus kita syukuri. Selalu berprasangka baik kepadaNYA dan bersyukur ALLAH masih memberikan ujian kepada kita, itu berarti kita termasuk orang2 yang masih diperhatikan olehNYA ALLAH selalu memberikan sesuatu yang kita butuhkan bukan sesuatu yang kita inginkan. Karena DIA lebih tahu mana yang terbaik buat hambaNYA.
Ikhlas, sabar dan bersyukur adalah 3 kunci orang hidup. Tidak mudah bahkan mungkin sangat sulit. Tapi tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan mencoba untuk menjalaninya dalam kehidupan kita.
Terima Kasih Yaa ALLAH untuk kasih sayang, kekuatan dan semua yang sudah Engkau berikan kepadaku. Berikan petunjuk dan bimbinganMu kepadaku seperti yang telah Engkau berikan kepada hamba2Mu yang Engkau sayangi. Ijinkanlah aku untuk menghabiskan sisa umurku untuk lebih dekat dan mencintaiMu.
-
Allah menyembunyikan murka-Nya di dalam kemaksiatan. Maka jangan meremehkan maksiat sekecil apapun. Karena kita tidak akan pernah tahu maksiat yang mana yang mendapat murka Allah.
Allah menyembunyikan ridha-Nya di dalam kebaikan. Maka jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun. Karena kita tidak akan pernah tahu kebaikan yang mana yang mendapat ridha Allah.
Tutuplah pintu-pintu masuk Syaithan, yaitu: sombong, marah, makan berlebihan, berhias bukan untuk suami/istri, mengumpul-ngumpulkan harta, iri, dengki, dan syirik.
Tidak ada yang pasti terjadi di dunia kecuali kematian. Dan tidak ada yang lebih dekat dari kita kecuali kematian.
"Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tdk ada naungan kecuali naungan-Nya.
1. Pemimpin yg adil,
2. Pemuda yg sentiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya,
3. Orang yg hatinya sentiasa berpaut pada masjid-masjid
4. Dua orang yg saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah,
5. Seorang lelaki yg diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yg cantik utk melakukan kejahatan tetapi dia berkata, Aku takut kepada Allah,
6. Seorang yg memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya dan
7. Seseorang yg mengingati Allah di waktu sunyi sehingga mengalirlah air mata dr kedua matanya" (HR. Bukhari & Muslim)
Copas dari forum sebelah :
Surat Terbuka untuk Calon Ahli surga
Yang Akhlaq Mereka Dicemburui Bidadari
Buat Saudariku
yang dirahmati oleh Allah
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ukhti yang baik,
Kecantikan adalah anugerah. Senyum manis adalah berkah. Sungguh karunia dari Allah bahwa wanita diciptakan memiliki kecantikan yang sangat mempesona. Dan kecantikan itulah yang akan menjadi jalannya menuju surga, jika ia mampu membarenginya dengan akhlaq yang mulia.
Rasulullah menjelaskan bahwa di antara fitrah lelaki adalah menyukai kecantikan wanita. Bahkan ‘Aisyah yang merupakan salah seorang shahabiyah paling pandai di masa itu, terkenal pula karena kecantikannya. Rasulullah menjulukinya Humaira`: Gadis yang pipinya merona merah.
Dan karena kecantikannya itu, wanita dapat mengumpulkan pahala yang sebesar-besarnya dari Allah. Caranya? Bersyukurlah atas nikmat yang Allah berikan itu dan pandailah menjaga diri. Rasulullah mengajarkan cara bersyukur itu dengan membiasakan diri membaca do’a tatkala bercermin:
اللَّهُمَّ كّمَا حَسَّنْتَ خَلْقِيْ فَحَسِّنْ خُلُقِيْ
Yang maknanya, “Ya Allah… Sebagaimana Engkau telah mengelokkan parasku, elokkan pulalah akhlaqku…”
Ukhti yang dijaga oleh Allah…
Tak ada yang salah dengan kecantikan, karena, seperti kata pepatah, kecantikan bukanlah suatu dosa. Tapi sungguh itu tak berarti bahwa setiap wajah yang cantik berhak dijadikan barang tontonan. Kami kaum pria sangat bersedih karena sekarang ini banyak di antara kawan-kawan Ukhti yang gemar memajang wajah cantik mereka di profil Facebook. Juga di blog-blog yang katanya pribadi, tapi nyatanya dapat diakses oleh siapapun.
Ini adalah satu hal yang sangat marak belakangan ini. Satu hal yang dianggap lumrah, sehingga para gadis berjilbab itu memasang pose-pose mereka di foto-foto yang kian hari kian bertambah jumlahnya. Seakan nama saja sudah tidak cukup.
Mohon Ukhti tanyakan pada mereka, apa sesungguhnya tujuan mereka memajang foto tersebut di tempat-tempat publik? Yakni foto dengan gaya yang menggoda serta senyum yang memikat!
Jika tujuan berjilbab itu adalah agar menutupi aurat dan terhindar dari pandangan-pandangan jahat, apakah itu pula yang menjadi tujuan mereka saat bergaya di depan kamera dan memamerkannya pada setiap orang?
Jika berjilbab itu tujuannya adalah mencari ridho Allah, apakah tujuan memperlihatkan foto-foto itupun adalah ridho Allah? Apakah betul Allah akan ridho pada wanita yang melakukan hal itu?
Ukhti yang baik,
Kami kaum pria sangat bersedih menghadapi fenomena ini. Mengapa? Karena mungkin saja di antara gadis-gadis yang fotonya tersebar di seantero jagad ini adalah istri atau calon istri kami. Apakah mereka tidak tahu bahwa foto mereka tersimpan dalam komputer puluhan, ratusan atau bahkan mungkin jutaan pria lain yang tidak berhak? Yang mungkin saja dijadikan sarana oleh para pendosa sebagai ajang bermaksiat? Apakah mereka mengijinkan pria-pria selain suami mereka itu menyimpan foto-foto tersebut?
Ukhti,
Kami kaum pria sangat bersedih mendapati semua ini. Mengapa? Karena mungkin saja di antara foto yang tersebar luas itu adalah ibu atau calon ibu kami, yang seharusnya menunjukkan caranya menjaga diri, bukan dengan menunjukkan hal-hal yang seharusnya disembunyikan…
Kami kaum pria sangat bersedih menyaksikan semua ini. Mengapa? Karena mungkin saja di antara foto yang tersebar luas itu adalah guru atau calon guru kami, yang seharusnya mendidik dan mengajarkan Al Qur’an serta akhlaqul karimah kepada kami.
Apakah semua ini akan dibiarkan begitu saja tanpa ada penyelesaian? Tanpa ada seorangpun yang berani menegur serta mengingatkannya, memberitahukan bahwa itu adalah sebuah kesalahan? Atau harus menunggu tangan-tangan jahat memanfaatkannya untuk merusak harga diri dan menyebarkan aib yang seharusnya ditutup rapat-rapat?
Ukhti yang baik…
Jazakillah khairan… Terima kasih banyak karena Ukhti tetap pandai menjaga diri dari sekecil apapun celah-celah kealpaan. Tapi tolong sampaikan pula pada kawan-kawan Ukhti, agar merekapun mengikuti jejak ukhti dengan menghapus foto-foto mereka dari Facebook dan blog-blog mereka. Sampaikanlah pada mereka agar menahan diri dari keinginan menunjukkan eksistensi diri di hadapan pria yang tidak berhak.
Jika mereka ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka cantik, cukuplah tunjukkan pada suami mereka saja. Atau orang tua dan anak-anak mereka saja. Karena Allah Maha Tahu segala sesuatu. Jika mereka membutuhkan sanjungan atas kecantikan yang telah dianugerahkan Allah pada mereka, biarlah Allah saja yang menyanjungnya, dengan balasan berlipat-lipat ganda di hari akhirat kelak.
Dan jika mereka ingin kecantikan mereka dikagumi, biarkanlah suami mereka saja yang mengagumi, lalu memberikannya sejuta hadiah cinta yang tidak akan pernah ada bandingnya…
Sementara kami, kaum pria yang tidak atau belum berhak atas itu semua, biarlah asyik masyuk tenggelam dalam do’a, agar dianugerahi istri yang cantik dan shalehah, ibu yang baik dan bersahaja, guru yang taat dan menjaga martabatnya…
Agar Allah mengumpulkan kita kelak di surgaNya. Meraih ridho dan ampunanNya serta dihindarkan dari adzab neraka…
Atas perhatian dari Ukhti, saya ucapkan jazakillah khairal jaza…
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Salam Hormat,
rickyfirman
====
1. Marah QS 15:37
“Sesungguhnya Allah suka pada pandangan yang kritis dalam memecahkan berbagai kesalahpahaman dan akal yang sadar dalam mengatasi berbagai rintangan”. (Al Ihya – Muhasabatun Nafsi)
“Ada seorang laki-laki meminta kepada Nabi SAW katanya: “Wasiatkan kepada saya, ya Rasulullah! Baginda Nabi SAW menjawab: jangan marah! Orang itu mengulangi permintaanya dan nabi berpesan mengulangi katanya “jangan marah!” (Al – Bukhari)
“Tidak ada minuman yang lebih besar pahalanya di sisi Allah dari pada seteguk kemarahan yang ditahan oleh seorang hamba karena mengharapkan ridhonya”. (R. Ibnu Majah)
“Siapa yang menolak marahnya Allah akan menolak siksanya dari orang itu dan orang yang melihat lidahnya Allah akan memelihara auratnya.” (R. At Thabrani)
“Orang tidak dikatakan kuat karena kuat berkelahi, tetapi karena ia bisa menguasai marahnya.”
2. Hawa Nafsu
“Makan dan minumlah serta bersedekahlah kalian selama tidak disertai dengan penghamburan dan pemborosan.” (R. An Nasai dan Ibnu Majah)
“Termasuk pemborosan jika kamu makan apa saja sesuai yang kamu inginkan.” (R. Ibnu Majah dan Al baihaqi)
“Sesungguhnya orang-orang yang senang makan kenyang di dunia mereka akan menderita lapar di akhirat kelak.” (R. At Thabrani dan Sanad Hasan)
“Aku tidak meninggalkan sesudahku fitnah lebih berbahaya adalah perempuan untuk para lelaki.” (Muttafaqun alaihi)
“Hendaklah kalian memejamkan mata dan memelihara kemaluan kalian kalau tidak maka Allah akan menyuramkan wajah kalian.” (R. At Thabrani)
“Pada tiap-tiap pagi ada dua malaikat berseru: celakalah bagi lelaki dari perempuan dan celakalah bagi perempuan dari lelaki.” (R. IBnu Majah dan Al Hakim)
3. Nafsu kepada harta
a) Tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup, tapi harta dijadikan sarana untuk melakukan kebaikan.
b) Menjadikan harta sebagai isi kantong bukan isi kalbu.
c) Tidak menimbunnya, tapi mengembangkannya dengan cara yang halal, bukan dengan cara yang haram dan meragukan.
d) Bagian untuk si miskin dan si fakir hendaknya ditunaikan.
e) Dalam hal menafkahkannya hendaklah diatur agar tidak berhamburan dan tidak pula dipersempit.
4. Terburu nafsu
“Ketenangan itu dari Allah dan terburu nafsu itu dari syetan.” (R. Al Baihaqi)
5. Ujub
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tiupan kesombongan.” (R. Ahmad)
a) Sombong karena ilmu
“Rusaknya ilmu akibat sombong.” (Al Ihya Jilid 3, hal 347)
“Siapa yang belajar ilmu untuk menandingi para ulama dan untuk berdebat dengan orang-orang bodoh serta ingin menarik perhatian orang maka Allah akan memasukannya ke dalam api neraka.” (R. At Thabrani)
b) Sombong karena beragama
“Sungguh celaka orang yang berlebih-lebihan dalam agamanya.” Perkataan ini diulanginya sampai 3 kali. (R. Muslim)
c) Sombong karena pangkat
“Allah berfirman; Hai anak Adam! kamu hendak menandingi aku, padahal aku sudah menciptakan kamu sehingga semacam ini, setelah aku selesaikan dan aku perindah dirimu, kamu lupa daratan dan perlahan-lahan kamu lupa asal usulmu. Kamu terus mengumpulkan harta dan menimbunnya, sehingga apabila maut datang menjemputmu, baru kamu ingat dan berkata: Aku bersedekah, mana mungkin pintu sedekah dibuka lagi. (Al Ihya)
d) Sombong karena uang QS 24:76, 78, 81
e) Hasud QS 113:1-5
“Dua ekor srigala lapar yang berhasil memasuki kandang sekelompok kambing tak lebih jahat dari sifat rakus pada harta dan dengki. Hati-hatilah terhadap perasaan dengki karena itu akan melahap semua kebaikan seprti api membakar kayu.” (R. Abu Daud)
====
Bagaimana jika Allah tidak memberkati kita hari ini ...
Karena kita tidak BERSYUKUR hari kemarin
Bagaimana jika Allah berhenti memberi petunjuk esok …
Karena kita membangkang hari ini
Bagaimana jika kita tidak melihat bunga indah bermekaran …
Karena kita menggerutu saat Allah menurunkan hujan
Bagaimana jika Allah menarik Al Quran …
Karena kita malas membaca dan memperhatikannya
Bagaimana jika Allah menghapus semua firman-Nya …
Karena kita gagal meneladani Nabi Muhammad saw.
Bagaimana jika pintu-pintu masjid tertutup …
Karena kita tidak pernah membuka pintu hati
Bagaimana jika Allah berhenti mencintai kita …
Karena kita berhenti mencintai manusia
Bagaimana jika Allah mengabulkan permintaan kita …
Sesuai sikap kita terhadap panggilan adzan
Bagaimana jika Allah memenuhi kebutuhan kita …
Sama banyaknya dengan kita memperjuangkan agama Allah
Sejenak, pejamkan mata kita …
Bayangkan andai semua itu terjadi …
Tak ada lagi bunga indah, tak ada lagi Al Quran yang menentramkan hati kita, tak ada lagi masjid yang bisa kita masuki.
Hidup tanpa cinta-Nya, tanpa petunjuk-Nya, tanpa pertolongan-Nya …
Mari bersyukur sebelum kita kehilangan semua nikmat ini.
====
1. Allah wont ask what kind of car you drove, but will ask how many people
you drove who didnt have transportation.
2. Allah wont ask what your highest salary was, but will ask if you
compromised your character or morals to obtain that salary.
3. Allah wont ask the square footage of your house, but will ask how many
people you welcomed into your home.
4. Allah wont ask about the fancy clothes you had in your closet, but will
ask how many of those clothes helped the needy.
5 Allah wont ask about your social status, but will ask what kind of class
you displayed.
6. Allah wont ask how many material possessions you had, but will ask if
they dictated your life.
7. Allah wont ask how much overtime you worked, but will ask if you worked
overtime for your family and loved ones.
8. Allah wont ask how many promotions you received, but will ask how you
promoted others.
9. Allah wont ask what your job title was, but will ask if you performed
your job to the best of your ability.
10. Allah wont ask what you did to help yourself, but will ask what you did
to help others.
11. Allah wont ask how many friends you had, but will ask how many people
to whom you were a true friend.
12. Allah wont ask what you did to protect your rights, but will ask what
you did to protect the rights of others.
13. Allah wont ask in what neighborhood you lived, but will ask how you
treated your neighbors.
14. Allah wont ask about the color of your skin, but will ask about the
content of your character.
15. Allah wont ask how many times your deeds matched your words, but will
ask how many times they didnt.
I say:
Dont ask what Allah has done for you, but ask what youve done for
Allah
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: "Rasulullah bersabda : "Siapa saja yang
dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka diberikan cobaan kepadanya."
(HR.Bukhari)
====
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan
( pahala ) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
( perasaan si penerima )."
Al-Baqarah: 264
Al-Wahidy berkata, " Maksudnya adalah menyebut-nyebut apa yang
sudah diberikan."
Al-Kalby berkata, " Menyebut-nyebut sedekahnya kepada Allah dan
menyakiti perasaan orang yang menerimanya."
Dalam sebuah hadith disebutkan, Rasulullah saw. bersabda,
" Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari
kiamat kelak, serta tidak akan dipandang-Nya, dan tidak pula
disucikan-Nya, iaitu orang yang menghulurkan kainnnya, orang yang
suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang menjual
dagangannya dengan sumpah palsu."
HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai dari Abu Dzar al-Ghifari.
Dalam sebuah hadisthyang lain disebutkan,
" Tiga golongan yang tidak akan masuk syurga; orang yang derhaka
kepada ibu bapanya, orang yang terus menerus meminum arak, dan
orang yang suka menungkit-ungkit pemberiannya."
Dalam hadith lain disebutkan,
" Tidak akan masuk surga orang yang memperdaya, orang yang bakhil,
dan orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian."
HR Ahmad
Rasulullah saw. bersabda, "Jauhilah mengungkit-ungkit kebaikan,
sebab ia akan membatalkan rasa syukur dan menghapuskan pahala."
Lalu Rasulullah membacakan ayat, " Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu menghilangkan ( pahala ) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti ( perasaan si penerima )."
Satu hari Ibnu Sirrin mendengar seseorang berkata kepada
temannya,
" Aku sudah berbuat baik kepadamu, aku sudah melakukan ini dan
itu."
Maka, Ibnu Sirrin menegurnya dan berkata, " Hai diamlah! Tidak ada
kebaikan dalam amal kebajikanmu jika ia disebut-sebut! "
Sebahagian ulama berkata, " Barangsiapa mengungkit-ungkit
kebaikannya, ia bukan termasuk orang yang bersyukur dan
barangsiapa merasa bangga dengan amalnya, pahalanya menjadi
terhapus."
Wallahualam bishshawab
Someone sent me this...
====
Beberapa tahun yang lalu seorang Imam pindah ke New
York. Dia sering naik bis dari rumahnya ke pinggiran
kota. Beberapa pekan setelah kepindahannya itu ia
kebetulan naik bis yang sama dengan sopir yang sama
pula. Ketika dia duduk setelah membayar ongkos,
diketahuinya bahwa rupanya si sopir memberi kembalian
berlebih setali (tiga uang, 25 sen).
Ketika di Imam itu berfikir apa yang akan dilakukan,
dalam hati dia berkata kepada dirinya sendiri:
"Sebaiknya kembalikan kelebihan itu. Berdosa
mengambilnya".
Kemudian dia berfikir pula: "
Oh, lupakan sajalah, itu hanya uang setali. Siapa akan
peduli akan uang sebesar itu? Perusahaan bis ini telah
mendapat keuntungan yang jauh-jauh lebih besar dari
itu! Anggap sajalah uang itu sebagai hadiah dari
Allah."
Ketika dia sampai di tempat tujuan, ia berhenti
sejenak di pintu, lalu ia menyerahkan uang sekeping
itu kepada si supir sambil berkata:
"Ini, rupanya Anda memberi kembalian terlalu banyak".
Si supir dengan sekulum senyum menjawab:
"Assalamu alaikum. Bukankah Anda Imam untuk Muslim
daerah ini? Akhir-akhir ini saya merasa ingin shalat
di masjid Anda. Yang tadi itu saya hanya ingin melihat
apa yang Anda lakukan jika saya memberi Anda kelebihan
kembalian!".
"Wa alaikum salam", jawab sang imam sambil
melanjutkan melangkah turun bis. Begitu sampai di
tanah dia merasa lemah, kakinya sepertinya tidak
mampu lagi menopang tubuhnya, sehingga ia harus
berpegang pada tiang di dekatnya. Dengan menengadahkan
wajahnya dia berkata:
"Ya Allah, hampir-hampir saja saya jual NamaMu dan
Islam hanya dengan nilai setali".
Wa l-Lahu alamu bi sh-shawwab.
Apa yang tertulis di atas mungkin saja benar-benar
terjadi, karena tidak ada penulisnya yang dapat
dikonfirmasi. Namun demikian terkait dengan
itu ada baiknya juga diingat pesan Rasulullah saw.
tentang pentingnya amalan-amalan yang mungkin terkesan
kecil artinya. Rasulullah saw. mengingatkan kita
dalam sabdanya:
"JANGANLAH ENGKAU MENGANGGAP HAL-HAL YANG KECIL
SEBAGAI TAK PENTING, MESKIPUN HANYA BERUPA WAJAH YANG
MANIS KETIKA MENJUMPAI SAUDARA-SAUDARAMU!"
(HR Muslim, dari Abu Dzarr )
====
Artinya, ingatlah setiap nikmat yang Allah
anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah
melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke
bawah kedua telapak kaki.
{Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu
tidak akan sanggup menghitungnya.}
(QS. Ibrahim: 34)
Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan,
udara dan air, semuanya tersedia dalam hidup kita.
Namun begitulah, Anda memiliki dunia, tetapi tidak
pernah menyadarinya. Anda menguasai kehidupan,
tetapi tak pernah mengetahuinya.
{Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir
dan batin.}
(QS. Luqmn: 20)
Anda memiliki dua mata, satu lidah, dua bibir, dua
tangan dan dua kaki.
{Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu
dustakan? }
(QS. Ar-Rahmn: 13)
Apakah Anda mengira bahwa, berjalan dengan kedua
kaki itu sesuatu yang sepele, sedang kaki acapkali
menjadi bengkak bila digunakan jalan terus menerus
tiada henti? Apakah Anda mengira bahwa berdiri
tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang mudah,
sedang keduanya bias saja tidak kuat dan suatu
ketika patah?
Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala
tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar
Anda masih banyak yang tidak bias tidur karena
sakit yang mengganggunya? Pernakah Anda merasa
nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan
minuman dingin saat masih banyak orang di sektiar
Anda yang tidak bias makan dan minum karena sakit?
Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran,
yang dengannya Allah menjauhkan Anda dari
ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata
Anda yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit Anda
yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan
renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak Anda yang
selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang
menghinakan.
Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas
sebesar gunung Uhud, atau menjual pendengaran Anda
seharga perak satu bukit? Apakah Anda mau membeli
istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah
Anda, hingga Anda bisu? Maukah Anda menukar kedua
tangan Anda dengan untaian mutiara, sementara
tangan Anda buntung?
Begitulah, sebenarnya Anda berada dalam kenikmatan
tiada tara dan kesempurnaan tubuh, tetapi Anda
tidak menyadarinya. Anda tetap merasa resah,
suntuk, sedih, dan gelisah, meskipun Anda masih
mempunyai nasi hangat untuk disantap, air segar
untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur
pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.
Anda acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada,
sehingga Anda pun lupa mensyukuri yang sudah ada.
Jiwa Anda masih terguncang hanya karena kerugian
materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya Anda
masih memegang kunci kebahagiaan, karunia,
kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan
semua itu, dan kemudian syukurilah!
{Dan, pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak
memperhatikan. }
(QS. Adz-Dzriyt: 21)
Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri,
keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa
saja yang tersedia di sekeliling Anda. Dan
janganlah termasuk golongan di bawah ini.
{Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudia mereka
mengingkarinya. }
(QS. An-Nahl: 83)
Dikutip dari Buku :
La Tahzan!
Jangan Bersedih !
DR. Aidh al-Qarni
====
Saudaraku, Wahai hamba Allah, malam telah melewati setengahnya, siapa
diantara kalian yang telah introspeksi diri dan insaf untuk melakukan
ketaatan kepada Allah, siapa di antara kalian yang telah bangun di
malam ini dengan memenuhi hak-haknya? Siapa diantara kalian yang berkeinginan untuk membangun ruangan di surga sebelum pintunya di tutup ? Ingatlah bahwa umur kalian semakin berkurang, berbekallah dengan amal perbuatan. Sepertinya kalian telah mengabaikan hal itu. Semua amal baik akan mendapatkan balasan dan imbalan yang pantas. Apabila malam kalian tetap seperti ini, dari mana kalian akan mendapatkan imbalan dan balasan ?
Saudaraku, berhentilah dan introspeksilah dirimu dengan jujur katakan
kepada dirimu :
Sampai kapan aku akan terus bicara dan tidak berbuat.
Berapa kali aku memiliki keinginan dan tidak pernah aku laksanakan.
Betapa tercelanya kedua mataku, yang tidak berhenti dari kebodohan ini.
Betapa senang nafsuku, yang tidak mau menerima ketaatan.
Berapa kali ia hanya memberi alasan,-celakalah dia- dengan mengatakan
"seandainya", "akan", dan berapa kali engkau mengulurnya Berapa kali ia hanya memiliki angan-angan yang tidak pernah punah Lalu di lupakan, padahal kematian tidak pernah terlupakan, pasti akan datang.
( Al-Affani, Ruhban al-lail,II:471 )
Saudaraku, semoga Allah memberikan rahmat pada penyair yang mengatakan:
“Aduh, malam telah berlalu separohnya dan telah hilang Kemenangan masuk surga akan diberikan khusus kepada orang yang mengabdi. Orang yang lalai dan miskin akan mengeluh Seperti aku ini, celakalah kau wahai yang selalu menyanjung hal haram. Siapa yang tidak menanam pada waktu purnama Maka ia tidak akan terlihat menuai, kecuali hanya duka dan penyesalan Bahagialah orang yang menjadikan takwa sebagai dagangannya pada waktu malam, dan selalu berpegang pada tali Allah.
(Dari Bersujud Di Keheningan Malam, Muhammad Shalih Ali Abdillah Ishaq)
===
"Wahai manusia !
Aku heran pada orang yang yakin akan kematian, tapi hidup bersuka ria.
Aku heran pada orang yang yakin akan pertanggungjawaban segala amal perbuatan di akhirat, tapi asyik mengumpulkan dan menumpuk harta.
Aku heran pada orang yang yakin akan kubur, tapi ia tertawa terbahak-bahak.
Aku heran pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat, tapi ia menjalani hidupnya dengan bersantai-santai.
Aku heran pada orang yang yakin akan kehancuran dunia, tapi ia menggandrunginya.
Aku heran pada intelektual, yang bodoh dalam soal moral.
Aku heran pada orang yang bersuci dengan air, sementara hatinya masih tetap kotor.
Aku heran pada orang yang sibuk mencari cacat dan aib orang lain, sementara ia tidak sadar sama sekali terhadap cacat yang ada pada dirinya.
Aku heran pada orang yang yakin bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi segala perilakunya tapi ia berbuat durjana.
Aku heran pada orang yang sadar akan kematiannya, kemudian akan tinggal dalam kubur seorang diri, lalu diminta pertanggungjawaban seluruh amal perbuatannya, tapi berharap belas kasih orang lain.
Sungguh.. tiada Tuhan kecuali Aku.. dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku.
Wahai manusia !
Hari demi hari usiamu kian berkurang, sementara engkau tidak pernah menyadarinya. Setiap hari Aku datangkan rejeki kepadamu, sementara engkau tidak pernah memujiKu. Dengan pemberian yang sedikit, engkau tidak pernah mau lapang dada. Dengan pemberian yang banyak, engkau tidak juga pernah merasa kenyang.
Wahai manusia !
Setiap hari Aku mendatangkan rejeki untukmu. Sementara setiap malam malaikat datang kepadaKu dengan membawa catatan perbuatan jelekmu. Engkau makan dengan lahap rejekiKu, namun engkau tidak segan-segan pula berbuat durjana kepadaKu. Aku kabulkan jika engkau memohon kepadaKu. KebaikanKu tak putus-putus mengalir untukmu. Namun sebaliknya, catatan kejelekanmu sampai kepadaKu tiada henti.
Akulah pelindung terbaik untukmu. Sedangkan engkau hamba terjelek bagiKu. Kau raup segala apa yang Kuberikan untukmu. Kututupi kejelekan yang kau perbuat secara terang-terangan.
Aku sungguh sangat malu kepadamu, sementara engkau sedikitpun tak pernah merasa malu kepadaKu. Engkau melupakan diriKu dan mengingat yang lain.
Kepada manusia engkau merasa takut, sedangkan kepadaKu engkau merasa aman-aman saja.
Pada manusia engkau takut dimarahi, tetapi pada murka-Ku engkau tak peduli."
Ikhwan fillah, bersujudlah dan bertaubatlah kepada allah SWT serta menangislah.
betapa banyak dosa yang telah kita perbuat selama ini.
lihatlah betapa banyak kelalaian yang telah kita lakukan selama ini.
"Ya Allah,
kami bukanlah hambaMu yang pantas memasuki surga firdausMu, tidak juga kami mampu akan siksa api nerakaMu, berilah hambaMu ini ampunan, dan hapuskanlah dosa-dosa kami, sesungguhnya hanya Engkaulah Sang Maha Pengampun, Sang Maha Agung.
Ya Allah,
dosa-dosa kami seperti butiran pasir dipantai,
anugrahilah kami ampunan wahai Yang Maha Agung,
umur kami berkurang setiap hari sedangkan dosa-dosa kami terus bertambah
adakah jalan upaya bagi kami.
Ya Allah,
hambaMu yang penuh maksiat ini bersimpuh menghadapMu mengakui dosa-dosanya dan memohon kepadaMu,
ampunilah, karena hanya Engkaulah Sang Pemilik Ampunan,
bila Engkau Campakkan kami,
kepada siapa dan kemana kami mesti berharap selain dariMu".
"Hisablah dirimu sebelum Allah menghisabmu".
Imam Ali bin Abu Thalib RA
====
> “Wahai Ibrahim Adham, kami telah
> berdoa kepada Allah, tetapi tidak
> diperkenankanNya lagi. Beritahulah
> kami apakah sebabnya?” Ibrahim Adham
> menjawab, terhijabnya doa disebabkan
> 10 perkara..”
>
> 1) Kamu mengenali Allah tetapi
> tidak menunaikan hakNya (perintahNya).
>
> 2) Kamu membaca al-Quran tetapi
> tidak beramal dengannya.
>
> 3) Kamu mendakwa iblis itu musuh
> kamu tetapi kamu menurut hasutannya.
>
> 4) Kamu mendakwa mencintai
> Rasulullah tetapi kamu meninggalkan
> amalan dan sunnahnya.
>
> 5) Kamu mendakwa mencintai syurga
> tetapi kamu tidak beramal untuk
> mendapatkannya.
>
> 6) Kamu mendakwa membenci neraka
> tetapi kamu tidak meninggalkan
> perbuatan dosa.
>
> 7) Kamu mendakwa mati itu benar
> tetapi kamu tidak bersedia untuk
> menghadapinya.
>
> 8) Kamu sibuk menceritakan
> keaiban orang lain tetapi kamu lupa
> keaiban diri sendiri.
>
> 9) Kamu makan rezeki Allah tapi
> kamu tidak mensyukurinya.
>
> 10) Kamu mengebumikan jenazah
> saudaramu tetapi kamu lupa mengambil
> ikhtibar daripadanya.
>
>
> Renung2kanlah....
====
Rabu, 29 Juni 2005, 05:34 WIB
Untuk Renungan Bersama...
Pada suatu kesempatan seorang Doktor menceritakan wejangannya dengan membawa para hadirin memikirkan sejenak tentang adab makan Rasulullah saw yang patut kita ambil hikmah.
Berikut adalah antara intipati wejangannya secara ringkas:
1. Cara makan, kenapa kita gunakan tangan? Mengikut cara Rasulullah
S.A.W, beliau akan mencampurkan lauk dan nasi dengan tangan kanannya dan
kemudian membiarkan sebentar, lalu Rasullah saw akan mengambil
sedikit garam menggunakan jari kecilnya, lalu Rasullah saw akan menghisap garam itu. Kemudian barulah Rasulullah makan nasi dan lauknya.
Mengapa? Karena kedua belah tangan kita ada mengeluarkan 3 macam enzim,
tetapi konsentrasi di tangan kanan kurang sedikit dari yg kiri. Ini adalah
karena enzim yg ada di tangan kanan itu merupakan enzim yang dapat menolong proses penghadaman (digestion), ia merupakan the first process of digestion.
Mengapa menghisap garam? Kerana garam adalah sumber mineral dari tanah yg diperlukan oleh badan kita. Dua cecah garam dari jari kita itu adalah sama dgn satu liter air mineral.
Kita berasal dari tanah maka lumrahnya manusia berasal dari bumi (tanah) inilah yg paling berkhasiat untuk kita.
Kenapa garam? Selain dari sebab ia adalah sumber mineral, garam juga adalah penawar yang paling mujarab bagi keracunan, mengikut Dokter di hospital-hospital, the first line of treatment for poisoning adalah dengan memberi Sodium Chloride, iaitu GARAM. Garam juga dapat menghalang sihir dan makhluk-makhluk halus yang ingin menggangu manusia ( katanya sih...tapi saya tidak percaya dengan tahayul )
2. Cara Rasulullah mengunyah - Rasulullah akan mengunyah sebanyak 40 kali untuk membiarkan makanan itu betul-betul lumat agar perut kita senang memproses makanan itu.
3. Membaca Basmalah
(Bismillahirrahma Nirrahim). Membaca Basmalah sebelum makan untuk mengelakkan penyakit. Kerana bakteria dan racun ada membuat
perjanjian dengan Allah swt, apabila Basmalah dibaca maka bakteria dan racun akan musnah dari sumber makanan itu.
4. Cara Rasulullah minum :
Janganlah kita minum berdiri walaupun ia makruh tetapi ia makruh yang menghampiri kepada haram.
Jangan kita minum dari air yg besar dan kemungkinan orang lain juga akan meminum dari tempat yang sama, sehingga kita tidak memberi sisa air kita ke orang lain. Jangan bernafas sedang kita minum. Kerana apabila kita minum dari air yg
besar, lumrahnya kita akan meneguk air dan dalam proses minum itu, kita tentu akan bernafas dan menghembuskan nafas dari hidung kita. Karena apabila kita hembuskan nafas, kita akan mengeluarkan CO2 iaitu carbon dioxide, yang apabila bercampur dgn air H20, akan menjadi H2CO3, iaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acid. Jangan meniup
air yg panas, sebabnya sama diatas. Cara minum, seteguk bernafas, seteguk bernafas sehingga habis.
Mengapa Islam menyuruh mencambuk 100 kali orang belum menikah yang berzina, dan merajam sehingga mati org yg sudah berkahwin yang berzina?
Badan manusia akan mengeluarkan sel-sel darah putih atau antibiotik yg dapat melawan penyakit.
Dan sel-sel ini terdapat di daerah tulang belakang, berdekatan dengan sum-sum tulang manusia.
Lelaki yang belum menikah dia akan dapat mengeluarkan beribu-ribu sel ini, manakala lelaki yang sudah menikah hanya dapat menghasilkan 10 unit sel ini sehari, karena sebabnya ialah, karena sel-sel lain akan hilang karena hubungan suami isteri.
Jadi apabila lelaki yang belum menikah didapati salah karena zina hendaklah dicambuk 100 kali.
Ini adalah karena apabila dia dicambuk di belakangnya, suatu hukuman tentang kesakitan itu akan membuatkan penghasilan beribu sel antibiotik yang dapat melawan virus HIV jika ia ada di badannya, dengan itu dapatlah antibiotik melawan virus HIV itu.
Tetapi jika lelaki itu sudah menikah,walaupun dicambuk 100 kali ia akan tetap menghasilkan 10 unit antibodi saja, jadi dengan itu hukumannya dirajam hingga mati agar dia tidak dapat
merebakkan virus HIV itu.
Itulah sedikit banyak inti wejangan yg disampaikan oleh Dr Jamnul Azhar.
Mudah-mudahan ini akan memberi manfaat pada anda sekalian.
====
Saat kau bangun pagi hari,
AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara
kepada KU,
walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU
atau bersyukur kepada KU
atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam
hidupmu hari ini
atau kemarin......
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk
mempersiapkan diri untuk
pergi bekerja.......
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk
berhenti dan menyapaKU,
tetapi engkau terlalu sibuk.........
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama
lima belas menit
tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU Melihat
engkau menggerakkan
kakimu. AKU berfikir engkau akan berbicara kepadaKU
tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi
seorang teman
untuk mendengarkan kabar terbaru.
AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan
AKU menanti dengan sabar sepanjang hari.
Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau
terlalu sibuk
mengucapkan sesuatu kepadaKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang
sekeliling,
mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKU,
itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan
kepalamu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu
dan melihat beberapa
temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan
lembut sebelum menyantap
rizki yang AKU berikan,
tetapi engkau tidak melakukannya.......
masih ada waktu yang tersisa
dan AKU berharap engkau akan berbicara kepadaKU,
meskipun saat engkau pulang kerumah kelihatannya
seakan-akan banyak
hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV,
engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari
didepannya,
tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara
yang ditampilkan.
Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau
menonton TV dan menikmati
makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara
kepadaKU.........
Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKU, kau sebut.
Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.
AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar
terhadap orang lain.
AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU
menantikan sepatah kata,
doa, pikiran atau syukur dari hatimu.
Keesokan harinya...... engkau bangun kembali dan
kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari
ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk
menyapaKU........
Tapi yang KU tunggu........ tak kunjung tiba......
tak juga kau menyapaKU.
Subuh........ Dzuhur....... Ashyar..........
Magrib......... Isya dan Subuh kembali,
kau masih mengacuhkan AKU.....
tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, dan tak
ada rasa,
tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud
kepadaKU ..........
Apa salahKU padamu...... wahai UmmatKU??
Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU berikan,
harta yang KU relakan, makanan yang KU hidangkan,
anak-anak yang KU rahmatkan, apakah hal itu tidak
membuatmu ingat
kepadaKU ............!!!!!!!
Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapa KU,
memohon perlindungan KU, bersujud menghadap KU......
Yang selalu menyertaimu setiap saat........
Note: apakah kita memiliki cukup waktu untuk
mengirimkan surat ini
kepada orang2 yang kita sayangi???
Untuk mengingatkan mereka bahwa segala apapun yang
kita terima
hingga saat ini, datangnya hanya dari ALLAH semata
====
(Di suatu tempat di bumi Allah)
“Aku telah bersiap-siap sejak pukul 02.00 dini hari
Menanti kedatanganmu
Lama Kutunggu tapi mengapa kau tak bangun menemui-Ku ?”.
Sejenak aku terdiam
Sambil menahan tangis kupejamkan mata
Aku tertunduk malu
“Maafkan aku. Kumohon maafkan aku,” sambil bersimpuh aku menjawab.
“Tahukah engkau. Andai saja tadi malam engkau menemui-Ku, dan memohon apa saja keinginanmu, pasti Kukabulkan. Karena tadi malam, Aku datang bersama 7 langit dan 7 bumi, serta seluruh kunci perbendaharaan karunia yang Kupunyai.”
“Oh,” (aku menutupi wajah dengan kedua tangan)
Menyesali kesempatan sirna dari hadapan
Kuhirup nafas dalam-dalam
Ada titik embun dimataku
Lalu akupun bertanya, “Tuhanku, apakah yang kurasakan pagi ini adalah hukuman-Mu?”.
“Ya, seperti itulah dampaknya”.
Aku tidak mampu berkata-kata
Aku membisu lama
“Bagi hamba-hamba-Ku yang tidak tahajjud kuselipkan ruh hampa kedalam hatinya. Maka gersanglah hari-hari yang ia lalui”.
“Oh,” (aku terisak)
Daguku menempel di dada
Aku tertunduk lagi
“Bagi hamba-hamba-Ku yang tidak tahajjud, aku masukkan kesesakan ke dalam dadanya. Maka sempitlah hidup yang ia jalani”.
“Oh,” (aku semakin lunglai)
Air mataku semakin deras mengucur
“Bagi hamba-hambaku yang tidak tahajjud, aku jadikan wajahnya suram tanpa cahaya. Maka reduplah pancarannya”.
“Oh,” (aku pingsan)
“Bagi hamba-hambaku yang tidak tahajjud, aku hilangkan wibawanya. Maka lemahlah ia”.
(Sayup-sayup, suara itu masih kudengar)
“Lihatlah, betapa sayang-Ku padamu. Kuutus nyamuk guna membangunkan dari tidurmu. Tidak kau sadarikah hal itu?”
(Aku benar-benar pingsan)
Yogyakarta, 19 Juli 2002
NB : saya mohon maaf karena tidak bisa memberikan nama penulisnya, karena saya tidak tau.
====
. Tadi pagi..aku menelepon seseorang yang dulu pernah menjadi teman dalam suka dan duka. Seorang Ikhwan/ laki-laki tentunya, sebut saja namanya “HANIF”. Dulu..dia adalah tempatku mengadu, CURHAT, mengkonsultasikan permasalahan yang aku hadapi. Jujur..aku sangat membanggakan dia..bersahaja, lembut, tenang, sederhana. Yang paling utama adalah….karena dia selalu bersedia untuk mendengarkan dengan sabar..memberikan penjelasan dan pandangan dengan dewasa..tanpa menyalahkan..apalagi menghakimi. Dia seperti kakak bagiku..mungkin lebih dari kakak kandungku sendiri.
Allah kemudian mentakdirkan dia menikah dengan seorang akhwat/ wanita. Jujur sebenarnya walaupun aku merasa Bahagia..disatu sisi aku merasa kehilangan orang yang begitu berharga bagiku. Kemudian kami pun berpisah karena pekerjaan. Ada rentang jarak tempat tinggal yang sangat jauh diantara kami…aku ditempatkan di Profinsi Lampung ….dan dia di Kalimantan…
. Saat ini aku mempunyai masalah yang sangat berat…dan aku ingin bercerita lagi kepadanya. Aku barusan menelepon dia lagi..untuk mengkonsultasikan permasalahan yang begitu mebebani jiwa ini. Dengan satu harapan..dia bersedia mendengarkan..kemudian memberikan nasihat…yang mendamaikan hati..seperti dulu sebelum dia menikah..sebelum jarak tempat tinggal memisahkan kami.…
. Tapi....ah…...aku merasa…begitu kecewa.....semuanya tidak seperti yang aku harapan. Aku merasakan suaranya tidak lagi seramah dulu..perkataan yang tiak sebermakna dulu..dia seperti tidak terlalu merespon akan perkataan yang aku sampaikan. Sehingga rasanya aku seperti berbicara bukan dengan seseorang yang pernah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri. Aku tidak kuasa untuk mengemukakan semua permasalahan yang ingin aku sampaikan..ketika mendengar respon yang tidak seperti dulu lagi. Akhirnya akupun mengakhiri pembicaraan..tanpa sempat mengemukakan permasalahanku.
Ya Rabb..mengapa orang yang dulu pernah aku banggakan..sebagai orang yang dulu aku anggap sebagai saudara, kakak,..kini telah berubah. Seakan kini ada rentang jarak diantara kami. Dia dulu adalah tempat diri ini menggantungkan diri..menyampaikan segala beban permasalahan yang ada dalam jiwa ini. Sampai detik ini aku masih sangat membutuhkan nasihat-nasihatnya yang tulus.
Ah.......mengapa bisa terjadi seperti ini?...
Dalam perenungan…seberkas cahaya kedamaian seakan merasuk dalam sanubariku ...."kini saatnya aku berusaha untuk mengambil HIKMAH dari semua ini..yach..HIKMAH". Ini barangkali hal yang coba harus aku tanamkan dalam jiwa ini. Pasti ada hikmah dibalik semua ini. Hikmah besar dari Allah SWT yang tentu untuk kebaikan diri ini.
Satu hal yang pasti,..Insya Allah dia masih tetap orang yang baik..dia masih saudaraku yang baik..mungkin masalahnya bukan dari dia..tapi justru dari diriku sendiri..mungkin karena penurunan ruhani dan beban permasalahan dalam diri inilah yang kemudian aku merasa dia seperti menjauhiku.
Hikmah yang barang kali ingin Allah ajarkan pada diri ini adalah :
1. Ternyata Allah cemburu..ketika MAKHLUK yang diciptakannya...lebih menggantungkan diri...bersandar..pada makhluk yang diciptakannya juga...daripada menggantungkan diri & bersandar kepada-Nya.
2. Supaya aku tidak lagi terbiasa menggantungkan diri ini pada orang lain…dan aku hanya boleh bersandar dan menggantungkan diri hanya kepada ALLAH SWT semata.
3. Supaya aku bisa lebih dewasa..mandiri..berani menentukan dan mengambil sikap..tegas..tidak plin-plan..mantap dan berani dalam bertindak dan mengambil keputusan. Karena semua itulah hal yang paling dibutuhkan dalam mengarungi hidup ini.
Ia......Insya Allah..aku akan berusaha menarik hikmah dari semua ini.
AKU HARUS MEMPERBAIKI KUALITAS IBADAHKU…karena semua kegelisahan bersumber dari diriku sendiri. Sehingga ketika kualitas ibadah sudah semakin baik..diri akan semakin dekat dengan-Nya…yang pada akhirnya..kepasrahan atas takdir Sang Maha Kuasa akan tertanam dalam Jiwa. Kedamaian..Ketenangan akhirnya akan bersemayam dalam jiwa ini.
Semuanya memang harus berawal dari TEKAD KUAT dalam diri ini, untuk MEMPERBAIKI KUALITAS IBADAH dan KEDEKATAN pada-NYA. Jika ini belum berhasil dilakukan..percuma saja kita berkonsultasi pada orang lain..sesolih apapun dia..karena yang memutuskan tetap lah diriku sendiri..dan jika yang bermain adalah : EMOSI dan NAFSU, …pasti semua pendapat orang lain…itu tidak akan bermakna apapun.
Ya Rabb….bimbinglah hambamu ini..tunjukilah hamba untuk tetap berada dalam jalan Mu yang lurus. Aku berjanji pada-Mu…..mulai saat ini…aku hanya akan bersandar dan bergantung pada-Mu….bukan pada makhluk-Mu……
Hamba hanya ingin mendapat CINTA dari-Mu ya Rabb...dan hamba ingin menjadi makhluk...yang mendapat karunia cinta-Mu.....
Allahu Akbar.......
Logged
--------------------------------------------------------------------------------
Ya Allah..Jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu..agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu...
====
Bulan, minggu dan hari bergulir detik demi detik berlalu saat ini, kita bersama lagi dalam selaksa berkah di bulan suci nafas kita hari ini begitu mahal satu hembusanpun tak boleh terbuang sia-sia.
"Beberapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga…" (HR Bukhari dari Muslim) Hadits Rasulullah tersebut harusnya dapat membangkitkan kewaspadaan kita untuk menjauhi dan tidak terjerumus di dalamnya. Apalah artinya bila puasa hanya meninggalkan kering pada kerongkongan dan lapar di dalam perut ?
Kegagalan yang dimaksud tentu bukan klaim yang pasti. Itu memang hak Allah semata. Tapi setidaknya kita perlu berhitung dan memiliki neraca agar segenap amal ibadah kita bulan Ramadhan ini benar-benar berbobot, hingga kita bisa lulus dari Ramdhan menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Amiiin
Pertama,
Ketika kurang optimal melakukan "Warning up" dengan memperbanyak ibadah sunnah di bulan Syaban. Ibarat sebuah mesin, memperbanyak ibadah sunnah di bulan Syaban berfungsi pemanasan bagi ruhani dan fisik untuk memasuki bulan Ramadhan. Berpuasa sunah, memperbanyak ibadah, tilawah Quran sebelum Ramdhan, akan menjadikan suasana hati dan tubuh kondusif untuk pelaksanaan ibadah di bulan puasa
Kedua,
Ketika target membaca Al-Quran yang dirancangkan minimal satu kali khatam, tidak terpenuhi selama bulan Ramadhan. Dibulan ini pembacaan al-Quran merupakan bentuk ibadah tersendiri yang sangat dianjurkan.
Orang yang berpuasa di bulan ini sangat di anjurkan memiliki al-Quran yang lebih baik dari bulan-bulan selainnya. Kenapa minimal harus dapat menghatamkan 1 kali sepanjang bulan ini ? karena memang itu adalah target minimal pembacaan al-Quran yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Ketika Abdullah bin Umar bertanya kepadanya, "Berapa lama sebaiknya seseorang menghatamkan al-Quran. Rasul menjawab, "Satu kali dalam satu bulan". Abdullah bin Umar mengatakan," Aku mampu untuk lebih lebih dari satu kali khatam dalam satu bulan." Rasul berkata lagi, "Kalau begitu, bacalah dalam satu pekan." Tapi Abdullah bin Umar masih mengatakan bahwa dirinya masih mampu membaca seluruh al-Quran lebih cepat dari satu pekan. Kemudian Rasul mengatakan ,"Kalau begitu, bacalah dalam tiga hari ".
Ketiga,
Ketika berpuasa tidak menghalangi sesorang dari menjaga mulut seperti membicarakan keburukan orang, mengeluarkan kata-kata kasar, membuka rahasia, mengadu domba, berdusta dan lain sebgainya.
Mulut merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sukar untuk dikendalikan namun nilainnya sangat mahal. Rasulullah berpesan, adakalanya kalimat buruk yang sering diucapkan oleh seseorang, tapi karena Allah tidak ridha dengan kalimat itu, orang tersebut dimasukan kedalam neraka (HR. Ahmad).
Keempat,
Ketika berpuasa tidak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yang haram. Puasa yang tidak menambah pelakunya lebih memelihara mata dari yang haram, menjadikan puasa itu nyaris tak memiliki pengaruh apapun dalam perbaikan diri. Karenanya boleh jadi puasanya secara hukum sah, tapi substansi puasa itu tidak akan tercapai.
Kelima,
Ketika malam-malam Ramadhan tak ada bedanya dengan malam-malam selain Ramadhan, salah satu ciri khas malam bulan Ramadhan adalah Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan doa-doa tertentu. Ibadah shalat malam di bulan Ramadhan yang biasa disebut tarawih, merupakan amal ibadah khusus di bulan ini. Tanpa menghidupkan malam dengan ibadah tarawih, tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga. Selain itu, di dalam shalat ini pula Rasulullah mengajurkan doa-doa khusus yang insya Alalh akan diijabah oleh Allah swt. Diantara doa yang perlu diperbanyaki dalam shalat tarawih adalah," Allahuma inni as aluka ridhaka Wal jannah wa naudzu bika min sakhotika wan naar". Ya Allah, aku mohon keridhaan-Mu dan surga-Mu dan Aku mohon perlindungan-Mu dari neraka-MU.."
Keenam,
Jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hari hingga petang. Menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan "balas dendam" dari upaya melawan hawa lapar dan haus selama siang hari. Bila terjadi seperti ini nilai puasa akan hilang. Puasa menjadi kecil tek bernilai dan lemah unsur pendidikannya ketika upaya menahan dan mnegendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang dihempaskan pada saat berbuka puasa.
Ketujuh,
Ketika bulan Ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak berinfaq dan bersadaqah. Rasulullah seperti di gambarkan dalam sebuah hadits menjadi sosok yang paling murah dan darmawan di bulan Ramdhan, hingga kedermawanannya mengalahkan angin yang tertiup.
Kedelapan,
Ketika hari-hari menjelang Idul Fitri sibuk dengan persiapan lahir, tapi tidak sibuk dengan memasok perbekalan sebanyak-banyaknya pada 10 malam terakhir untuk memperbanyak ibadah. Lebih banyak berfikir untuk merayakan Idul Fitri dengan berbagai kesenangan, tapi melupakan suasana akan berpisah dengan bulan mulia tersebut.
Rasulullah dan para sahabatnya memperbanyak beribadah berdzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan, saat diturunkannya al-Quran.
Pada detik-detik terakhir menjelang usainya Ramadhan mereka merasakan kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan bulan mulia itu. Sebagian mereka bahkan menangisi karena akan berpisah dengan bulan mulia. Adajuga yang berguman jika mereka dapat meresakan Ramadhan sepanjang tahun.
Kesembilan,
Ketika Idul Fitri dan selanjutnya dirayakan laksana hari "merdeka" dari penjara untuk kembali melakukan berbagai penyimpangan. Fenomena ini sebenarnya hanya akibat pelaksaan puasa yang tak sesuai dengan adabnya. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai pengengkang.
Kesepuluh,
Setelah Ramadhan, nyaris tidak ada ibadah yang ditindaklanjuti pada bulan-bulan selanjutnya. Misalnya memelihara kesinambungan puasa sunnah, shalat malam, membaca Al-Quran. Amal-amal satu bulan Ramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkat untuk menghadapi sebelas bulan setelahnya. Namun orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya menghidupkan amal-amal ibadah yang pernah ia jalankan dalam satu bulan itu. Wallahu alam busahawab.
Dikutip : dari majalah Tarbawi edisi Ramadhan
====
"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan,
maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu."
(QS An-Nisaa: 86)
Saya kerap kali membaca SMS yang salam pembukanya ditulis “Ass”.
Dan sering juga saya mendapatkan salam penutup “Wass". Entahlah apakah saya saja yang merasa nelangsa dan merasa diacuhkan dengan salam seperti itu. Seakan ditinggal pergi buru-buru oleh si pemberi salam. Benarkah dia memberi salam ataukah empat huruf itu hanyalah suara yang mirip salam? Tidakkah terpikir untuk menambah empat huruf lagi hingga salam penutup itu mempunyai makna?
Hal ini memang sederhana dan terkadang disepeleken oleh sebagian orang. Tapi, tahukah anda? Bahwasannya karena hal-hal yang sederhana seperti inilah Rasulullah SAW bisa melunakkan hati yang keras para musyrikin Quraisy. Mulai dari cara menyisir rambut, menyediakan tempat sampah di depan rumah, memberi salam pada anak-anak, makan menggunakan tangan kanan, sampai perintah untuk menanam pohon.
●●●
Pernah sahabat Rasulullah, Umar bin Khatab mengadukan Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah. "Ya, Rasulullah, Ali bin Abi Thalib tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku..." Rasulullah lalu menanyakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib membenarkan pengaduan Umar bin Khatab itu. "Ya, Rasulullah, itu kulakukan karena aku ingin supaya Umar bisa mendapatkan istana di Surga! Seperti yang disabdakan olehmu, ya Rasulullah. Bahwa siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di Surga."
Bayangkan dengan memberi salam kita bisa membangun istana di Surga. Dengan salam,
hati-hati kita terikat untuk saling mencintai. Kenapa kita tidak bersegera menebar salam
kepada sahabat, handai taulan, keluarga dan saudara-saudara kita seiman?
Sabda Rasulullah, "Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian." (HR Muslim)
●●●
Saya sangat yakin, sebenarnya kita telah mengetahui hal ini dengan sangat jelas, karenanya semoga saja Allah memberikan kita Inayah untuk tetap beramal dengan benar.
Saya yakin ucapan salam yang diketik dengan lengkap tidak akan membuat pulsa kita dengan sendirinya menjadi habis, atau ucapan salam tidak akan membuat suara kita parau. Bahkan sebaliknya ucapan salam akan memberikan kebaikan tersendiri untuk diri kita, karena hakikatnya salam adalah doa, doa yang diucapkan untuk saudaranya seakidah, "Semoga Allah memberi keselamatan padamu."
Semoga bermanfaat dan selamat mencoba!
====
Menjelang libur lebaran biasanya kantorku disibukkan dengan rutinitas bulanan. Karena aku bagian administrasi maka aku membereskan semuanya sebelum libur tiba, diantaranya bayar pajak PPN. Tak sengaja ketika di bank aku ketemu konsultan pajak, akhirnya aku diajak pulang bareng dengan beliau. Ketika mobil sudah jalan konsultan tersebut minta ijin padaku tuk mampir sebentar di salah satu bank swasta untuk menukarkan uang kecil buat bagi-bagi angpau di kampung katanya. Aku manut aja tapi aku nunggu di mobil tidak ikut ke dalam. Pas aku lagi asyik2nya nunggu sambil dengerin radio dari hand phoneku aku perhatikan seorang tukang parkir paruh baya yang berada di depan bank tersebut. Ku perhatikan oh…ternyata pekerjaan tukang parkir itu sungguh mulia yah…tapi kenapa masih aja ada sebagian orang yang mencibirnya.
Coba bayangkan bila tidak ada tukang parkir pasti banyak kendaraan yang parkir sembarangan (ternyata bukan sampah aja yang bisa sembarangan he..he..) dan tentunya tidak sedap dipandang mata. Bersyukurlah! dengan adanya tukang parkir, kendaraan jadi tertata rapi karena beliaulah yang membantu mengaturnya. Yah mungkin penghasilan yang diterima enggak seberapa alias ala kadarnya. Namun dari sinilah kita bisa belajar banyak hal dari beliau. Berapapun yang diberikan pemilik kendaraan beliau terima dengan legowo, beliau tidak mematok harga harus segini atau segitu.
Pelajaran yang kita dapat diantaranya:
ü Keikhlasan
Berapapun rejeki yang diberikan oleh Alloh lewat pemilik kendaraan beliau terima dengan ikhlas, bahkan ada juga yang kadang lupa atau sengaja tak memberikan uang jasa parkir tersebut.
ü Hidup Rapih
Kita lihat dengan adanya tukang parkir maka kendaraan jadi tertata rapih. Oh seandainya kita bisa hidup rapih dalam segala hal tentunya kita bisa belajar disiplin toh.
ü Amanah
Salah satu sifat yang dimiliki nabi SAW ini jarang banget orang yang mau mengamalkannya, kita lihat di negeri ini masih banyak korupsi. Coba lihat tukang parkir, beliau menjaga kendaraan yang diparkir oleh beliau.
ü Tanggungjawab
Dari beliau kita juga bisa belajar apa artinya tanggungjawab, karena beliaulah yang bertanggungjawab atas semua kendaraan yang diparkir.
ü Adil
Kenapa kita tidak belajar sifat ini dari beliau? Kita lihat sungguh berat beliau diamanahi beragam kendaraan dari kendaraan yang biasa-biasa aja sampai kendaraan yang bermerek/mahal beliau perlakukan sama.
ü Tidak iri, dengki
Tak pernah terdetik sedikitpun dalam hati beliau rasa iri, dengki untuk memiliki kendaraan yang diparkir oleh beliau sekalipun kendaraan itu mahal harganya.
Subhanalloh….ternyata pekerjaan tukang parkir itu sungguh mulia yah…banyak pelajaran yang kita dapat dari beliau untuk bekal kita hidup di dunia. Alhamdulillah ya Rabb telah engkau buka mata hatiku untuk belajar dari seorang tukar parkir…
Ujung, 09 September 2009
====
Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan
waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan
seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s. Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah... ......... .dan bersegeralah!
Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa Musibah lalu dia berucap "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Kemudian berkata,"Ya Rabb, Aku ridho dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyu-man. Maka berbaik hatilah dan bersabar.... .......
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan Tidak lupa akan kenikmatan dunia yang
sementara ini. Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau
terima dan berbagilah.. ....
Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan
nikmat yang ada Selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki...... ...
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia
pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat
dan amal-amal kebaikan.
Maka hargailah waktumu dan bersegeralah. ......... ..
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai
akhlak yang baik. Maka peliharalah akhlakmu dari dosa
dan noda........ .....
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah
orang yang mati Membawa amal-amal kebaikan dimana
kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.
Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu....... ...
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi
dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang
yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu
kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia....... ...
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang
menghuni syurga Kelak, karena telah menggunakan akal
sewaktu di dunia untuk menghindari Siksa neraka. Maka
peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal
mungkin. Untuk mengharap ridho-Nya... .......
Siapakah org yg PELIT ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan atau membuang
email ini begitu saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada org lain.
Maka sampaikanlah kepada yang lain sedikit berita
gembira ini selagi sempat, karena tiada ruginya bagimu......
====
Semua orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya
pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani bila kita selalu
berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran
positiflah yang beredar di kepala kita, tak banyak yang tahu. Oleh
karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang
berpikir positif dan mulai mencoba meniru jalan pikirannya.
1. Melihat masalah sebagai tantangan
Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup
yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.
2. Menikmati hidupnya
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan
besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup
yang lebih baik.
3. Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide
Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat
segala sesuatu lebih baik.
4. Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas
di benak
Memelihara pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan
singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa
menimbulkan masalah.
5. Mensyukuri apa yang dimilikinya
Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya
6. Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu
Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu,
mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang
dijauhi si pemikir positif.
7. Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan
Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka
ini jelas bukan penganutnya.
8. Menggunakan bahasa positif
Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti Masalah
itu pasti akan terselesaikan, dan Dia memang berbakat.
9. Menggunakan bahasa tubuh yang positif
Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan
gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara
dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan hidup.
10. Peduli pada citra diri
Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi
juga di dalam.
====
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams 91:8-10)
Pilihan, mungkin itulah kata yang secara sederhana yang bisa mewakili ayat diatas. Allah SWT telah memberikan kepada manusia kesempatan untuk memilih. Memilih antara kebaikan dan keburukan. Tapi, ingat! Semua pilihan ada konsekuensinya dan juga imbalannya.
Konsekuensi keburukan adalah keburukan pula. Dan hal ini benar-benar terbukti. Misal, lebih dari setengah korban pelecehan seksual adalah para kaum hawa yang belum mau atau bahkan tidak mau menutup aurat mereka dengan berbagai alasan. Atau contoh lain adalah bahwa lebih setengah dari pelaku pembuat ‘Film Asusila’ adalah mereka yang berpacaran. Hasilnya pun sudah bisa ditebak, mereka diasingkan dan dianggap orang yang tidak baik oleh masyarakat. Dan ingat, hal yang terburuk dari konsekuensi perbuatan buruk adalah ‘NERAKA!’.
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. Untuk para pemilih kebaikan, maka ada kebaikan yang akan mengiringi, insyaallah. Dan ingat, hal yang terbaik dari konsekuensi perbuatan baik adalah ‘SURGA’ dan perjumpaan dengan Allah SWT.
“Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).” (QS. Al Maidah:85)
Mulai saat ini wahai kawan mohonlah pertolongan Allah SWT untuk memilih.
Semuanya tergantung pada diri kita. Dan akhirnya, selamat memilih!
Semoga bermanfaat.
====
Suatu hari si Fulan kecil tiba-tiba menjadi anak yang begitu sulit diatur. Segala keinginan yang tidak dikabulkan, akan menjadi pemicu berbagai tindakan negatif pada dirinya. Menendang segala hal yang ada di depannya, memukul dan menyakiti adik dan teman mainnya, egois, dan maunya menang sendiri.
Ibunya yang lemah lembut dan penyabar, selalu mencoba untuk menasehati dan membimbing anaknya ke arah yang lebih baik, namun hasilnya tak seperti yang diharapkan. Anak tetap berperilaku seperti semula, bahkan kadang meningkat kepada hal-hal yang membahayakan.
Ayah yang sibuk bekerja, pergi pagi pulang malam merasa kesal dan kecewa melihat perilaku anak, menganggap istri tidak becus dalam mendidik, menyalahkan, dan memarahi istri. Lalu mengambil sikap untuk mengurangi interaksi dengan anaknya, agar tidak menyaksikan perilaku buruknya.
Si ibu menangis merasa sakit hati. Usaha sekuat tenaga mendidik anak dengan baik, mencoba untuk selalu bersabar melihat perilaku negatif anak yang tidak diharapkan, sambil mengesampingkan keinginan untuk mengembangkan diri dan mengusir jauh-jauh rasa jenuh dan sepi yang setiap hari hinggap di benaknya, masih pula mendapat marah dan disalahkan. Seolah kesalahan sepenuhnya ada padanya. Bebanpun semakin terasa berat.
Sementara, di hari libur suami lebih memilih untuk istirahat di rumah, menghapus lelah selama sepekan. Padahal, istri ingin jalan-jalan ke luar bersama suami dan anak-anak untuk sekedar melepaskan kejenuhan, melihat suasana baru, menjernihkan fikiran dan pandangan mata.
***
Masih banyak orang yang menganggap, pendidikan anak adalah tugas ibu semata. Segala hal yang menyangkut anak diserahkan sepenuhnya ke pundak ibu. Urusan makan dengan ibu, urusan belajar dengan ibu, urusan sekolah pun dengan ibu. Sementara ayah hanya berkonsentrasi kepada pekerjaan mencari nafkah, dan tak mau ambil pusing terhadap pendidikan anak, namun ingin melihat hasil yang selalu baik. Sehingga, ketika melihat anak berkembang tidak seperti yang diharapkan, hanya ibu yang disalahkan.
***
Anak adalah amanah Allah bagi setiap orang tua, ibu dan ayahnya. Ia dititipkan kepada kita untuk diasuh, dididik, dan dibimbing menjadi anak yang sholeh dan shalihah. Dijadikan sebagai bagian dari komunitas muslim, penerus risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW, yang akan sangat bangga dengan umatnya yang kuat, dan banyak.
Pendidikan anak menjadi tanggung jawab bersama, antara seorang ibu, seorang ayah, dan masyarakat. Mendidik anak bukanlah hanya tugas seorang ibu semata, walau pada kenyataannya ibu lah yang lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak. Namun pendidikan anak adalah merupakan tugas pertama dari seorang ayah, karena ayah yang menjadi pemimpin keluarga. Ibu hanyalah pemimpin di bawah kepemimpinan seorang ayah.
Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (Shahih Muslim).
Seorang suami bertanggung jawab dan akan ditanya tentang istri dan anak-anaknya, sementara istri akan ditanya tentang rumah tangga dan anak-anaknya.
Karenanya, tidak adil bila seorang ayah menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada ibu, dan tak adil pula ketika dalam perkembangannya anak berubah menjadi anak yang kurang sholeh, kemudian menyandarkan kesalahan kepada ibu.
Proses mendidik dan memantau perkembangan anak hendaknya dilakukan bersama, tidak diserahkan kepada salah satu pihak saja. Sehingga ketika terjadi ketidak berhasilanpun, ditanggung dan dicari solusi bersama-sama.
Ketika Rasululloh SAW ditanya tentang peranan kedua orang tua, maka beliau menjawab : "Mereka adalah yang menyebabkan syurgamu atau nerakamu" ( HR. Ath Thabrani ).
Anak membutuhkan dua figur sekaligus dalam kehidupannya. Yaitu figur ayah dan figur ibu.
Dari seorang ayah dia akan belajar bagaimana memimpin, bertanggung jawab dan bekerja mencari nafkah. Dari seorang ibu dia akan belajar berkasih sayang, kelemahlembutan, dan melayani.
Sebuah kombinasi yang sangat serasi, bila semua figur ini dapat bekerja bersama-sama, dan menjadi contoh langsung. Sehingga anak mendapat gambaran yang jelas, bagaimana dia dapat membina dan mengembangkan dirinya menuju kehidupan masa depan yang lebih baik. Jadi, mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu saja, tapi tugas ibu dan ayah bersama-sama.
Walloohu alam bishshowwab.
====
Disebuah sekolah…setiap akhir ajaran selalu diadakan pementasan drama kolosal. Banyak murid yang terlibat disana. Memainkan bermacam-macam tokoh. Pementasan ini selalu ditunggu-tunggu oleh semua murid dan juga orang tua murid. Karena di akhir pementasan…akan diberikan piala bergilir dari kepala Sekolah bagi murid yang paling bagus beraktingnya. Tentu saja menjadi kebanggaan bagi murid maupun orang tuanya.
Tibalah saatnya. Pementasan berjalan sempurna. Semua berhasil memerankan perannya dengan baik. Gemuruh tepuk tangan mengakhiri pertunjukan. Semua puas melihat hasil latihan siswa selama beberapa bulan terakhir menjelang pementasan.
Kini tibalah saat pengumuman pemenang. Siapa yang berhak mendapatkan giliran memegang piala kepala sekolah selama setahun yang akan datang. Dan tentu saja mendapatkan hadiah.Setiap anak berdebar-debar menunggu hasilnya. Begitu juga dengan orang tua mereka. Akan sangat membanggakan tampil di atas panggung dengan disaksikan ribuan pasang mata.Semua berdo’a supaya nama merekalah yang disebut Pak Guru.
Pak Guru naik ke atas panggung. Ia menyebutkan sebuah nama. Subhannallah…ternyata Beliau menyebut sebuah nama…dan ternyata seorang anak yang berperan menjadi seorang bapak yang pemarah. Bahkan sangat pemarah. Ia memang sangat berhasil memerankannya. Ditambah gaya menggebrak meja dan membanting piring serta gelas. Sungguh akting yang menakjubkan.
Pak Guru menyuruh si anak naik ke atas panggung beserta kedua orang tuanya. Tepuk tangan bergemuruh lagi menyambut mereka ke atas panggung. Terlihat sekali baik si anak ataupun si ayah anak bangga sekali. Ia menetap sekeliling sambil menegakkan dada. Mereka Bangga.
Sebelum menyerahkan hadiah, Pak Guru menanyakan kepada si anak. Apa rahasia ia mampu tampil di atas panggung begitu bagus. Begitu menghayati perannya. Dan si Anak dipersilahkan menceritakan kepada hadirin tentang lika-likunya ia berlatih.
Sang Anak maju dan meraih pengeras suara dan mulai bercerita “ Terima kasih atas hadiahnya Pak ! Sebenarnya yang paling membantu peran saya adalah ayah saya. Karena beliaulah saya mampu memerankan orang tua pemarah tanpa kesulitan sama sekali. Bahkan saya tidak harus berlatih giat seperti halnya teman-teman yang lain. Dari beliaulah saya belajar berteriak, membentak dan menjadi pemarah. Belajar membanting pintu, menggebrak meja dan membanting gelas serta piring. Ayah saya membesarkan saya seperti itu. Dari Ayahlah saya belajar menjadi pemarah.”
Sang ayah tercenung. Ia yang tadi menatap dengan dada tegak sekarang menunduk.Keadaan senyap. Jika sebelumnya mereka bangga, sekarang mereka merasa malu sekali. Mereka bagai terdakwa di muka pengadilan. Mereka belajar banyak hari ini. Dihari anaknya memperoleh Piala Bergilir dari Kepala Sekolah atas prestasi anaknya menjadi pemarah.
Kawan…begitulah ! Anak adalah duplikat orang-orang di sekitarnya. Setiap anak adalah peniru ulung. Mereka belajar sesuatu dengan kita sebagai contohnya. Mereka lah cermin bagi kita. Tempat kita seharusnya berkaca.
Cermin itu meniru semua hal. Baik yang terpuji ataupun yang tercela. Tak tersisa. Semuanya. Orang-orang di sekitarnya. Disinilah keharusan kita untuk menjadikan diri kita model ..contoh prilaku seperti yang di teladankan oleh Rosullullah SAW. Juga adalah kewajiban kita untuk mencarikan teman dan bi’ah yang sholihah untuk anak kita. Karena ia peniru ulung. Itu saja !
Disinilah jawabannya…kenapa kita tidak boleh egois untuk hanya memikirkan diri kita semata. Keluarga kita semata. Asal keluarga kita baik…sesuai sunah Rosullullah..kita sudah merasa aman tanpa harus memikirkan masyarakat kita. Padahal bi’ah sangat menentukan kepribadian anak kita. Disinilah mengapa dai dan da’iyah harus memulai perannya di masyarakat. Demi anak kita. Demi generasi yang akan datang.
Semoga kita bisa menjadi orang yang sabar saat melihat anak kita mulai bertingkah. Saat mereka memecahkan piring misalnya. Sebab mereka baru belajar memegang piring selama
Mari kita tarbiyah diri kita dengan kesungguhan hati…agar kepribadian kita seperti apa yang di contohkan oleh Rosulullah SAW. Dan pantulannya pun akan seperti yang kita harapkan. Wallahu alam bishowab !
====
Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Mari kita senantiasa
Setting NIAT,
Upgrade IMAN,
Download SABAR,
Delete DOSA,
Approve MAAF & Hunting PAHALA,
Agar kita Getting GUEST LIST masuk SURGA-NYA.
Pulang ke kampung SURGA yuuuk !!!!
Pakai mobil JIHAD yang berbahan bakar ISTIQOMAH,
Dengan supir KEIKHLASAN,
Lewat jalan IMAN,
Eeeiiittt, jangan lupa bawa peta AL QUR’AN & AS SUNNAH,
Juga bekal TAQWA,
Semoga kita bertemu di sana.
Kini Ramadhan akan tiba sebentar lagi, dengan kerendahan hati, maafkanlah
segala kesalahan.
MARHABAN YA RAMADHAN.
Allahumma Baariklana Fie Rajaba Wa Syaban Wa Balighna Fie Ramadhan.
Ya Alloh, berkatilah kami di bulan Rajab & Syaban dan sampaikanlah kami
pada bulan Ramadhan, Amien Ya Rabbalalamien...
Selamat mempersiapkan diri untuk menyambut ibadah puasa 1430 H.
Mari kita kuatkan Iman, bersama menyongsong Bulan Penuh Rahmah, Maghfirah
dan Berkah, Amien Ya Rabbal’alamien....
Niatkan Hati, Sucikan Diri, Gapai Ridha Illahi ! :)
====
Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca
dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra
Sekarang engkau telah dewasa...
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku...
Apakah aku bacaan
usang yang tinggal sejarah...
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?
Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana
menyimpannya
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.
Dulu....pagi- pagi...surah- surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai
bersama temanmu di surau.....
Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...engkau baca Koran pagi atau nonton
berita TV
Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan...
Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau
terlalu sibuk dengan urusan duniamu
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton
pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah
Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.
Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ? Bila
engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba Engkau akan
diperiksa oleh para malaikat suruhanNya
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau
dapat selamat melaluinya.
Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...
Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu
kedatanganmu. .
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.
Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati...
Di kuburmu nanti....
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam
akhirat
Tapi Akulah "Quran" kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu
Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.
Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...
Jangan lupa
bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu
Sentuhilah aku
kembali...
Baca dan pelajari lagi aku....
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu....dulu sekali...
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos....
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku engkau biarkan sendiri....
Dalam bisu dan sepi....
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
-----
Message yang saya terima dari teman, mudah2an bisa dijadikan acuan
> Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu
> sibuk bekerja...
> Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan
> pesan ini...
>
> Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk
> mendapatkan
> kesempatan membaca email ini.
>
> Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita.
> kita seolah
> lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan
> kedatangannya.
> Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan.Tahukah
> kita kapan
> kematian akan menjemput kita???
>
> berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga
> dapat menjadikan
> hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan
> tinggal
> menunggu waktunya,
>
> semoga kita termasuk dalam orang-orang yang khusnul
> khotimah.... amien.... .
>
>
> Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua
> orangtuaku
> dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku
> saat pulang
> dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia
> selalu dalam
> shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat
> begitu lama,
> apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
>
> Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri
> sendiri :
>
> "Alangkah sabarnya mereka....setiap hari
> begitu...benar- benar
> mengherankan!
>
> "Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang
> mukmin dan itulah
> shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat
> tidurnya untuk
> munajat kepada Allah.
>
> Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai
> pemuda yang
> matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal
> berbagai nasehat
> selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah
> tamat dari
> pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku.
>
> Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak
> ringan menanggung
> beban sebagai orang terasing.
>
> Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur?an.
> Tak ada lagi
> suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku
> benar-benar hidup
> sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami
> nikmati. Aku
> ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol.. Di
> samping menjaga
> keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang
> membutuhkan bantuan.
>
> Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan
> tugas-tugasku dengan
> semangat dan dedikasi tinggi.
>
> Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku
> bingung dan
> sering melamun sendirian .... banyak waktu luang ...
> pengetahuanku
> terbatas.
>
> Aku mulai jenuh ... tak ada yang menuntunku di bidang
> agama. Aku
> sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya
> kecelakaan dan
> orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk
> penganiayaan lain.
>
> Aku bosan dengan rutinitas.. Sampai suatu hari terjadilah
> sebuah
> peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.
>
> Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas
> disebuah pos
> jalan..
>
> Kami asyik ngobrol ... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara
> benturan
> yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata,
> sebuah mobil
> bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang
> berlawanan.
> Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong
> korban.
> Kejadian yang sungguh tragis.
>
> Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis.
> Keduanya
> segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di
> tanah. Kami
> cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya
> telah tewas
> dengan amat mengerikan.
>
> Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam
> kondisi koma.
> Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
> Ucapkanlah
> "Laailaaha Illallaah .... Laailaaha Illallaah .."
> perintah temanku.
> Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur
> lagu-lagu.
> Keadaan itu membuatku merinding.
>
> Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang
> sekarat ...
>
> Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam
> membisu. Aku
> tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku
> belum pernah
> menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan
> kondisi seperti
> ini.
>
> Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan
> syahadat.
>
> Tetapi .... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
>
> Tak ada gunanya ... Suara lagunya terdengar semakin melemah
> .... lemah
> dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi,
> disusul orang
> kedua.
>
> Tak ada gerak .... keduanya telah meninggal dunia. Kami
> segera membawa
> mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara
> sepatahpun.
>
> Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening...
>
> Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara..Ia berbicara
> tentang hakikat
> kematian dan su?ul khatimah (kesudahan yang buruk).
>
> Ia berkata "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan
> baik atau buruk..
>
> Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang
> dilakukan olehnya
> selama di dunia.
>
> "Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai
> kisah yang
> diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara
> bagaimana
> seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa
> lalunya secara
> lahir batin.
>
> Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan
> kami tentang
> kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya
> tatkala ingat bahwa
> kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut
> mati. Peristiwa
> ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari
> itu, aku shalat
> khusyu? sekali.
>
> Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu..
> Aku kembali
> pada kebiasaanku semula ... Aku seperti tak pernah
> menyaksikan apa yang
> menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang
> lalu. Tetapi
> sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada
> yang namanya
> lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia
> kala.
>
> Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar
> dari dua
> orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan
> !.
>
> Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu .... sebuah
> kejadian
> menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang
> mengendarai
> mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di
> sebuah
> terowongan menuju kota .. Ia turun dari mobilnya untuk
> mengganti ban yang
> kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan
> ban serep,
> tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya
> dari arah
> belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.
>
> Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada
> peristiwa pertama
> cepat-cepat menuju tempat kejadian.
>
> Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi
> rumah sakit
> agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda,
> wajahnya
> begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua
> cukup panik,
> sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan
> sesuatu. Ketika
> kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa
> membedakan suara yang
> keluar dari mulutnya.
>
> Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur?an ... dengan
> suara amat lemah.
>
> "Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia
> masih sempat
> melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur?an ? Darah mengguyur
> seluruh
> pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.
> Dalam kondisi
> seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur?an
> dengan suaranya
> yang merdu.
>
> Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur?an
> se indah itu.
> Dalam batin aku bergumam sendirian "Aku akan
> menuntunnya membaca
> syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu
> ... apalagi
> aku sudah punya pengalaman." aku meyakinkan diriku
> sendiri. Aku dan
> kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan
> Al-Qur?an yang
> merdu itu.
>
> Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan
> menyelusup ke
> setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh
> kebelakang.
>
> Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu
> bersyahadat. Kepalanya
> terkulai, aku melompat ke belakang.
>
> Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada
> yang terasa..
> Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat,
> air mataku
> menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku.
>
> Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal.
> Kawanku tak
> kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan
> diriku. Aku terus
> menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil
> betul-betul
> sangat mengharukan. ...Sampai di rumah sakit .....Kepada
> orang-orang di
> sana , kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan
> peristiwa
> menjelang kematiannya yang menakjubkan.
>
> Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga
> tak sedikit
> yang meneteskan air mata.
>
> Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera
> menghampiri
> jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir
> memutuskan untuk
> tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan
> jenazah akan
> dishalatkan. . . Mereka ingin memberi penghormatan terakhir
> kepada
> jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya.
>
> Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah
> almarhum. Kami ikut
> mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. .
>
> Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan,
> sebetulnya
> almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu
> rutin ia
> lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni
> para janda,
> anak yatim dan orang-orang miski
====
Dahulu kala orang tua kita sering berujar “ Nak, Bangunlah pagi – pagi, jangan bangun kesiangan agar rezekimu “ tidak dipatok ayam “.
Begitulah kalimat kiasan yang biasa dilontarkan para orang tua untuk memotivasi anak – anaknya bangun pagi – pagi. Secara makna nasehat ada benarnya, sebab memang faktanya di waktu pagi itu banyak sekali terkandung kebaikan dan keberkahan.
Menarik memang, ketika agama Islam yang agung ini membahas masalah yang amat sepele oleh kebanyakan orang, misalnya soal bangun pagi, justru dari sisi inilah semakin nampak keindahan, totalitas ( menyeluruh ) dan kebenaran Islam. Oleh karena itu setiap muslim harus meyakini bahwa tidak ada perintah di dalam Islam yang tidak mengandung makna yang agung. Sebagaimana juga tidak ada larangan di dalam Islam yang tidak mengandung bahaya atau kesia – siaan.
Telah dicatat oleh sejarah bahwa kebiasaan bangun pagi lebih awal ( sebelum fajar ) merupakan ciri yang melekat pada orang – orang yang besar yang tercatat dalam sejarah. Demikian pula sebaliknya, pada umumnya salah satu ciri orang yang “bermasalah” adalah terlambat bangun. Perihal sebab orang susah bangun sebelum terbit fajar, Imam Hasan al Basri mengatakan, “ Itu karena dosa – dosamu mengikat dirimu.”
Rasulullah SAW menjamin bahwa siapa saja yang melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat subuh, maka ia telah mendapatkan kebaikan melebihi dunia dan seisinya. Apalagi jika sebelumnya shalat tahajjud ( qiyamullail ). Itu baru shalat sunnat, bagaimana lagi dengan shalat subuhnya yang memang statusnya fardhu.
Inilah kenikmatan yang pernah diungkapkan oleh Umar Bin Khattab,” Kalaulah bukan karena tiga hal niscaya aku tidak suka hidup di dunia ini; (tiga hal yang dimaksudkan) tilawah al-Quran,shalat malam/tahajjud (qiyamullail), dan berkumpul bersama – sama dengan teman seperjuangan.”
Belum lagi kita berbicara kesehatan jasmani, mental, dan kesegaran dalam berfikir, hal itu semuanya dapat diraih manfaatnya secara optimal di saat pagi. Makanya Rasulullah SAW secara khusus mendoakan orang – orang beriman yang cepat bangun pagi dengan doanya,” Ya Allah berkahilah ummatku yang biasa bangun pagi.” (HR Ahmad, Baihaqi,Ibnu Hibban dan Lainnya).Wallahu a’lam bish shawab.
Orang saleh, berakhlak karimah, dan orang bertaqwa adalah hanya berbeda dalam kata. Tetapi hakekatnya maknanya sama bahwa mereka adalah hamba Alloh yang baik.
Tiga karakteristik hamba yang baik itu adalah:
1) Ia sangat cinta kepada Alloh.
“...adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah...” (QS 2:165) dan itu dibuktikan dengan semangat ketaatan yang luar biasa pada sang Khalik serta ikhlas berjuang dijalan-Nya bahkan berkorban demi Kekasih-Nya. Jika seorang hamba melakukan karakteristik pertama ini, sungguh indah apa yang ia wakafkan tidak hanya hartanya, tetapi jiwa raganya pun ia wakafkan untuk mencuri hati Kekasih-Nya.
“Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS 2:207).
Ia bukan hanya penggemar melainkan penikmat tahajud. Yang pasti kita gampang menjumpai hamba yang sholeh ini karena setiap sholat fardu dilakukan terutama subuh ia “gantung hatinya” di masjid. Ia pun “penjaga wudhu” yang apik dan setia. Karena itulah ia disayang oleh Alloh SWT.
2) Hamba ini memiliki satu kesenangan unik: selalu gemar berbuat baik. Ia hanya bahagia bila sudah berbuat baik. Itulah cinta sejati the true love is pleasure of giving. Sifat dominan ilahiyah Ar-Rohman dan Ar-Rohim ada pada dirinya. Misi hidupnya jelas hanya “sharing” berkah. Setelah menerima lalu ia akan mengasih, demikian seterusnya. Itulah makna “terima kasih”.
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (Ad-Dhuha:11).
Dia akan selalu sukses di dunia dan di akherat karena sudah memiliki “kunci sukses” yaitu “belas kasih”.
“Sungguh Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu menolong hamba yang lain” demikian sabda Rasululloh SAW.
3) Dia sangat sibuk memperbaiki dirinya.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Hasyr:18).
Ia sama sekali tidak tertarik mencari kekurangan apalagi aib orang lain.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat:12).
Istighfar adalah amalannya, hatinya sangat halus, firasatnya sangat tajam, insting rahmatnya kuat, dan air matanya pun gampang menetes.
“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu”. (QS Al-Ira:109).
Rasululloh SAW bersabda: “Tidklah aku bangun dari tempat dudukku kecuali aku beristighfar 70 sampai dengan 100 kali”.
Subhanalloh, ternyata orang yang sangat mencintai Alloh itu sesungguhnya merasakan nikmat dalam “ketaatan”. Ia gemar berbuat baik dan ia pun asyik memperbaiki dirinya sendiri.
Alhamdulillah ikhwafillah....
Sumber: ustadz H.M. Arifin Ilham
====
Mengapa Bencana Terus Terjadi?
Bencana terjadi dimana-mana dan berulang. Kita jangan saling menyalahkan alam, pemerintah atau siapapun tapi koreksilah diri kita sendiri. Ini semua terjadi akibat manusia melalaikan aturan Alloh sehingga banyak terjadi bencana. Kita mesti banyak belajar dari kisah-kisah dalam Al Qur’an seperti kaum Saba, kaum A’ad, Tsamud dll.
Penyebabnya adanya bencana antara lain:
1. Banyak manusia mengenal haq Alloh tapi ....
tidak mau melaksanakannya QS 107 contohnya berapa rupiah untuk nyumbang masjid, panti asuhan? Berapa dana untuk kampanye caleg?
2. Senang membaca Al Qur’an tapi ....
tidak diamalkan hanya untuk lomba saja. Padahal suara wanita adalah aurat.
3. Mengaku cinta Rosul tapi ...
mengabaikan sunah & akhlaq Rosul. Bangsa Indonesia hanya bisa mewarisi sifat Rosul yang fathonah & tablig sementara sifat shidiq dan amanah? Kita lihat fenomena korupsi masih merajalela di negeri ini.
4. Ingin masuk syurga tapi ...
tidak punya misi hidupny untuk bekal hidup di akherat karena orientasinya dunia (program syurga dunia tidak punya visi akherat)
5. Takut siksa neraka tapi ...
tidak pernah mengindahkan ancaman neraka. Menghalalkan segala cara, tidak memikirkan halal atau haram yang penting ada kesempatan (merupakan salah satu program syetan).
6. Tau syetan itu musuh manusia tapi ...
justru dijadikan teman contohnya senang berbuat kemusyrikan misalnya ramalan Ketik REG ...
7. Senang membicarakan aib orang lain tapi ...
tidak pernah mengoreksi kesalahan sendiri (introspeksi/muhasabah) contohnya sesama partai saling menjelekan.
8. Gemar melakukan perbuatan dosa
9. Banyak manusia menghitung-hitung kebaikan padahal amal belum tentu diterima? Sholatnya belum tentu membawa ke syurga?
Sikap kita adalah:
Segera taubat nasuha
Segera kembali kepada Alloh karena adzab Allah datangnya tiba-tiba.
Meninggalkan perbuatan dosa dan orang-orang yang melakukan perbuatan dosa.
Hijrah yaitu meninggalkan larangan-larangan Alloh.
===
Nama-nama neraka dan penghuninya
Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan (QS 78:17)
1. Neraka Jahanam (QS 15:43)
Disediakan untuk para pengikut syaithan. Pengikut syaithan kebanyakan para wanita, mengapa demikian? karena dalam diri seorang wanita terdapat roh-roh syaithan.
Syaithan bentuknya ada 3 (tiga) yaitu:
a. Ucapan para dukun, peramal
b. Hawa nafsu (egoisme) QS 45:23
c. Mengkultuskan kepada seseorang
2. Neraka Syair (QS 84:12-13)
Disediakan untuk orang-orang kafir terhadap akherat (tidak percaya), juga untuk orang yang seneng bila mendapat rezeki dan marah ketika susah memperoleh rezeki.
3. Neraka Shaqor (QS 74:42-47)
Disediakan untuk orang yang tidak melaksanakan sholat, tidak mau memberi makan orang miskin, tukang gossip dll.
4. Neraka Jahim (QS 26:91)
Disediakan untuk mereka yang menyembah berhala, thagut (harta & tahta), juga untuk orang yang sesat.
5. Neraka Huthomah (QS 104:1-9)
Disediakan untuk para pengumpat & pencela.
6. Neraka Ladho (QS 70:15-18)
Disediakan untuk orang yang tidak beragama, menyimpan harta (kikir)
7. Neraka Hawiyah (QS 101:1-11)
Disediakan untuk orang yang ringan kebaikannya,
Semoga kita terhindar dari perbuatan yang akan menjerumuskan kita ke dalam neraka. Ya Rabb tunjukilah kmai jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS 1:6-7).