http://aslamiyah.cybermq.com/post/rss [25 Postingan terbaru AKU BISA! - Tafakur...] Copyright by CyberMQ! - All rights reserved. id http://www.cybermq.com/images/default/logo.cybermq.gif AKU BISA! http://www.cybermq.com Persahabatan setan & manuasia http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10527/persahabatan-setan--manuasia http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10527/persahabatan-setan--manuasia#comments Fri, 19 Mar 2010 21:28:09 +0700 Aslamiyah http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10527/persahabatan-setan--manuasia ===== Ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Entah bagaimana awalnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil tersenyum bergumam, "Orang ini memang boleh menjadi sahabatku..!" Begitu juga ketika waktu Zuhur orang ini tidak mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin, " Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!" Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam...... Kemudian ketika datang waktunya magrib, temannya itu ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya [...] =====

Ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Entah bagaimana awalnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil tersenyum bergumam, "Orang ini memang boleh menjadi sahabatku..!"


Begitu juga ketika waktu Zuhur orang ini tidak mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin, " Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!"


Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam......

Kemudian ketika datang waktunya magrib, temannya itu ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu.

Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan shalat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan diri lagi, dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan, "Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !"


Dengan keheranan manusia ini bertanya, "Kenapa engkau ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?". "Aku takut !", jawab setan dengan suara gemetar. "Nenek moyang ku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh sujud pada "Adam", telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang untuk bersujud pada-Nya (Sujud pada Allah). Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !", kata setan sambil beredar pergi.

 

 

"Sebarkanlah ajaranku walau hanya satu ayat" (Al Hadits)

 

 

]]>
Pantaskah Berharap Syurga Alloh http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10526/pantaskah-berharap-syurga-alloh http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10526/pantaskah-berharap-syurga-alloh#comments Fri, 19 Mar 2010 21:27:31 +0700 Aslamiyah http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10526/pantaskah-berharap-syurga-alloh ===== Ya Allah, tak pantas rasanya kami masuk ke Surga-Mu, Namun tak kuat diri ini menanggung azab di Neraka-Mu Maka ampunillah dosaku dengan Rahman dan Rahim-Mu. Assalamu’alaikum …… Apa Pantas Berharap Surga? Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek pula... Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, Dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan ..... "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, [...] =====

Ya Allah, tak pantas rasanya kami masuk ke Surga-Mu,

Namun tak kuat diri ini menanggung azab di Neraka-Mu

Maka ampunillah dosaku dengan Rahman dan Rahim-Mu.

 

Assalamu’alaikum ……

 

Apa Pantas Berharap Surga?

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua

rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk.

 

Sholat lima waktu?

Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek pula... Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, Dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan ..... "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

 

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya.... dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.

Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap ... Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas ... menuju sumber panggilan, .... kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh.... di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

 

Baca Quran sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi  meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada

Ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ..... ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas.

 

Apakah dengan begini kita sudah mengaku beriman dengan sebenarnya ?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka ...  untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, ......tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam .... dari sebaris kalimat Allah yang  baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka  dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan  Allah .... bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan  ayat-ayat Allah ..dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

 

Bersedekah jarang, begitu juga infak.

Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudahlah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum.

Apa sih susahnya senyum ?

Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah

 

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain.

Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya,... bahkan kepada musuhnya sekali pun.

Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

 

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, .... ya tetangga sebelah kiri.

Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh,tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan.

Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel... setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka...atau mendapatkan bencana.

 

Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini ?

Adakah  pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak ?

 

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya .... kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah Indah pula.

 

Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu?

Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri ?

 

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun ... selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan ... dengan segenap cinta.

Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

 

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih.

Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah?

Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat ...... masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat

bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan?

Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu.

Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu... hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka ?  Jangan tunggu penyesalan. .....

 

Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan orang tua .... ketika iedul Fitri yang baru berlalu ....??? Apakah hari itu....hanya hari biasa yang dibiarkan berlalu tanpa makna...... ..???

Apakah siang harinya....kita sudah mengantuk....dan akhirnya tertidur lelap. .?

Apakah kita merasa sulit tuk meneteskan air mata...??? atau bahkan kita menganggap cengeng......??? sampai sekeras itukah hati kita....???

 

Ya...Allah ....ya Rabb-ku......jangan Kau paling hati kami menjadi hati yg

keras......, sehingga meneteskan air matapun susah.......merasa bersih......merasa suci.... merasa tak bersalah......merasa tak butuh orang lain...... merasa modernis.....dan visionis......... Padahal dibalik cermin masa depan yang kami banggakan..... terlukis bayang hampa tanpa makna.....dan kebahagiaan semu penuh ragu.....

 

Astaghfirullaah ......Yaa Allah...ampunilah segenap khilaf kami. Amin

 

]]>
Aku Tak Perlu Berunding Dengan Mereka http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10525/aku-tak-perlu-berunding-dengan-mereka- http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10525/aku-tak-perlu-berunding-dengan-mereka-#comments Fri, 19 Mar 2010 21:26:15 +0700 Aslamiyah http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10525/aku-tak-perlu-berunding-dengan-mereka- ===== ADA yang selalu membuat Ali bin Abi Thalib keheranan. Ali yang masih remaja sering bingung mengapa kaum Quraisy menyembah batu-batu. Dulu ia sering dibawa ayahnya tawaf mengelilingi Ka’bah sambil mengangkat berhala yang mereka puja. Namun sepanjang melakukan upacara, Ali tak kunjung mengerti apa gerangan manfaatnya mengagung-agungkan patung yang dibuat oleh manusia sendiri. Setelah tinggal bersama Muhammad, ia tidak pernah mengalaminya lagi. Sebab, saudara sepupunya itu beserta seluruh keluarganya tidak pernah mengerjakannya. Pada suatu malam, tanpa sengaja Ali memasuki ruang dalam rumah. Alangkah heran dan terkejutnya ketika dilihatnya Muhammad dan istrinya sedang melakukan perbuatan ganjil. Mereka rukuk dan sujud bersama menghadapi [...] =====

ADA yang selalu membuat Ali bin Abi Thalib keheranan. Ali yang masih remaja sering bingung mengapa kaum Quraisy menyembah batu-batu. Dulu ia sering dibawa ayahnya tawaf mengelilingi Ka’bah sambil mengangkat berhala yang mereka puja. Namun sepanjang melakukan upacara, Ali tak kunjung mengerti apa gerangan manfaatnya mengagung-agungkan patung yang dibuat oleh manusia sendiri.

 

Setelah tinggal bersama Muhammad, ia tidak pernah mengalaminya lagi. Sebab, saudara sepupunya itu beserta seluruh keluarganya tidak pernah mengerjakannya.

 

Pada suatu malam, tanpa sengaja Ali memasuki ruang dalam rumah. Alangkah heran dan terkejutnya ketika dilihatnya Muhammad dan istrinya sedang melakukan perbuatan ganjil. Mereka rukuk dan sujud bersama menghadapi tempat kosong tanpa ada patung di mukanya.

 

Sesudah selelsai, Ali memberanikan diri bertanya, “Apa yang tengah kalian lakukan, wahai kemenakan ayahku? Kepada siapa engkau bersujud? Aku tidak menemukan berhala di ruangan ini….”

 

Sembari tersenyum, Muhammad menjawab, “Kemarilah Ali. Kami menyembah Tuhan yang telah menciptakan alam ini, dan memberi tugas kepadaku agar mengajak segenap umat manusia untuk bersujud kepada-Nya, karena aku telah dibangkitkan menjadi nabi dan utusan-Nya.”

 

Rasulullah kemudian menjelaskan tentang Islam sekadarnya. Dengan sabar dibacakan pula beberapa surah pendek dari Alquran, dan diterangkan makna serta tafsirnya. Barulah setelah itu Rasulullah berkata, “Nah Ali, aku mengajakmu untuk menganut agama Islam.”

 

Ali terdiam. Ia dilanda kembimbangan. Ia masih belum tahu apa-apa tentang itu. Bertahun-tahun Ali dijejali dengan ajaran tentang Lata, Uzza dan Manat. Sekarang hanya dalam sekejap, ia diajak untuk meyakini sesuatu yang baru. Ali sejenak menimbang-nimbang. Lata, Uzza dan Manat hanya berupa patung-patung batu atau kayu. Rasanya mustahil sekali mereka bisa mendatangkan bahaya apalagi manfaat. Ali tahu sekali bahwa patung-patung itu dibikin oleh manusia biasa, yang lemah dan tidak berdaya. Bahkan yang menatahnya adalah kuli-kuli atau hamba sahaya.

 

Bagi Ali, mungkin inilah saatnya untuk meyakini sesuatu yang lebih sejati. Apalagi ia tahu Muhammad itu seorang yang tidak pernah berbohong, sangat amanah dan berahlak amat baik. Namun, berpindah keyakinan merupakan pilihan yang berat dan keputusan itu menyangkut seluruh kehidupannya kelak. Maka dari itu rasanya ia perlu meminta izin untuk merenungkan dan kemudian merundingkannya lebih dulu dengan ayahnya, Abu Thalib.

 

Rasulullah mengangguk. “Ya, sebaiknya begitu. Namun, tidak juga tidak apa-apa…”

 

Maka, sepanjang malam itu Ali berguling-gelisah di tempat tidurnya. Ia tak dapat memicingkan mata sekejap pun. Di dadanya bagaikan terdapat sebuah pisau yang mengiris-ngiris tajam merampas semua pedalaman jiwanya. Ia ragu, apakah ayah dan keluarganya akan menyetujui pilihannya? Apakah mereka takkan mengalangi-halanginya? Kalau mereka keberatan, bagaimana ia mesti bertindak? Tetap pada pendiriannya, berarti melawan mereka; atau terpaksa menyerah, berarti mengorbankan hati nurani sendiri dan menggadaikan ketenteraman batinnya. Ajaran baru dari Muhammad itu memang benar-benar bisa membuatnya tenang dan yakin.

 

Akhirnya, pagi-pagi sekali, ia menjumpai Rasulullah. Kepada saudara sepupunya itu ia berkata, “Aku urungkan niatku semula…”

 

Rasulullah agak terkejut mendengar perkataan Ali. Namun ia diam saja, “Apa yang kauurungkan?” tanyanya kemudian.

 

“Meminta izin kepada ayahku agar aku masuk Islam.” Jawab Ali tegas.

 

“Maksudmu?” tanya Rasulullah, seakan tengah berusaha menjajaki isi hati anak muda itu.

 

“Rasululllah, Allah telah menciptakan aku tanpa harus berunding dahulu dengan kedua orang tuaku. Mengapa untuk beriman dan mengabdi kepadaNya aku harus berunding dulu dengan mereka?”

 

Rasulullah memandangi Ali. Ia tahu, di wajah anak itu ada sebuah kesungguhan yang amat dalam yang kelak akan membuat Islam semakin tegak dan kokoh. “Ali, kau ingat, mengapa aku mengatakan kau boleh berunding atau pun tidak dengan orang tuamu?”

 

Ali terdiam. Tanpa menunggu jawaban Ali, Rasulullah menyambung perkataannya, “Sebab kadang-kadang, untuk keselamatan iman di satu pihak dan keselamatan hubungan kekeluargaan di pihak lain, memeluk Islam bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tanpa perlu ada yang tahu. Bukankah menjadi muslim adalah hubungan antara hamba dan Tuhannya saja dari segi keimanan? Adapun yang bersangkutan dengan sesama manusia adalah segi muamalah—walaupun dengan kedua orang tuamu. Artinya dalam masalah keimanan, hanya Allah yang tahu. Sedangkan dalam perilaku keseharian, umat Islam harus menampilkan sikap hidup yang lebih santun dan penuh kasih sayang.”

 

 

]]>
Bila Cinta Tak Berbalas http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10524/bila-cinta-tak-berbalas http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10524/bila-cinta-tak-berbalas#comments Fri, 19 Mar 2010 20:49:36 +0700 Aslamiyah http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10524/bila-cinta-tak-berbalas ===== “Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya. Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para ikhwan? Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang pujaan hati yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup menampik khitbah kita. Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci sang ikhwan bertepuk sebelah tangan. Ya drama kehidupan menuju mahligai pelaminan memang beragam. Ada yang menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah perjalanan karena cintanya tak bertaut dalam maghligai [...] =====

“Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi
rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan
semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.

Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para
ikhwan? Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang
pujaan hati yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi
perjalanan hidup menampik khitbah kita. Segala asa yang pernah coba
ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci sang ikhwan bertepuk sebelah
tangan.

Ya drama kehidupan menuju mahligai pelaminan memang beragam. Ada yang
menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh
onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah perjalanan karena cintanya
tak bertaut dalam maghligai pernikahan.

Ini bukan saja dialami oleh para ikhwan, kaum akhwat pun bisa
mengalaminya. Bedanya, para ikhwan mengalami secara langsung karena
posisi mereka sebagai subyek/pelaku aktif dalam proses melamar.
Sehingga getirnya kegagalan cinta -seandainya memang terasa getir-
langsung terasa. Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman
tersembunyi karena mereka umumnya berposisi pasif, menunggu pinangan.
Tapi manakala sang ikhwan yang didamba memilih berlabuh dihati yang
lain kekecewaan juga merebak dihati mereka.

Mengambil sikap

Ikhwan dan akhwat rahimakumullah, siapapun berhak kecewa manakala
keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan kecewa adalah
bagian dari gharizatul baqa (naluri mempertahankan diri) yang Allah
ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia, bukan
onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot yang bergerak
tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa
bergembira tapi juga bisa kecewa.

Emosi negatif, seperti perasaan kecewa akibat tertolak, bukannya tanpa
hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan manusia, bahkan akan
meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan baik maka
akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu
lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa
ataupun bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita
ternyata bisa kecewa? Karena berarti kita adalah manusia seutuhnya.

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru awal dari
segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada benarnya; ambillah
pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri. Tentu
saja itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT.

Agar kegagalan mengkhitbah tidak menjadi petaka, maka ikhwan dan
akhwat, persiapkanlah diri sebaik-baiknya, ada beberapa langkah yang
bisa diambil:

Percayai qadla
Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua
keinginannya selalu terpenuhi. Padahal ditolak adalah salah satu
bagian dari kehidupan kita. Kata seorang kawan, hidup itu adakaanya
tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita
renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai
seorang pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku
bangsa, dan sebagainya. Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang
berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa
menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan
penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian menjadi
alaqah kemudian menjadi janin, lalu Allah mengutus malaikat dan
diperintahkannya dengan empat kata dan dikatakan padanya: tulislah
amalnya, rizkinya dan ajalnya. (HR.Bukhari).
Maka kokohkanlah keimanan saat momen itu terjadi pada
kita. Yakinilah skenario Allah tengah berlangsung, dan jadilah
penyimak yang baik dengan penuh sangka yang baik padaNya. Tanamkan
dalam diri kita Allah Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hambaNya
Jangan biarkan kekecewaan menggerogoti keimanan kita
kepadaNya. Apalagi dengan terus menanamkan prasangka buruk padaNya.
Segerahlah sadar bahwa ini adalah ujian dari Allah. Akankah kita
menerima qadla-Nya atau merutuknya?
Dengan demikian, fragmen yang pahit dalam kehidupan
InsyaAllah akan memperkuat keyakinan kita bahwa Allah sayang pada
kita. Demikian sayangnya, sampai-sampai Allah tidak rela menjodohkan
kita dengan si fulan yang kita sangka sebagai pelabuhan cinta kita.

Bersiap untuk cinta dan bahagia
“Seandainya ukhti menjadi istri saya, saya berjanji akan
membahagiakan ukhti,” demikian ungkapan keinginan para ikhwan terhadap
akhwat yang akan mereka lamar. Puluhan, mungkin ratusan angan-angan
kita siapkan seandainya si dia menerima pinangan cinta kita. Kita
begitu siap untuk berbahagia dan membahagiakan orang lain. Sama
seperti banyak orang yang ingin menjadi kaya, tenar dan dipuja banyak
orang.
Sayang, banyak diantara kita yang belum siap untuk merasa
kecewa. Dan ketika impian itu berakhir kita seperti terhempas. Tidak
percaya bahwa itu bisa terjadi, ada akhwat yang berani menolak
pinangan kita. Bila kurang waras, mungkin akan keluar ucapan,
“berani-beraninya…” atau “apa yang kurang dari saya…..”
Akhi dan ukhti, jangan biarkan angan-angan membuai kita
dan membuat diri menjadi tulul amal, panjang angan-angan. Sadarilah
semakin tinggi angan membuai kita, semakin sakit manakala tak tergapai
dan terjatuh. Ambillah sikap simbang setiap saat; bersiap diri menjadi
senang sekaligus kecewa. Sikap itu akan menjadi buffer penyangga
mental kita, apapun yang terjadi kelak.
Manakala kenyataan pahit yang ada di depan mata, sang
akhwat menolak khitbah kita atau sang ikhwan memilih bunga yang lain,
hati ini tidak akan tercabik. Yang akan datang adalah keikhlasan dan
sikap lapang dada. Demikian pula saat ia menjatuhkan pilihannya pada
kita, hati ini akan bersyukur padaNya karena doa terkabul, keinginan
menjadi kenyataan.
“Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya
urusannya seluruhnya baik dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang
kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur maka
hal itu baik baginya, dan jika menderita kesusahan ia bersabar maka
hal itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim).

Bukan Aib
Ditolak? Emang enak! Wah, mungkin demikian pikiran
sebagian ikhwan. Malu, kesal dan kecewa menjadi satu. Tapi itulah
bentuk perjuangan menuju pernikahan. Kita tidak akan pernah tahu
apakah sang pujaan menerima atau menolak kita, kecuali setelah
mengajukan pinangan padanya. Manakala ditolak tidak usah malu, bukan
cuma kita yang pernah ditolak, banyak ikhwan yang senasib dan
sependeritaan.
Saatnya berjiwa besar ketika ditolak. Tidak perlu merasa
terhina. Demikian pula saat banyak orang tahu hal itu. Bukankah apa
yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar? Mengapa mesti malu.

Kita mungkin takkan Bahagia
Marah-marah karena lamaran tertolak? Mendoakan keburukan
pada ikhwan/akhwat yang tidak mencintai kita? Itu bukan sikap seorang
muslim/muslimah yang baik. Tidak ada yang bisa melarang seseorang
untuk jatuh cinta maupun menolak cinta. Sebagaimana kita punya hak
untuk mencintai dan melamar orang, maka ada pula hak yang diberikan
agama pada orang lain untuk menolak pinangan kita. Bahkan dalam
kehidupan rumah tangga pun seorang suami dan istri diberikan hak oleh
Allah SWT. Untuk membatalkan sebuah ikatan pernikahan.
Mengapa ada hak penolakan cinta yang diberikan Allah pada
kita? Bahkan dalam pernikahan ada pintu keluar perceraian. Jawabannya
adalah sangat mungkin manusia yang jatuh cinta atau setelah membangun
rumah tangga, ternyata tak kunjung memperoleh kebahagiaan (al hanaah)
dari pasangannya, maka tiada guna mempertahankan sebuah bahtera rumah
tangga bila kebahagiaan dan ketentraman tak dapat diraih. Wallahu
aflam bi ash shawab.
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh
rujuk lagi dengan cara yang mafruf atau menceraikan dengan cara yang
baik.” (QS. Al-Baqarah [2] : 229).
Berpikir positiflah manakala cinta tak berbalas. Belum tentu kita
memperoleh kebahagiaan bila hidup bersamanya. Apa yang kita pandang
baik secara kasat mata, belum tentu berbuah kebaikan di kemudian hari.
Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita
idamkan begitu menggoda. Tapi bila ternyata cinta kita bertepuk
sebelah tangan, untuk apa semua kita pikirkan lagi? Allah Maha
Pangatur, ia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang
memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin
lebih dari yang kita harapkan.
Be positive thinking, suatu hari kelak ketika antum telah
menikah dengan orang lain -bukan dengan si dia yang antum idamkan-
niscaya antum takjub dengan kebahagiaan yang antum rasakan. Percayalah
banyak orang yang telah merasakan hal demikian.

Saya tak mungkin berbahagia tanpanya
Ini adalah perangkap, ia akan memenjarakan kita terus
menerus dalam kekecewaan. Perasaan ini juga menghambat kita untuk
mendapatkan kesempatan berbahagia dengan orang lain. Mereka yang terus
menerus mengingat orang yang pernah menolaknya, dan masih terbius
dengan angan-angannya sebenarnya tengah menyiksa perasaan mereka
sendiri dan menutup peluang untuk bahagia.
Mari berpikir jernih, untuk apa memikirkan orang lain
yang sudah menjalani kehidupannya sendiri? Jangan biarkan orang lain
membatalkan kebahagiaan kita. Diri kitalah yang bisa menciptakannya
sendiri. Untuk itu tanamkan optimisme dan keyakinan terhadap qadla
Allah SWT. Insya Allah, akan ada orang yang membahagiakan kita kelak.

Cinta membutuhkan waktu
“Maukah ukhti menjadi istri saya? Saya tunggu jawaban
ukhti dalam waktu 1 X 24 jam!” Masya Allah, cinta bukanlah martabak
telor yang bisa di tunggu waktu matangnya. Ia berproses, apalagi
berbicara rumah tangga, pastinya banyak pertimbangan-pertimbangan yang
harus dipikirkan. Ada unsur keluarga yang harus berperan. Selain juga
ada pilihan-pilihan yang mungkin bisa diambil.
Jadi harap dipahami bila kesempatan datangnya cinta itu
menunggu waktu. Seorang akhwat yang akan dilamar -contoh extrim pada
kasus diatas- bisa jadi tidak serta merta menjawab. Biarkanlah ia
berpikir dengan jernih sampai akhirnya ia melahirkan keputusan. Jadi
cara berpikir seperti di atas sebenarnya lebih cocok dimiliki anggota
tim SWAT ketimbang orang yang berkhitbah

Ideal bagus, Tapi realistik adalah sempurna
“Suami yang saya dambakan adalah yang bertanggungjawab
pada keluarga, giat berdakwah dan rajin beribadah, cerdas serta
pengertian, penyayang, humoris, mapan dan juga tampan.” Itu mungkin
suami dambaan anda duhai Ukhti. tapi jangan marah bila saya katakan
bahwa seandainya kriteria itu adalah harga mati yang tak tertawar,
maka yang ukhti butuhkan bukanlah seorang ikhwan melainkan kitab-kitab
pembinaan.
Kenyataannya tidak ada satupun lelaki didunia ini yang
bisa memenuhi semua keinginan kita. Ada yang mapan tapi kurang
rupawan, ada yang rajin beribadah tapi kurang mapan, ada yang giat
dakwah dakwah tapi selalu merasa benar sendiri, dan sebagainya.
Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki kriteria bagi
calon suami/istri kita, tapi realistislah, setiap menusia punya
kekurangan sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah adalah orang-orang
yang berani menerima kekurangan pasangannya, bukan orang-orang yang
sempurna. Tapi berpikir realistis terhadap orang yang akan melamar
kita, atau yang akan kita lamar, adalah kesempurnaan.
Maka doa kita kepada Allah bukanlah, “berikanlah
padaku pasangan yang sempurna” tetapi “ya Allah, karuniakanlah padaku
pasangan yang baik bagi agamaku dan duniaku.”

Kekuatan Ruhiyah
Percaya diri itu harus, tapi overselfconfidence adalah
kesalahan. Jangan terlalu percaya diri akhi bahwa lamaran antum
diterima. Jangan juga terlalu yakin ukhti, bahwa sang pujaan akan
datang ke rumah anti. Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada
seorang pun yang tahu kapan dan dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta
dan berjodohan tidak mengenal status dan identifikasi fisik. Bukan
karena ukhti cantik maka para ikhwan menyukai ukhti. Juga bukan karena
akhi seorang hamalatud dafwah lalu setiap akhwat mendambakannya.
Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain menurut
persepsi kita. Bukankah sering kita melihat seseorang yang menurut
kita “luar biasa” berjodoh dengan yang biasa-biasa saja. Seperti
seringnya kita melihat pasangan yang ganteng dan cantik, populer tapi
kemudian berpisah. Inilah rahasia cinta dan perjodohan, tidak bisa
terukur dengan ukuran-ukuran manusia.
Maka landasilah rasa percaya diri kita dengan sikap
tawakal kepada Allah. Kita berserah diri kepadaNya akan keputusan yang
ia berikan. Jauhilah sikap takkabur dan sombong. Karena itu semua
hanya akan membuat diri kita rendah dihadapan Allah dan orang lain.
Intinya saya bermaksud mengatakan jangan ke-ge-er-an dengan segala
title dan atribut yang melekat pada diri kita.

Beri cinta kesempatan (lagi)
“… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang
kafir.” (QS. Yusuf [12] : 87).
Bersedih hati karena gagal bersanding dengan dambaan hati wajar
adanya. Tapi bukan alasan untuk menyurutkan langkah berumah tangga.
Dunia ini luas, demikian pula dengan orang-orang yang mencintai kita.
Kegagalan cinta bukan berarti kita tidak berhak bahagia atau tidak
bisa meraih kebahagiaan. Bila hari ini Allah belum mempertemukan kita
dengan orang yang kita cintai, Insya Allah ia akan datang esok atau
lusa, atau kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari
kekuasaanNya.
Cinta juga berproses. Ia membutuhkan waktu. Ia bisa
datang dengan cepat tak terduga atau mungkin tidak seperti yang kita
harapkan. Ada orang yang dengan cepat berumah tangga, tapi ada pula
yang merasakan segalanya berjalan lambat, namun tidak pernah ada kata
terlambat untuk merasakan kebahagiaan dalam pernikahan. Beri
kesempatan diri kita untuk kembali merasakan kehangatan cinta. glove
is knocking outside the doorh. Tidak pernah ada kata menyerah untuk
meraih kebahagiaan dalam naungan ridhoNya. Yang pokok, ikhwan atau
akhwat yang kelak akan menjadi pasangan kita adalah mereka yang
dirihoi agamanya.
“Jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho
agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak
melakukannya maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang
nyata.” (HR. Turmudzi).
“Wanita dinikahi karena satu dari tiga hal; dinikahi
karena hartanya, dinikahi karena kecantikannya, dinikahi karena
agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama dan akhlak (mulia) niscaya
selamat dirimu.” (HR. Ahmad)

 

 

]]>
Tanda-tanda Kiamat http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10523/tanda-tanda-kiamat http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10523/tanda-tanda-kiamat#comments Fri, 19 Mar 2010 20:46:28 +0700 Aslamiyah http://aslamiyah.cybermq.com/post/detail/10523/tanda-tanda-kiamat ===== Assalamualaikum ww. wb 1) Penaklukan Baitulmuqaddis Dari Auf b. Malik r.a. katanya,Rasulullah s.a.w telah bersabda: "Aku menghitung 6 perkara menjelang hari kiamat." Baginda menyebutkan salah diantaranya, ia itu penaklukan Baitulmuqaddis." - Sahih Bukhari ~ sudah mulaikan?... (fyi, hari ini kaum militan Yahudi sedang berusaha mengepung dan membakar masjid Al Aqsa. Sedangkan Palestina berusaha mempertahankan. Mari kita berdoa utk kejayaan dan kemuliaan Islam) 2) Zina merajalela. "Dan tinggallah manusia2 yang buruk, yang seenaknya melakukan persetubuhan [...] =====

Assalamualaikum  ww. wb

 

1) Penaklukan Baitulmuqaddis

   Dari Auf b. Malik r.a. katanya,Rasulullah s.a.w telah bersabda:

   "Aku menghitung 6 perkara menjelang hari kiamat." Baginda menyebutkan salah 

   diantaranya, ia itu penaklukan  Baitulmuqaddis." - Sahih Bukhari

 

   ~ sudah mulaikan?...

 

   (fyi, hari ini kaum militan Yahudi sedang berusaha mengepung dan membakar masjid

   Al Aqsa. Sedangkan Palestina berusaha mempertahankan. Mari kita berdoa utk

   kejayaan dan kemuliaan Islam)

 

 

2) Zina merajalela.

    "Dan tinggallah manusia2 yang buruk, yang seenaknya melakukan persetubuhan

   seperti himar  (keledai).  Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang."  -

   Sahih Muslim

 

   ~ sudah keliatankan?...

 

 

3) Alat musik merajalela.

   "Pada akhir zaman akan terjadi tanah runtuh, kerusuhan & perubahan muka."

   Ada yang bertanya kepada Rasulullah; "Wahai Rasulullah bila hal ini terjadi?" Baginda

   menjawab; "Apabila telah merajalela bunyian (musik) & penyanyi2 wanita" –Ibnu Majah

 

   ~ Indonesia Idol, Akademi Fantasi dll

 

 

4) Menghias masjid & membanggakannya.

  "Di antara tanda2 telah dekatnya kiamat ialah manusia bermegahan dalam mendirikan

   masjid" - Riwayat Nasai.

 

   ~ terlihat sudah masjid2 besar tanpa jamaah...

 

5) Munculnya kekejian, memutuskan kerabat & hubungan yang tidak baik dengan tetangga.

   "Tidak akan datang kiamat sehingga banyak perbuatan & perkataan keji, memutuskan 

   hubungan silaturahim & sikap yang buruk dalam  tetangga." - Riwayat Ahmad dan Hakim.

 

   ~ ada anak tidak mengakui orang tua karena malu

 

 

6) Banyak orang soleh meninggal dunia.

    "Tidak akan datang hari kiamat sehingga Allah mengambil orang2 yang baik & ahli agama 

     di muka bumi,maka tiada yang tinggal padanya kecuali orang2 yang hina & buruk yang

     tidak mengetahui yang makruf dan tidak mengingkari kemungkaran" - Riwayat Ahmad

 

   ~ boleh kita hitung berapa ulama besar yang masih hidup.. .

 

 

 

 

7) Orang yang hina mendapat kedudukan terhormat.

    "Di antara tanda semakin dekatnya kiamat ialah dunia akan dikuasai oleh Luka bin

     Luka(orang yang bodoh & hina). Maka orang yang paling baik ketika itu ialah orang yang

     beriman yang  diapit oleh 2 orang mulia" - Riwayat Thabrani

 

     ~ george bush

 

8) Mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya saja.

  "Sesungguhnya di antara tanda2 telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mau

  mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja." - Riwayat Ahmad

 

   ~ Terkadang sesama muslim kenal pun tidak bertegur sapa...

 

9) Banyak wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang.

  Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. "Di antara tanda2 datangnya hari kiamat ialah akan

  muncul pakaian2 wanita & apabila mereka memakainya keadaannya seperti telanjang".

 

   ~ Pakaian zaman sekarang ini (tube, spaghetti strap, g-string dll)

 

 

10) Bulan sabit kelihatan besar.

    "Di antara tanda2 telah dekatnya hari kiamat ialah menggelembung (membesarnya) bulan 

    sabit." - Riwayat Thabrani

 

    ~ Gak percaya lihat saja sendiri...

 

11) Banyak dusta & tidak tepat dalam menyampaikan berita.

     "Pada akhir zaman akan muncul pembohong2 besar yang datang kepadamu dengan  

     membawa berita2 yang belum pernah kamu dengar & belum pernah didengar oleh

     bapa2 kamu sebelumnya, kerana itu jauhkanlah dirimu dari mereka agar mereka tidak

     menyesatkanmu & memfitnahmu"  - Sahih Muslim -

 

    ~ coba baca majalah2 yang popular sekarang ini...

 

12) Banyak saksi palsu & menyimpan kesaksian yang benar.

     "Sesungguhnya sebelum datang-nya hari kiamat akan banyak kesaksian palsu &

     disembunyikan kesaksian yang benar." -Riwayat Ahmad

 

    ~ lihat ke perang Iraq

 

 

13) Negara Arab menjadi padang rumput & sungai.

     "Tidak akan datang hari kiamat sehingga negeri Arab kembali menjadi padang rumput &

      sungai2"   - Sahih Muslim

 

    ~ Dubai sudah turun salju... Mina sudah kena banjir

 

 

 

 

 

 

 

]]>